Parah! Ini 7 Suporter Sepakbola Tersadis di Dunia - Male Indonesia
Parah! Ini 7 Suporter Sepakbola Tersadis di Dunia
MALE ID | Sport & Hobby

Sepakbola tidak pernah lebih berarti daripada nyawa. Namun sayangnya, cukup banyak suporter sepakbola di berbagai belahan dunia yang tidak menyadari hal ini.

olaszmelo/flickr

Alih-alih menjunjung tinggi sportivitas dalam mendukung tim kesayangannya, mereka justru melakukan tindakan yang terbilang sadis, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain.

Baiklah MALEnials, langsung saja simak 7 suporter sepakbola tersadis di dunia, yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

Galatasaray (Turki)
Para pendukung Galatasaray tidak main-main setiap kali mereka menyambut kesebelasan lawan dengan spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang di neraka.

Jelang semifinal Piala UEFA 2000 antara Galatasaray dan Leeds United, dua pendukung Leeds tewas ditusuk oleh anggota kelompok pendukung garis keras Galatasaray.

Arsenal yang lolos ke final dan bertemu Galatasaray, membuat para hooligan Inggris bersatu untuk balas dendam di Kopenhagen, Denmark. Kerusuhan berlangsung selama dua hari. Hasilnya, empat orang tewas, sementara 15 lainnya luka-luka.

Wisla Krakow (Polandia)
Di kota berjuluk “The City of Knives”, penting untuk tidak salah mengatakan sesuatu, mengenakan baju, apalagi salah mendukung kesebelasan. Karena, Krakow mendapat julukan itu dari suporter garis keras Wisla Krakow, yang bermusuhan dengan pendukung Cracovia.

Pada 1990, para polisi harus mundur dan mencari perlindungan ketika usaha mereka memisah perkelahian antara pendukung Wisla Krakow dan Cracovia malah menjadikan mereka sasaran kedua kelompok.

Vasco da Gama (Brasil)
Sepakbola Brasil bukan hanya menunjukkan keindahan, namun juga kekerasan. Setahun sebelum Piala Dunia 2014, perkelahian terjadi di tribun antara kelompok pendukung Vasco da Gama dan Atletico Paranaense.

Keadaan begitu kacau saat itu, sehingga cara yang digunakan untuk mengangkut para korban perkelahian adalah menggunakan helikopter. Kerusuhan tidak membuat pertandingan dihentikan. Setelah satu jam, pertandingan dilanjutkan kembali.

Millwall (Inggris)
Suporter Millwall adalah penyakit sosial di Inggris. Kekerasan menjadi bagian dari mereka, dan seringkali memicu keributan hanya karena mereka ingin berkelahi. Tak perlu kelompok suporter lawan, cukup antar sesama pendukung Millwall.

Kuda polisi juga pernah dijadikan sasaran kekerasan suporter Millwall. Sebanyak 24 kuda dan 47 polisi terluka setelah mereka meluapkan kekecewaan akibat kekalahan Millwall dari Birmingham.

AS Roma (Italia)
Dua pendukung Liverpool ditusuk oleh suporter AS Roma pada 2001. Lima tahun berselang, giliran tiga pendukung Middlesbrough menjadi korban.

Di kancah domestik, enam orang pendukung Lazio ditusuk oleh suporter garis keras Roma dan satu suporter Napoli ditembak. Pelaku penembakan suporter Napoli diduga pimpinan ultras Roma.

Newell’s Old Boys (Argentina)
Di Rosario, bukan cuma pendukung tim lawan yang dikategorikan sebagai musuh. Roberto “Pimpi” Camino, pimpinan barra brava (suporter garis keras di Argentina), tewas dibunuh orang-orang suruhan Diego “Panadero” Ochoa, yang ingin menduduki posisi Pimpi.

Pimpi ditembak sebanyak lima kali, termasuk di kaki dan jantung ketika keluar untuk merokok usai minum-minum di sebuah bar. Jenazahnya lantas diangkut dengan mobil dan dibuang di depan Rumah Sakit Carrasco.

River Plate (Argentina)
9 November 2003, River Plate kalah dua gol tanpa balas oleh Boca Juniors di ajang Torneo Apertura. Kedua gol Boca Juniors dicetak oleh Sebastian Battaglia dan Pedro Iarley.

Esok harinya, dua suporter Boca Juniors tewas. Pelakunya diduga anggota Los Borrachos del Tablon, kelompok suporter garis keras River Plate. Sebab, bersama dua jenazah tersebut, ditemukan pesan bertuliskan “Boca 2, River Plate 2.” [GP]

SHARE