Perjalanan Opium, Obat Paling Mujarab yang Candu | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Perjalanan Opium, Obat Paling Mujarab yang Candu
Sopan Sopian | Story

Opium telah dikenal dan digunakan selama lebih dari 7.000 tahun. Tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan opium ditemukan. Bukti awal dari konsumsinya ditemukan di situs pemakaman Neolitik dekat Barcelona. Penggunaannya diduga unntuk efek narkotika dan analgesik.

Photo by Jakub Dziubak on Unsplash

Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. 

Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dengan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.

Dalam laman historytoday.com, orang Yunani kuno, mengklain bahwa Dementer yang menemukannya. Seorang penulis bernama Lucy Inglis menuliskan bagaimana opium digunakan dan bisa meluas dalam segala bentuknya, mulai dari biji oppy hingga morfin dan heroin.

Di sisi lain, pengguna opium untuk medis baru ditemukan oleh para sarjana Arab yang berkontribusi pada perkembangan anestesi, analgesia, farmakologi, dan pembedahan. Di Baghdad, opium digunakan dalam pil dan sebagai salep untuk mengobati penyakit, termasuk kusta. 

Dokter Basra al-Kindi membuat daftar berharga jumlah obat opium yang tepat untuk diberikan, sementara al-Razi yang lebih terkenal mungkin adalah dokter pertama yang menggunakan opium sebagai anestesi umum. 

Menjelang Zaman Penemuan, wabah telah membunuh jutaan orang di Eropa dan opium diperkenalkan kembali sebagai metode untuk melindungi dan mengobati pasien-pasien kaya raya. Penggunaan rekreasi obat itu diambil dengan antusias oleh warga Kekaisaran Persia selama periode Abad Pertengahan akhir.

Photo by kiwinz on Flickr

Penguasa Kekaisaran Mughal membentuk kebiasaan opium dengan memakannya. Kaisar Jahangir begitu mabuk dengan narkoba dan anggur yang membuatnya tidak mampu memerintah. Sehingga istrinya harus mengisi peran tersebut.

Pada 1676, dokter Thomas Sydenham membuat dampak besar pada masyarakat dengan menerbitkan resepnya yakni laudanum. Laudanum adalah ekstrak alkohol dari opium yang dibuat melalui metode tincture.

Sydnenham juga mengatakan bahwa di antara semua obat-obatan yang disediakan bagi manusia atas perkenan Tuhan, tidak ada yang semanjur dan seuniversal opium untuk meringankan penderitaan.

Penyebaran di Indonesia
Dalam suatu survei di kalangan pemakai pada 1890, banyak yang mengaku pada awalnya mereka mencoba opium untuk meringankan penderitaan atas keluhan sakit kepala, disentri, asma, demam biasa hingga malaria, tuberkolosis (batuk berdarah), menghilangkan letih-lesu bahkan mengobati penyakit kelamin.

Di kalangan para seniman yang harus begadang karena pekerjaan, misalnya sinden dan dalang, penari, pemain teater, candu (opium) diyakini dapat membuat mereka kuat terjaga dan tetap bugar. 

Sempat ada anggapan bahwa candu dapat meningkatkan vitalitas, gairah seksual dan eforia, sampai-sampai tertulis dalam syair Jawa Suluk Gatoloco buah karya priyaji Jawa yang menguasai tradisi dan mistik.

Tersebutlah tokoh dalam syair itu, Gatoloco, berwujud kelamin laki-laki yang membentengi diri dengan menelan opium dan merasakan kekuatan candu yang memabukkan itu menyebar ke seluruh tubuh dan membuat seluruh kekuatannya kembali. 

Pemakaian candu semakin meluas, dampak negatif juga terlihat cukup termasuk dari pemakaian uang yang cukup besar untuk belanja candu, bahkan juga di kelas pekerja buruh. Tetapi, pandangan orang Jawa terhadap candu tidaklah seragam. Pada masa itu pun sudah ada kelompok anti candu yang berjuang untuk memeranginya dan menabukan candu dengan memasukkannya pada larangan "molimo".

Molimo adalah ajaran moral yang melarang kaum laki-laki berbuat lima kegiatan yang berawalan dengan kata M, yaitu Maling (mencuri), Madon (main perempuan), Minum (alkohol), Main (berjudi) dan Madat (mengisap candu). *** (SS)

SHARE