Google Search Penyebab Manusia Jadi Malas | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Google Search Penyebab Manusia Jadi Malas
Gading Perkasa | Digital Life

Kecanggihan teknologi bisa dikatakan sebagai penyelamat mansuia dalam urusan sehari-hari, salah satunya mesin pencari Google atau Google Search. Mesin tersebut terbukti sangat membantu dan mengubah manusia dalam mengakses berbagai informasi.

google search - male indonesiaMaxpixel.net

Namun tidak jarang, ketimpangan informasi yang memenuhi hasil di mesin pencari Google kerap dianggap sebagai momok. Akibatnya, Google disalahkan karena menjadi penyebab misinformasi terbesar.

Terlepas dari kehadirannya untuk membantu manusia, mungkinkah mesin pencari Google menyebabkan manusia menjadi malas dan kurang jeli memilah setiap informasi yang ada?

Seperti dilansir dari DW, ahli saraf, dosen, dan penulis yang bekerja di Centre for Medical Education Cardiff University, Dean Burnett mengatakan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Tidak, saya tidak bisa melihat bahwa Google membuat orang menjadi bodoh. Seperti contoh, kita mampu mengingat teks panjang atau puisi secara mudah. Namun kemampuan itu bukan tanda kecerdasan, dan jika tidak bisa melakukannya bukan berarti Anda bodoh,” katanya.

Menurut Burnett, intelegensi memiliki banyak faktor, seperti budaya, genetik dan banyak waktu bermuara pada bagaimana manusia menggunakan informasi, bukan seberapa baik ia mengingatnya.

Google juga memberikan lebih banyak informasi dari sebelumnya. Jadi kehadiran Google justru membuat manusia lebih pintar.

“Google memungkinkan Anda mengakses setiap hal baru yang nyaris tak terbatas dengan satu sentuhan tombol. Sehingga orang semakin tergoda mencari sesuatu yang lebih baik daripada berkonsentrasi pada sesuatu di depan mereka,” tutur Burnett.

“Secara teknis, Anda dapat menerapkan ini ke situs internet lainnya seperti Facebook dan Twitter, bukan cuma Google,” tuturnya lagi.

Hanya saja, ia mengakui bahwa mayoritas manusia tidak betul-betul menyadari kekuatan otak dalam menyaring informasi. Padahal, otak manusia telah mengembangkan mekanisme untuk menyaring dan memprioritaskan informasi yang ada.

“Hal serupa dapat dikatakan terkait informasi di mesin pencari Google, namun sedikit berbeda karena lebih abstrak dan bersifat kognitif. Sayangnya, metode otak dalam mengatasi surplus informasi tidak selalu ideal,” ucapnya.

Ditambahkan oleh Burnett, manusia akan cenderung bertanya pada Google ketimbang mencoba menemukan jawabannya sendiri.

“Kendati demikian, pemrosesan informasi seperti ini hanya sebagian kecil dari apa yang dilakukan otak, sehingga sulit melihat bagaimana Google dapat lebih diutamakan daripada otak dalam waktu dekat,” ujar Burnett. [GP]

SHARE