Varosha, Resor Mewah yang Hancur Dalam Semalam | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Varosha, Resor Mewah yang Hancur Dalam Semalam
Gading Perkasa | Story

Bayangkan jika resor mewah di tepi laut ditinggalkan oleh orang-orang. Hotel mewah kosong dan tak terawat sehingga perlahan-lahan membusuk. Bar dan klub malam terkikis oleh alam.

wikimedia commons

Area untuk berjemur di resor mewah tersebut tergantikan oleh sarang penyu di pantai yang sepi. Semangat liburan sama sekali sirna. Memang ada tempat yang seperti itu?

Betul MALEnials, resor mewah yang kami maksud berada di pantai barat Siprus. Kota Varosha pernah dianggap sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di dunia pada era 1970-an.

Tempat ini dikelilingi oleh air biru dan pantai berpasir putih. Kala itu, hanya jutawan dan bintang film tersohor semacam Brigitte Bardot dan Elizabeth Taylor yang bisa menikmati keindahan di sana.

Bisa dikatakan, Varosha merupakan rumah bagi lebih dari 39.000 jiwa. Namun hari ini, kota berhiaskan resor mewah itu diberikan pembatas dan tertutup bagi siapa saja, termasuk wisatawan.

Sejak ditinggalkan, rumah-rumah masih dipenuhi dengan perabotan dan pakaian warga, meja-meja masih diatur untuk makan malam.

Tidak ada wisatawan yang berkeliaran di jalan-jalan, kecuali pengeksplor langka yang nekat menemukan cara masuk.

Pada musim panas 1974, tanpa peringatan dan di tengah-tengah musim puncak wisatawan, Varosha menjadi korban perang yang tengah berlangsung antara Yunani dan Turki.

Sebuah invasi Turki berskala penuh berlangsung dengan serangan udara dan darat yang membabi buta.

Ketika resor tepi laut dibom dan bangunan digulingkan, wisatawan dan penduduk melarikan diri dari rumah dan kamar hotel, meninggalkan segala sesuatunya. Mereka tidak pernah kembali.

Militer Turki dengan cepat menguasai dan mulai menutup daerah menggunakan pagar, berpatroli, dan melarang siapa pun kecuali personel mereka atau PBB. Reputasi Varosha sebagai salah satu destinasi liburan paling indah hancur dalam semalam.

Lebih dari 30 tahun berlalu, matahari masih bersinar di jalan utama pusat perbelanjaan mewah dan ombak masih menerjang pasir dari pantai, namun Varosha tetap sepi.

Serangan Militer
Mereka yang ‘berjalan-jalan’ di Varosha adalah tentara Turki. Tugas mereka patroli rutin mencari penyusup. Mereka berwenang untuk memenjarakan atau bahkan mengeksekusi siapa saja yang ketahuan menyusup.

Karena itu, foto-foto Varosha jarang diperoleh. Kota ini berbeda dari tempat-tempat yang ditinggalkan seperti Chernobyl atau Detroit. Sisa-sisa peninggalan di sana bermandikan sinar matahari.

Apa yang tertinggal menunjukkan bahwa Varosha tengah berkembang dan penuh sukacita ketika waktunya direnggut.

Seorang wartawan yang mengunjungi kota dengan batalion PBB Swedia pada tahun 1977 mengatakan, ia melihat pakaian masih menggantung dan lampu menyala melalui jendela di gedung-gedung.

Sebuah derek konstruksi juga muncul di atas sebuah hotel baru yang tidak pernah selesai pembangunannya.

2010 lalu, pemerintah Turki berencana membuka kembali wilayah Varosha sebagai tujuan wisata di sekitar teluk Turki. Mereka yakin, tempat ini punya potensi untuk menarik turis, walau baru sebatas rencana. [GP]

SHARE