Era Kelam Saat Api Membumihanguskan Kota London - Male Indonesia
Era Kelam Saat Api Membumihanguskan Kota London
Gading Perkasa | Story

Pada 1666, kebakaran hebat terjadi di kota London yang mengakibatkan 70 % bagian kota habis terbakar. Jumlah korban jiwa mencapai delapan orang. Parahnya, kebakaran itu meniadakan apa yang sekarang disebut sebagai “kota tua London”.

wikimedia commons

Api berkobar selama lima hari tanpa henti karena upaya pemadaman kebakaran saat itu terbatas, terutama ketika api menyebar luas. “Great Fire London” memperlihatkan betapa lemahnya keamanan umum di kota London.

Belakangan diketahui, bahwa pembentukan badan pemadam kebakaran dan asuransi bencana kebakaran pertama baru dilakukan setelah bencana dahsyat tersebut.

Pemicu Kebakaran
Kebakaran di kota London sebenarnya bisa ditanggulangi jika ada kesadaran dari ‘pelaku’ yang tidak sengaja menyulut api, untuk bertindak cepat.

Thomas Farriner, pembuat roti kerajaan, melakukan aktivitas memanggang roti hingga pukul 10 malam di tokonya di Pudding Lane, 1 September 1666. Menurut laporannya, ia telah memadamkan oven sebelum naik ke kamarnya di lantai dua.

Sekitar tengah malam, Farriner terbangun akibat asap yang muncul dari lantai bawah. Mengira bahwa api yang membesar terlalu sulit dimatikan, ia bersama keluarga dan pelayannya kabur dari rumah itu dengan melompati atap rumah tetangganya.

Hanya satu orang pelayan yang tetap tinggal karena takut ketinggian. Pelayan itu pun diketahui meninggal, dan menjadi korban pertama yang secara resmi diketahui dalam peristiwa tersebut.

Awalnya api hanya membakar rumah milik Farriner saja. Namun tidak lama sesudahnya, angin besar muncul dan meniupkan bara api ke lapangan yang berisi rumput kering. Seketika kobaran api membesar.

Posisi rumah di London yang saling berhimpitan saat itu, ditambah material mudah terbakar, dan hembusan kencang angin, menjadi kolaborasi sempurna untuk membumihanguskan kota London.

Daerah pertama yang terbakar adalah blok tempat toko Farriner berada. Api merambah ke seluruh penjuru kota usai tong berisi anggur, lampu minyak, damar, dan berbagai minuman keras yang tersimpan di gudang tersulut api.

Orang-orang berlarian ke Sungai Thames, menaiki perahu dan lari ke tempat yang aman. Setelah angin hilang, banyak dari mereka berupaya memadamkan api dengan cara seadanya, merobohkan rumah yang belum terbakar agar api tidak membesar.

Kerusakan yang ditimbulkan akibat Great Fire London sangat parah. Sedikitnya 13.200 rumah habis dilalap si jago merah, 85 gereja roboh, 100.000 orang kehilangan tempat tinggal. 160 hektar tanah yang hancur mayoritas adalah lahan huni.

Begitu keadaan dirasa membaik, para arsitek London merancang sebuah kota baru. Mereka membuat penataan kota yang dapat dikatakan lebih baik dari sebelumnya. Penataan seimbang antara wilayah pemukiman, bisnis, pusat hiburan, dan fasilitas lain. [GP]

SHARE