Pemicu Perang Dunia II yang Penuh Kepalsuan - Male Indonesia
Pemicu Perang Dunia II yang Penuh Kepalsuan
Gading Perkasa | Story

Beberapa waktu sebelum pecahnya Perang Dunia II, Adolf Hitler diangkat menjadi diktator Jerman pada 1934. Target utamanya yaitu menyerbu dan memecah belah Polandia yang mayoritas penduduknya ialah Yahudi.

perang dunia 2 - male Indonesiawikimedia commons

Namun, Hitler tak mampu melakukannya, sebab terhalang oleh Perjanjian Versailles, serta Pakta (Perjanjian Internasional) Non-Agresi antara Jerman dan Polandia.

Ia membutuhkan pemicu, berupa tindakan agresi dari pihak Polandia supaya Jerman dapat menyerang balik. Jadi, setelah lama menunggu, ternyata Polandia tidak sekali pun menggertak. Maka Hitler menciptakan rekayasa lewat Operasi Himler.

Dibawah komando Heinrich Himmler dan pengawasan Reinhard Heydrich, operasi tersebut dimulai dengan menancapkan beberapa bendera Polandia di sepanjang wilayah perbatasan Jerman.

Beberapa monumen Jerman dirusak, mayat-mayat berseragam Polandia ditaruh di sekitarnya. Penancapan bendera dan tindakan vandalisme itu tentunya dilakukan oleh pasukan Jerman sendiri, sedangkan mayat diambil dari kamp konsentrasi.

Kesan bahwa Polandia telah menyerang juga harus disebarluaskan. Masyarakat mesti tahu, siapa yang memulai konflik.

Selanjutnya, pasukan Schutzstaffel (SS) menangkap Franciszek Honiok, anggota partai dari Polandia yang direkayasa oleh Jerman telah melakukan sejumlah pemberontakan di Silesia.

Dibius tanpa tahu apa-apa, Honiok dibawa ke Stasiun Radio Gliwice (yang dahulu merupakan wilayah Jerman) saat malam 31 Agustus 1939.

Kemudian, terdengarlah suara teriakan melalui siaran radio, “Uwage! Tu Gliwice. Rozglosnia znajduje sie w rekach Polskich,” yang berarti “Perhatian! Ini Gliwice. Stasiun penyiaran telah dikuasai Polandia.”

wikimedia commons

Hanya sembilan kata yang diucapkan dalam siaran penuh kepalsuan itu, sebuah kalimat dari anggota SS Karl Hornack dalam bahasa Polandia.

Seorang petugas secara diam-diam memotong transmisi siaran agar kata-kata selanjutnya yang diucapkan oleh Hornack tak tersebar ke mana-mana. Namun, sembilan kata itu saja sudah cukup untuk menyulut Perang Dunia II.

Ibarat sumbu liar yang sudah terbakar sesuai rencana, Hitler hanya perlu ‘meresmikan’ ledakannya. Keesokan hari, pasca siaran palsu Radio Gliwice, Hitler berpidato di Reichstag, Berlin, menuduh bahwa Polandia menghasut kekerasan dan enggan berdamai dengan negosiasi.

Peperangan besar selanjutnya, Perang Dunia II tak dapat dihindarkan. Sementara Honiok, satu-satunya saksi kunci rekayasa Operasi Himler, telah ditembak mati oleh SS, tepat di bagian dahinya. [GP]

SHARE