Startup: Bangun Koperasi Digital untuk Dukung UMKM | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Bangun Koperasi Digital untuk Dukung UMKM
Sopan Sopian | Works

Mengawali karier di perbankan dan memiliki lahan perkebunan, tidak membuat seorang Raden Aldi Ferdian jemawa. Justru ia  memanfaatkan itu untuk mengajak dan mendukung perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) meraih sukses bersama dalam wadah yang sama, yakni koperasi digital melalui Danaprospera.

Raden Aldi Ferdian/doc.pribadi

Raden Aldi Ferdian mengatakan bahwa, Danaprospera merupakan sebuah platform crowdfunding berbasis koperasi, atau fintech pertama di Indonesia dengan izin koperasi pinjam meminjam. Sehingga sifat kepemilikannya bukanlah Perseoran Terbasar (PT), melainkan mitra bersama berbasis gotong royong dan saling berkolaborasi.

Aldi juga menjelaskan bahwa, Danaprospera akan mencarikan pemodal yang kemudian dikenalkan untuk Usaha UMKM dari berbagai sektor. Mulai dari pertanian, perkebunan, hingga para pedagang di pasar. "Tetapi UMKM di sini adalah UMKM yang sudah berjalan dan sudah punya omset usaha, hanya kekurangan modal tambahan," ucapnya kepada MALE.co.id.

Untuk kenyamanan antara pemodal dan UMKM tersebut, Danaprospera menunjuk pihak penengah yang disebut mitra pengelola di mana meraka adalah koperasi-koperasi yang ditunjuk. "Tujuannya untuk penyaluran yang tepat sasaran dan meminimalisir usaha bodong. Jadi pemodal dan UMKM juga bisa percaya dan nyaman," tutur Aldi.

Tidak hanya memberikan jaminan modal, tetapi dikatakan Aldi, Danaprospera pun memberikan pembinaan agar UMKM bisa naik kelas dan omset usahanya pun terus meningkat. Pembinaan tersebut pun sampai membantu UMKM untuk di arahkan ke Bank. "Setelah UMKM itu memiliki omset di atas ratusan juta hingga 1 miliar, tentu itu bukan kelas kita lagi, maka kami arahkan ke bank. Kelasnyakan udah naik," paparnya.

Membangun Danaprospera
Selepas menyelesaikan kuliah di Universitas Pasundan, Aldi bekerja di industri perbankan. Posisi yang pernah dilakoninya bermacam-macam, yaitu sebagai tenaga pemasaran di Bank Standard Chartered, Relationship Officer di Bank Permata Kencana, Relationship Manager di Bank CIMB Niaga, atau berkarier di Bank UOB, Jakarta. 

Raden Aldi Ferdian/doc.pribadi

Aldi kemudian melepaskan kariernya di dunia perbankan untuk mencari tantangan baru dan memutuskan menjadi pengusaha. Bisnis perdana yang dibangunnya adalah rumah produksi Vizwerk (Production House Vizwerk). 

Kemudian, pengalaman Aldi di dunia perbankan dan telah mengenal banyak para pemodal. Ia mendirikan Koperasi Dana Usaha. Koperasi yang ia dirikan itu untuk memberikan modal kepada para pedang-pedang di pasar hingga petani. 

Mulai dari sana, Aldi mengaku mulai tibul untuk terus menyelami lebih dalam. Saat di sinilah ia melihat banyak ragam sektor usaha yang mulai dibiayainya. Sehingga ia berpikir untuk membuat sebuah wadah yang bisa menginformasikan ke masyarakat luas dengan biaya terukur. Solusinya adalah fintech.

"Bayangkan jika saya masih berkecimpung dalam koperasi konvensional. Artinya saya harys nge-grab seluruh masyarakat Indonesia dengan beberapa cabang koperasi se-Indonesia. Di sini biayanya tidak terukur dan mahal, fintech solusinya," jelasnya.

Fintech tersebut bernama Danaprospera dan diluncurkan pada akhir 2017. Makna dari fintech yang ia bangun adalah biaya kebajikan. Harapannya dengan nama tersebut bisa membagikan dana kebajikan kepada orang yang membutuhkan alias suport pada pelaku UMKM. 

