Kebencian Vokalis Pink Floyd Terhadap Penindasan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kebencian Vokalis Pink Floyd Terhadap Penindasan
Gading Perkasa | News

Bila ada band legendaris yang bisa dibilang sangat anti penindasan di muka bumi, boleh jadi sebutan itu disematkan kepada Pink Floyd.

wikimedia commons

Dibentuk pada tahun 1966, Pink Floyd beraliran progressive rock dengan lengkingan melodi gitarnya yang khas. Album Dark side of the Moon (1973) menjadi album mereka yang paling banyak memecahkan rekor.

Dalam catatan sejarah musik modern, Pink Floyd adalah salah satu band legendaris yang paling sukses secara komersil.

Saat didirikan pertama kali, band ini awalnya beranggotakan Bob Klose (gitar), Syd Barret (vokal, gitar), Richard Wright (keyboard), Roger Waters (bass), dan Nick Masson (drum).

Setelah itu, Bob Klose memutuskan keluar hingga formasi band tinggal empat orang. Pada 1968, David Gilmour masuk menggantikan Syd Barret. Mereka kini berada pada urutan ketujuh dalam jumlah album terlaris di seluruh dunia.

Di samping membuat lagu-lagu bertema personal dan pengalaman hidup, mereka juga terkenal dengan lagu kritik sosial. Comfortably Numb menjadi salah satu lagu mereka yang paling digemari.

wikimedia commons

Kritikan tajam umum dilontarkan oleh pemain bass sekaligus vokalis, Roger Waters. Ia dianggap sebagai sosok paling kontroversial di Israel karena setiap komentarnya kerap mengecam negara zionis itu.

Dalam wawancara dengan koran lokal Israel, Yedioth Ahronoth, ia menyebut bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah bentuk apartheid (diskriminasi ras seperti yang terjadi di Afrika Selatan).

“Menyalahkan Palestina dalam konflik Israel dan Palestina adalah sama saja dengan mengatakan korban pemerkosaan bersalah karena dia diperkosa,” ujar Waters.

Dinding pemisah yang dibangun Israel di wilayah Palestina, menurut Waters, seratus kali lebih kejam ketimbang tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

“Saya ingin para penggemar memahami bahwa saya mengkritik kebijakan pemerintah Israel. Saya tidak mengkritik warganya,” kata dia, seperti dilansir Mondoweiss.

Waters mengatakan, ia pernah mengunjungi Israel, menempuh perjalanan darat melalui Tepi Barat dan mengunjungi daerah Jenin.

“Saya melihat banyak sekali pos pemeriksaan, pemukiman ilegal, dan pasukan pendudukan. Saya memutuskan untuk protes,” tuturnya.

“Ketika satu ras atau kelompok etnis menguasai ras lain atau kelompok etnis lain dengan kekuatan, maka itu adalah kejahatan apartheid,” tuturnya lagi. [GP]

SHARE