Kisah Ironis Sang Pangeran Madrid yang Terbuang | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kisah Ironis Sang Pangeran Madrid yang Terbuang
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Sulit berharap Real Madrid memperlakukan legendanya secara elegan. Apa yang terjadi pada Paolo Maldini di AC Milan atau Francesco Totti di AS Roma tidak terjadi pada Raul Gonzalez.

wikimedia commons

Kisah Raul Gonzalez dan Real Madrid pada awalnya mirip dengan kisah Maldini dan Milan. Raul adalah pemain yang meniti karier di Madrid sejak awal. Ia sukses menjelma sebagai pemain kelas dunia.

Dengan kostum putih-putih khas Los Galacticos, Raul Gonzalez termasuk salah satu striker yang paling ditakuti di era 90-an dan 2000-an.

Ketajaman Raul mampu membawa dirinya dua kali sebagai pencetak gol tertajam La Liga, dua kali top skor Liga Champions dan lima kali pemain terbaik La Liga. Serta memecahkan rekor pencetak gol terbanyak Real Madrid sepanjang masa.

Bukan cuma gelar individu, Raul juga mengantarkan beragam kesuksesan bagi Madrid sebagai seorang kapten dan motor tim.

Enam titel La Liga, tiga Liga Champions, empat Piala Eropa, satu Piala Super Eropa, empat Piala Super Spanyol, dan dua Piala Interkontinental (Piala Dunia Antar Klub) adalah gelar yang pernah ia berikan.

Namun untuk bisa pensiun di Madrid? Raul tak mendapatkan itu. Madrid sepertinya enggan menyetujui keinginan Raul agar tetap bisa bermain sampai gantung sepatu.

Bagi Raul yang terbiasa menjadi starter, duduk di bangku cadangan adalah hal paling tidak ia inginkan. Sayang sekali, faktor usia mustahil dihindari. Ia mulai jarang diturunkan.

wikimedia commons

Ia memang hebat, tapi masa keemasannya sudah berlalu dan Madrid mau tidak mau harus merespon hal tersebut.

Pensiun di usia 33 tahun dirasa belum waktunya oleh Raul, sebab ia merasa masih punya energi yang meluap-luap.

“Saya memutuskan pergi dari Madrid. (Jose) Mourinho sendiri ingin saya bertahan di sana,” ujarnya mengenang.

Mourinho berharap Raul bisa menjadi sosok senior di Madrid, dengan porsi bermain lebih sedikit seperti Marco Materazzi di Inter. Raul tak berkenan dan memilih hengkang.

Eks pemilik nomor punggung 7 di Madrid ini mau akhir karier yang lebih indah ketimbang duduk di bangku cadangan dan menyaksikan temannya bermain.

“Santiago Bernabeu akan selalu menjadi rumah saya. Ketika saya siap kembali dengan menawarkan sesuatu yang berbeda, maka saya akan kembali,” tutur Raul.

Walau pernah dikecewakan, Raul tak pernah melupakan satu hal: namanya terkenal di dunia berkat Madrid. Hati Raul akan selalu ada untuk tim ibukota tersebut. [GP]

SHARE