Bakteri Jahat ini Secara Perlahan Merusak Tubuh | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Bakteri Jahat ini Secara Perlahan Merusak Tubuh
Sopan Sopian | Sex & Health

Bakteri jahat Lyme disease mungkin bukan penyakit yang familiar di telinga Anda. Namun, penyakit ini bukan berarti tidak populer. Lyme disease atau penyakit Lyme merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Borrelia

Photo by rawpixel on Unsplash

Bakteri jahat ini dapat berpindah ke manusia melalui kutu yang telah menggigit hewan terinfeksi seperti tikus, pengerat, atau landak. Penyakit ini bisa menyebabkan masalah mental serius. 

Dalalam laman The Independent, kutu dengan penyakit Lyme dapat ditemukan di Inggris, tetapi paling umum ditemukan di daerah yang dipenuhi dengan rumput atau pepohonan dan paling aktif antara Maret dan Oktober. Penyakit Lyme pertama kali ditemukan di kota Old Lyme, Connecticut, Amerika Serikat pada 1975.

Menurut Healthline, penyakit Lyme terjadi dalam tiga tahap: lokalisasi, penyebarluasan awal, dan disebarluaskan. Gejala-gejala yang dialami oleh penderitanya bergantung pada tingkat keparahan penyakit yang mendera.

Meski gejala yang terjadi berbeda, salah satu tanda utama pada penyakit Lyme adalah adanya ruam merah yang melingkar. Biasanya ruam tersebut muncul di bagian tubuh yang telah digigit oleh kutu terinfeksi penyakit Lyme.

Namun demikian, tidak semua penderita penyakit Lyme akan mengalami gejala berupa ruam kemerahan. Menurut National Health Service, terdapat beberapa kasus dimana orang yang terkena bakteri jahat penyakit Lyme mengalami gejala mirip flu, seperti sakit kepala, nyeri sendi, dan demam dengan suhu tinggi.

Pasien yang sudah diobati dengan antibiotik pada gejala awal penyakit Lyme biasanya dapat sembuh total. Tapi, ada beberapa dari mereka yang sudah menyelesaikan pengobatan namun masih merasakan gejala seperti lelah luar biasa, sulit berkonsentrasi, dan sakit pada sendi. Kondisi ini disebut dengan Post-Treatment Lyme Disease Syndrome atau PTLDS, menurut Brian Fallon, MD, MPH.

Sebenarnya, kondisi ini masih menyimpan misteri bahkan pada ahli dalam dunia kedokteran. Hal ini disebabkan karena masih rancunya penyebab dari PTLDS. Ada yang beragumen bahwa PTLDS disebabkan karena sisa dari infeksi dari Lyme, ada juga yang berargumen bahwa gejala ini ditimbulkan dari infeksi bakteri lain.

Walaupun belum menemukan titik terang mengenai penyebab dari PTLDS, pengobatan dengan antibiotik dalam jangka waktu yang lama dinilai dapat memberikan secercah harapan pada penderita penyakit Lyme. Penggunaan obat-obatan ini dinilai dapat memberikan efek yang perlahan, bahkan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan/bertahun-tahun, tapi pasti.

Guna mencegah dampak buruk yang bisa timbul akibat penyakit Lyme, National Health Service menyarankan Anda untuk menutup kulit ketika berjalan di area hutan atau rerumputan. Penggunaan losion antiserangga atau menggunakan pakaian berwarna terang juga dapat membantu memperkecil risiko tergigit kutu.

Dan yang paling penting, Anda dianjurkan untuk segera berkonsultasi lebih lanjut pada dokter jika mendapati adanya gejala-gejala yang merujuk pada penyakit Lyme atau bakteri jahat Lyme Disease. Jangan biarkan penyakit ini menggerogoti dari dalam, dan menyebabkan masalah mental maupun fisik pada diri Anda. *** (SS)

SHARE