Lika-Liku Robin Van Persie yang Dipuja dan Dihina | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Lika-Liku Robin Van Persie yang Dipuja dan Dihina
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Robin Van Persie pernah merasakan gemerlap karier di klub-klub besar Eropa. Kenangan paling berkesan tentunya saat ia berlabuh ke Arsenal selama delapan musim.

wikimedia commons

Di klub London Utara itu, namanya mulai bersinar. Robin Van Persie juga sempat merasakan kejayaan bersama Setan Merah, Manchester United. Tapi siapa sangka, di balik itu semua, RVP hampir gagal berkarier di sepak bola.

Saat di bangku sekolah, ia diharuskan mengambil salah satu kejuruan demi kariernya. Ia pun berencana melakukan pelatihan sebagai seorang sales.

“Pilihannya saat itu adalah sales, karena paling mudah. Namun, saya ingin membuat sesuatu di olahraga,” ujar Van Persie.

Van Persie sebenarnya sejak usia lima tahun telah ikut sekolah sepak bola lokal di Excelsior, Rotterdam, Belanda. Hanya saja, ia tak membayangkan bahwa dirinya bakal berkecimpung di lapangan hijau.

Pada umur 16 tahun, ia diterima di Feyenoord. Cedera yang menimpa para pemain di skuat utama Feyenoord membuat Van Persie lebih cepat dipromosikan. Ia memulai debutnya pada 2001/02.

Usai laga perdananya, ia menerima penghargaan dari federasi sepak bola Belanda (KNVB) sebagai pemain muda bertalenta. Kontrak profesional bersama Feyenoord pun dijalaninya selama kurang lebih tiga musim.

Musim panas 2004, Arsenal meminangnya dengan kontrak sebesar 2,35 juta Poundsterling. Niatnya mengikuti jejak seniornya, Dennis Bergkamp, sulit terlaksana. Badai cedera kerap menghantui pemain berkaki kidal ini.

Pulih dari cedera, Van Persie tampil menggila. Bersama rekan setimnya, Thierry Henry, ia menjadi striker paling disegani di ranah Liga Inggris dan Liga Champions.

Di musim 2011/2012, ia mencatatkan namanya sebagai top skor Liga Inggris, dengan torehan 30 gol. Sungguh prestasi yang membuat para pendukung The Gunners terhibur, mengingat performa klub yang tengah terpuruk kala itu.

Sampai-sampai, suporter Arsenal membawakan nyanyian atau chant khusus bagi van Persie. “He scores when he want. He scores when he want. Oh Robin van Persie, he scores when he want”.

Namun semuanya berubah. Ia dicerca oleh fans Arsenal seiring kepindahannya ke klub rival, Manchester United. Kisah manis bersama The Gunners delapan musim sirna begitu saja.

Ia yang awalnya dielu-elukan di London Utara, lantas dianggap sebagai pengkhianat. Pendukung Arsenal semakin dibuat merana kala menyaksikan Van Persie mengangkat trofi Premier League bersama Manchester United, sesuatu yang tak pernah diperolehnya saat berseragam Arsenal.

Tidak berhenti di situ saja. Van Persie kian dibenci pendukung Arsenal usai mencetak gol ke gawang mantan klubnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, tiga gol ia sarangkan ke gawang Arsenal dalam dua musim.

Dari 86 gol yang dibukukan oleh Manchester United di musim 2012/2013, 41 di antaranya adalah kontribusi Van Persie. Rinciannya, 26 gol dan 15 assist. Semua kelihatan berjalan mulus baginya di Theatre of Dreams.

Namun, kepindahannya ke Fenerbahce di musim panas 2015 mengindikasikan bahwa Van Persie tidak meninggalkan MU secara baik-baik.

Memang dalam akun Instagram resminya, RVP berterima kasih kepada seluruh fans yang mendukungnya, Arsenal, serta Manchester United. Hanya saja, ia tak mengatakan satu patah kata pun mengenai Louis Van Gaal.

Seperti dilansir dari The Mirror, disinyalir terjadi insiden di hari kedua latihan usai kembalinya para pemain MU dari liburan musim panas. Dimana Van Gaal memberinya latihan terpisah. Kemungkinan, hal itu membuat Van Persie sakit hati dan memutuskan hengkang dari United.

Kini, ia kembali memperkuat klub masa mudanya, Feyenoord. Ia berharap bisa mengantar timnya meraih gelar Eredivisie 2019 yang sekaligus gelar terakhirnya sebelum gantung sepatu.

“Kapan saya akan berhenti? Mungkin di akhir musim ini. Saya akan berusia 36 tahun. Sejak usia 5 tahun, saya hanya melibatkan diri di sepak bola,” tuturnya seperti dilansir dari The Sun. [GP]

SHARE