STARTUP: Dari Keinginan Semua Orang Punya Chatbot | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
STARTUP: Dari Keinginan Semua Orang Punya Chatbot
Sopan Sopian | Works

Berawal dari cita-cita ingin semua orang memiliki chatbot, pada Desember 2015 Diatce G. Harahap dan Arra Primata melahirkan Bang Joni, sebuah layanan asisten virtual alias chatbot. Chatbot merupakan robot yang diprogram untuk membalas pesan-pesan yang dikirimkan dengan indikator tertentu. Di awal kemunculannya, chatbot terasa benar-benar seperti robot, kaku. 

startup - male indonesia

Namun, atas kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kini chatbot punya kemampuan dengan rasa percakapan yang lebih natural. Dalam perkembangannya chatbot, chatbot sudah banyak digunakan antara lain sebagai command control, customer care, scripting engine, messaging application, virtual assistance, dan domain expert.

Sesungguhnya layanan asisten virtual (chatbot) karya anak negeri sudah ada YesBoss dan HaloDiana. Namun berbeda dengan dua layanan sebelumnya yang menggunakan SMS, Bang Joni hadir dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI).

Dengan ditambahkannya kecerdasan buatan tersebut, Bang Joni berharap dapat melayani pengguna lebih responsif dan akurat layaknya manusia. “Sekarang ada teknologi Artificial Intelligent sehingga chatbot kami bisa tahu kebiasaan-kebiasaan pengguna yang menggunakan layanan ini,” tutur Diatce G. Harahap CEO PT Jualan Online Indonesia (Joni) kepada MALE.co.id.

Diatce juga mengatakan, kini kemampuan analitik Bang Joni terus dikembangkan dan sering diinput dengan kata-kata baru agar Bang Joni makin pintar. Termasuk membaca pola perilaku pengguna di chatting, sehingga Bang Joni bisa mengantisipasi kebutuhan pengguna sebelum mereka bertanya atau meminta melalui chatting.

Sempat Bekerja di LSM
Jauh sebelum membangun startup-nya (Bang Joni), Atche sempat bekerja di berbagai tempat, salah satunya LSM atau NGO milik Teten Masduki. Bahkan, ia juga sempat mengelola bisnis konvensional milik keluarganya. 

Perjalanan panjang di dunia kerja tak dapat memuaskan pashionnya dalam bidang teknologi. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang ahli dalam bidang teknologi di mana ia dapat membuat teknologi pemesanan tiket pesawat. "Jadi, ini bisa dibilang awal dari Bang Joni," tutur lulusan Master of Arts Diplomatic Studies University of Westminster London itu.

Jadi, kata dia, di awal-awal Bang Joni (2015), mengandalkan tiga buah model monetisasi, di antaranya adalah call center charge, sales commission based (di dalamnya jualan tiket pesawat dan jualan pulsa), dan targeted ads.

Saat awal pendirian Bang Joni, Atche bercerita bahwa semuanya menggunakan biaya sendiri. Orang-orang yang ada di Bang Joni belum mendapatkan gaji. Semua hanya berpikir bagaimana mengembangkan teknologi chatbot yang didirikannya. 

Terkait investor, Acte mengaku tidak lama untuk mendapatkan suntikan dana dari Angel Investor. Bahkan investor pun memberikan ruang kantor bagi Bang Joni di F House Building, Panglima Polim, Jakarta Selatan. 

"Jadi kita dulu kita pake uang kita sendiri dulu dan belum ada yang digaji, terus setelah enam bulan kemudian baru dapat investor," terang Atche.

Menghadirkan BJtech
Setelah Bang Joni terus dikembangkan sejak 2015, kemudian pada Maret 2018, Bang Joni menghadirkan platform BJtech. Plartform ini masih berada satu garis, yakni layanan asisten virtual. 

startup - male indonesia

Pria yang biasa disapa Atche itu menjelaskan bahwa, pada terapan Bang Joni, awalnya BJtech masih dikelola pengguna tanpa bahasa kemampuan pemograman, seperti coding. Setelah dikembangkan kini setiap orang, baik itu pelaku bisnis maupun individu bisa bikin chatbot tanpa coding, dan dapat diintegrasikan dengan apliaksi chatting lainnya seperti LINE, Facebook, Telegram, dan lain sebagainya. 

"Kami ingin menunjukkan bahwa chatbot bisa diciptakan semua orang Indonesia dari berbagai kalangan. Dengan penggunaan platform BJtech, seseorang tidak perlu memiliki keahlian pemograman tertentu," tutur Atche.

Setelah platform itu bisa digunakan oleh setiap orang, Atche ingin pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dapat memanfaatkannya. Karena menurutnya, kehadiran chatbot di sebuah bisnis dapat meningkatkan pengalaman konsumen dalam membeli sebuah produk. 

Kesulitan yang Dihadapi
Berbicara kesulitan atau tantangan, kata Atche, tentu tidak sedikit. Ia mengakui banyak sekali kesulitan yang menjadi tantangan bagi dirinya dalam membangun startup-nya itu. Tantangan itu di antaranya talent, finansial, dan market. "Di awal-awal membangun chatbot, belum ada yang membuat chatbot. Market selalu belum ready, itu tantangan awalnya," jelasnya.

Untuk bisa mengarahkan orang untuk membuat chatbot, tambah Atche, pihaknya harus benar-benar mayakinkan orang, perusahaan, hingga UKM. "Jalan keluar untuk menghadapi market yang belum siap, kita melakukan edukasi, bahkan sampe kompetisi membuat chatbot untuk memperkenal produk kami," paparnya.

Tantangan berikutnya adalah talent. Di Indonesia menurutnya taltent IT masih terbatas, padahal hal ini sangat menjanjikan. Dalam mengahapi tantangan keduanya itu, Atche harus membuat cabang BJtech di Yogyagarkta. Karena menurutnya, ekosistem talent di Yogyakarta lebih baik.

Tantangan ketiga adalah tantangan utamanya, kata Atche, yakni finansial, bisnis model. Meski sekarang pihaknya sudah banyak yang masuk seperti korporasi sampai UKM, tapi menurut Atche apakah UKM ingin bayar terus menerus untuk produknya atau tidak. 

"Tantangannya itu, jadi kita tawarkan lebih dahulu satu tahun gitu kan (gratis). Jadi tiga ini yang menjadi tantangan terbesar bagi kami," ucapnya.

Kendati tiga kesulitan itu masih menjadi tantangan hingga sekarang, Atche mengaku masih optimis dalam bidang chatbot yang ia bangun. Karena menurutnya chatbot akan menjadi sebuah megatrend yang memiliki pengaruh luas dalam kehidupan masyarakat. 

Atche juga tidak takut jika apa yang ia bangun mengalami kegagalan. Justru baginya yang ia persiapkan adalah bagaimana mendapatkan jalan keluar jika bisnis itu berhasil. Baginya simpel, dalam hidup hanya ada dua pilihan, antara gagal dan berhasil. "Kalau gagal berarti bangkrut, tutup, selesai, yang sudah terjadi, ya terjadi," tuturnya.

Justru, kata Atche, bukan itu yang ditakuti. Ia lebih takut ketika apa yang dibangunnya itu berhasil dan tidak bisa menghandlenya dengan baik. "Kalau berpikir gagal duluan, semua kegiatan pasti berpotensi gagal, tapi orang jarang memikirkan ketika berhasil, jadi gagal itu tidak perlu dipikirkan," tandasnya. *** (SS)

SHARE