Perjuangan Atlet Cantik ini Melawan Keterbatasan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Perjuangan Atlet Cantik ini Melawan Keterbatasan
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Siapa yang tidak syok ketika hidup berjalan dengan baik dan normal dengan anggota tubuh yang lengkap, tiba-tiba harus kehilangan satu organ tubuhnya untuk beraktivitas. Begitulah yang dirasakan Kelly Cartwright, wanita asal Australia yang harus rela kehilangan kaki kanannya.

Photo by Laurenrobertson1 on Wikipedia

Kelly Cartwright adalah wanita yang memiliki paras cantik dan berprestasi. Ia adalah atlet cabang olahraga (cabor) atletik. Prestasinya tidak dapat diragukan lagi, ia memenangkan dua medali di Paralimpiade London 2012, dan mewakili Australia di Paralimpiade Beijing 2008. Bahkan ia digadang-gadang sebagai pelopor pemegang rekok Dunia Paralimpiade.

Merelakan Kaki Kanannya
Tumbuh dewasa sebagai wanita berambut pirang yang cantik di kota keil, Partarlington, Victoria, ia dan saudaranya kerap bermain Netball. Sebagai gadis kecil waktu itu, ia bermimpi ingin menjadi atlet Netball untuk Australia.

Sekitar tahun 2002, di saat usianya menginjak 13 tahun, Kelly Cartwright merasakan sakit luar biasa di lututnya. Para dokter umum awalnya mengatakan bahwa itu akibat dari permainan Netball. Namun, anehnya rasa sakit itu justru tak pernah sembuh selama dua tahun, artinya hingga menginjak usia 15 tahun. 

Tapi, para dokter umum tetap menyatakan bahwa itu akibat dari permainan olahraga itu dan mengatakan normal atas rasa sakitnya. Kelly Cartwright yang merasa tidak kuat akan sakitnya itu, ia memutuskan untuk berhenti bermain Netball dan pergi ke dokter untuk melakukan scan kepada dokter ahli terhadap lututnya.

Setelah melakukan scan, di sanalah baru ditemukan adanya sebuah benjolan, dokter mengatakan itu adalah kista dan menyatakan akan hilang sendirinya, atau menjalani operasi kecil. Karena tidak ingin merasakan sakit terus menerus, Cartwright memutuskan untuk menyetujui opsi kedua, operasi kecil.

Photo by Victuallers on Wikipedia

Tetapi, sebelum dokter memutuskan untuk operasi kecil. Kedua orang tuanya berbicara serius dengan dokter. Ternyata, benjolan yang ditemukan bukanlah kista. "Saya benar-benar menyesal, apa yang kami temukan di lutut Anda bukan kista, itu sarkoma sinovial," ucap Cartwright mengingat perkataan dokter kepada orang tuanya kepada Marieclaire.

Sarkoma sinovial adalah kanker langka dan agresif. Mendengar hal itu, Cartwright mengaku langsung merasa dunianya terbalik. Ia merasa tenggelam di usia yang cukup muda. Kehancuran tidak hanya dirasakan Cartwright, kedua orang tuanya pun patah hati saat situ itu.

Pilihan sulit melanda Cartwright, di mana ia harus benar-benar memutuskan untuk mengamputasi kaki kanannya. Merasa tak berarti lagi dalam hidup, Cartwright sempat berpikir lebih baik mati ketimbang harus mengamputasi salah satu kakinya. Selama lima hari, Cartwright benar-benar memikirkan pilihan itu.

Setelah berpikir keras dan mengetahui kankernya belum menyebar. Cartwright mulai berpikir jernih. Di mana ia mengakui bahwa amputasi memang jalan satu-satunya untuk bertahan hidup. Ketika diamputasi berarti ia bisa bebas kanker. Akhirnya ia memutuskan untuk mengamputasi kaki kakanannya.

Bangkit dan Berprestasi
Kisah kehidupan Cartwright paling tepat digambarkan sebagai kemenangan atas kemalangan. Setelah berhasil operasi amputasi, Cartwright menjalani rehabilitasi selama 3 bulan, dan dipasangi kaki prostetik. 

Photo by Laurenrobertson1 on Wikipedia

Setelah lancar berjalan, ia pun sadar bahwa ia harus merelakan impiannya menjadi atlet Netball. Namun cita-citanya ingin menjadi atlet terlalu besar. Ia terus mencari arah baru untuk tetap berolahraga meski dengan satu kaki palsu. 

Semangatnya yang tinggi terhadap olahraga, guru olahraga disekolahnya menemuinya. Cartwright ditawari untuk menjadi atlet paragames atau paralimpiade. Cartwright pun menyetujui akan hal tersebut. Ia semakin bersemangat dan berpikir bahwa semuanya benar-benar akan berubah dan ia bertekad menjadi paralympian.

Pada bulan Agustus 2005 Cartwright mencoba dan diterima sebagai anggota skuad Emerging Talent untuk London Paralympics. Luar biasanya Cartwright saat itu masih belum menggunakan kaki palsu khusus lari. Didorong oleh kesuksesan awal, dan dengan dukungan dari teman-teman dan keluarganya, Kelly mengumpulkan cukup uang untuk membeli kaki lari.

Pada tahun 2007, momen paling membanggakannya adalah berlari untuk pertama kalinya tanpa terjatuh. Kemudian pada tahun 2008, ia berkompetisi di Paralympic cabor lari jarak 100m untuk pertama kalinya di Beijing dan finish di posisi keenam.

Pada tahun 2009, Cartwright pindah regu pelatihan dan kemudian memecahkan rekor dunia 200m dan rekor 100m Australia selama Kejuaraan Paralimpiade 2009 Oseania. Prestasinya pun terus berkembang, pada tahun 2011, ia memenangkan dua medali emas (100m dan lompat jauh) di Kejuaraan Dunia Atletik IPC dan memecahkan rekor dunia dalam lompat jauh. 

Pada 2012, ia menambahkan dua rekor dunia lagi untuk namanya, ia memecahkan rekor dunia 200m di Adelaide Track Classic dan 100m di Australian Athletics Championships. Di Paralimpiade London 2012, Kelly mengokohkan dirinya sebagai salah satu atlet hebat Australia, ia mendapatkan emas dari cabor lompat 4,38m dan medapatkan medali perak untuk cabor lari 100m. Menambah pencapaian mengesankannya, Kelly Cartwright dianugerahi Order of Australia Medal pada Hari Kemerdekaan Australia 2014. 

Jauh dari lintasan, Cartwright adalah duta besar untuk Yayasan Make-a-Wish. Pada bulan Agustus 2009, ia mencapai prestasi luar biasa. Ia berhasil mencapai puncak Mt Kilimanjaro pertama untuk wanita dengan amputasi di atas lutut. Kemudian pada tahun 2012 terpilih menjadi 13 dari 100 wanita paling populer majalah Maxim. *** (SS)

SHARE