"Kemudian mereka yang memiliki dana lebih pun bisa memberikan dana kebijakan dalam bentuk sedekah produktif, umpamanya memberikan kail bukan ikan," terang Aldi.

Aldi pun memberikan alasan mengapa ia terjun dalam dunia koperasi. Padahal jika ingin berkarier dalam perbankkan ia bisa mencapai posisi direktur utama dalam sebuah bank. "Masyarakat lebih mengenal koperasi daripada perbankan," Aldi menurutkan.

Selain itu, kata dia, meraka yang memiliki usaha kecil menengah masih belum familiar atau nyaman jika harus pergi ke bank. Koperasi lebih nyaman bagi mereka, karena pola koperasi itu menjemput. Sehingga masyarakat tidak perlu harus bersiap-siap, dandan dengan pakaian rapi untuk pergi ke kantor cabang. 

Tantangan yang Dihadapi
Selama pembangunan sampai sekarang, Dana Porspera telah memiliki 70 mitra pengelola dengan sebaran hampir di seluruh Indonesia, seperti Jawa, Madura, Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan. 

Raden Aldi Ferdian/doc.pribadi

Kendati telah melebarkan sayap di seluruh Indonesia. Namun kesulitan dalam berkoperasi memang tidaklah pernah ada kata habisnya. Salah satu kesulitan pertama adalah memberikan edukasi bisnis dengan baik kepada pelaku UMKM itu sendiri.

Karena menurutnya tidak semua kelompok memahami edukasi yang diberikan. Selalu ada irisan di dalamnya. "Misalnya dalam satu kelompok (tani) yang sudah diedukasi, mukin yang paham 25 persen," kata Aldi.

Atas dasar itu, dengan kesabarannya ia memafkan apa yang terjadi di lapangan. Menurutnya dari 25 persen itu justru bisa menularkan atau menginspirasi yang lain yang awalnya tidak memahami. "Mereka (yang belum paham) akan melihat kesuksesan dari 25 persen itu. Setelah melihat, baru mereka akan sadar, dan itu saya rasakan terus bertambah," ucapnya.

Kemudian untuk terus mengedukasi masyarakat, Aldi mengatakan ia memperkanalkan soal koperasi melalui workshop ke Universitas di seluruh Indonesia. Tujuannya agar mahasiswa sebagai agen perubahan dapat memperkenalkan kepada masyarakat lebih luas lagi.

"Mahasiswa juga perlu tahu bahwa bisnis model koperasi justru diminati di luar negeri dibandingkan dengan institusi finansial lainnya," paparnya.

Keyakinan Terus Berkembang
Aldi mengaku tetap yakin, karena koperasi bisa terus berkembang ke sektor bisnis lainnya. Untuk itu, Aldi terus melakukan kerja sama dengan pihak lain. Salah satunya bekerjasama dengan Koperasi Entitas Indonesia (KEI). 

Raden Aldi Ferdian/doc.pribadi

Atas kerja sama itu, terbitlah Danaprospera Entitas dengan tiga target, yakni Smartmilenia, Smartmikroprener, dan Smartmigation. KEI dengan program TalentID-nya akan membantu mencari potensi UMKM milenial (target pertama) dalam bidang startup terbaik yang kemudian diberikan edukasi lebih lanjut.

Target Smartmigation justru lebih unik, karena Danaprospera Entitas ini akan mengedukasi mereka yang akan bekerja di luar negeri (TKI). Para TKI akan diberikan bimbingan bagaimana mengelola keuangan untuk berbisnis berkelanjutan pasca pulang lagi ke Indonesia.

"Artinya di sini, para pekerja kita di luar negeri tidak hanya berpikir untuk mengahsilkan uang dari pekerjaan mereka di sana, tetapi juga bagimana kami memberikan pengetahuan soal finansial dan solusi untuk bisa berbinis saat mereka kembali ke Indonesia," tegas Aldi. *** (SS)

SHARE