Awal Perang Surabaya & Lahirnya Kata Umpatan Khas | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Awal Perang Surabaya & Lahirnya Kata Umpatan Khas
Gading Perkasa | Story

Indonesia terdiri dari bermacam suku dan ras, oleh karena itu hampir setiap daerah mempunyai bahasa dan dialek khas masing-masing, tak terkecuali kata umpatan.

wikimedia commons

Di kawasan Jawa Timur, khususnya di Surabaya, terkenal akan kata umpatan janc*k yang sejak lama ada dan seolah menjadi trademark arek Suroboyo. Tapi, tahukah Anda bahwa kata umpatan tersebut tidak begitu saja ditemukan dan diucapkan?

Rupanya, awal mula kata janc*k lahir di tahun 1945, kala negeri ini baru saja meraih kemerdekaan. Kata itu mengacu kepada seorang pelukis asal Belanda bernama Jan Cox.

Ia lahir di Den Haag, Belanda, 27 Agustus 1919. Orang-orang mengenalnya sebagai pelukis di Belanda dan Belgia karena karya-karyanya yang fenomenal.

Namun anehnya, Jan Cox sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tanah gemah ripah loh jinawi. Karya lukisannya pun tidak ada yang di Indonesia. Lantas bagaimana namanya bisa terdengar sampai ke tanah air, tepatnya di Surabaya?

Ketika pasukan NICA Belanda yang membonceng Inggris mendarat di Surabaya untuk melucuti senjata tentara Jepang, pada salah satu tank mereka tertulis nama Jan Cox.

Menulis nama orang atau sesuatu di badan tank, pesawat, dan bom memang kerap dilakukan oleh para tentara di era Perang Dunia II.

Para pakar menduga, awak operator tank yang berasal dari Belanda sangat mengidolakan sang pelukis. Tank itu berjenis M3A3 Stuart buatan Amerika, yang menjadi inventaris kompeni.

Akhir dari pendaratan NICA dan Inggris di Surabaya sudah bisa ditebak, yaitu pecahnya pertempuran 10 November 1945.

Para Tentara Keamanan Rakyat (TKR) kemudian melihat tulisan Jan Cox di badan tank Stuart. Alhasil, nama Jan Cox diadopsi oleh para prajurit TKR untuk menandakan kalau tank milik musuh akan datang.

Jika prajurit TKR melihat Jan Cox, hati mereka akan kesal lantaran harus berhadapan dengan kendaraan berlapis baja di dalam pertempuran. Sebagai catatan, prajurit kita saat itu tidak dibekali senjata anti tank sehingga menyulitkan perlawanan mereka.

Karena saat pertempuran banyak tank milik Belanda lalu-lalang, para prajurit sering berkata, “Jan Cox, Jan Cox!”, yang bermaksud mengidentifikasi kehadiran kendaraan lapis baja musuh.

Lambat laun, penggunaan kata Jan Cox menjadi bahasa serapan masyarakat sampai sekarang dan kosakatanya pun berubah, janc*k yang merupakan kata umpatan khas Jawa Timuran.

Sementara itu, sang pelukis sendiri tetap berkarya hingga meninggal dunia di Antwerp, Belgia, pada 7 Oktober 1980. [GP]

SHARE