Joko Anwar, Horor dan Kelas Sosial dalam Filmnya - Male Indonesia
Joko Anwar, Horor dan Kelas Sosial dalam Filmnya
MALE ID | News

Di dalam dunia perfilman Indonesia, nama Joko Anwar tidak bisa hanya sekdar dibaca dalam jajaran produksi film. Ia adalah salah satu penulis skenario, dan produser sukses Indonesia. Beberapa film seperti Arisan! (2003), A Copy of My Mind (2015), dan yang masih hangat, Pengabdi Setan (2017) terbilang sukses di kalangan penikmat film, baik di tanah air dan manca negara. Pengabdi setan misalya, Joko mendapatkan penghargaan atas film tersebut dalam ajang Festival Film Horor di Amerika.

Selain itu, film Pengabdi Setan tersebut juga mampu menyabet tujuh penghargaan Piala Citra, bahkan menjadi film horor terlaris sepanjang masa, diputar di 42 negara. Atas kesuksesan tersebut, Joko Anwar pun mendapatkan tawaran bersama HBO Asia untuk menggarap sebuah serial antologi horor bertajuk Folklore. Untuk Joko sendiri menghadirkan Wewe Gombel dalam judul serialnya A Mother's Love dan akan tayang pada Oktober 2018.

Baginya, membuat film horor lebih susah dari film-film biasa yang sebelumnya ia bikin. Karena membuat film horor itu harus presisi sekali secara teknis dan secara estetika. Misalnya, kata Joko, di film Pengabdi Setan dengan latar belakang pada 1980.

Joko juga menjelaskan bahwa film horor menurutnya paling jujur. Pasalnya, film horor dibuat memang untuk memberikan pengalaman sistematik kepada penonton, bukan berpretensi untuk memberikan ceramah misalnya. "Jadi benar-benar hanya untuk pengalaman menonton pada masyarakat," ucap pria pelontos berkacamata itu.

Tantangannya tidak hanya menyediakan properti era 1980 saja, namun juga bagaimana menciptakan atmosfernya. Namun, dibalik kesuksesannya dalam film horor, tak banyak yang sadar bahwa dalam setiap film buatannya, ada unsur-unsur yang tetap dipertahankan, seperti kondisi kelas sosial.

Pria yang akrab disapa Jokan ini mengaku senang mengangkat permasalahan kelas di masyarakat Indonesia. Meski di beberapa film, seperti 'Janji Joni', 'Pengabdi Setan', dan 'A Mother's Love', tokoh-tokoh digambarkan hadir dari golongan menengah ke bawah, ia mengaku masalah kerap terjadi juga di golongan menengah ke atas. 

"Aku percaya orang dari golongan apa pun pasti punya masalah. Dulu pernah juga buat film tentang orang kaya di 'Arisan!'. Tapi, mereka juga punya masalah. Entah kenapa film-ku selalu punya clash of class, ya. Kalau saat ini, kenapa karakternya dari golongan menengah ke bawah karena kebetulan itu yang masuk ke kepalaku," ucap mantan wartawan ini.

Berbicara kelas, Joko juga nampaknya masih senang bergelut dalam hal tersebut. Di mana akhir-akhir ini ia sedang gemar membuat film film yang berpusat pada keluarga yang mengalami disfungsi sosial. "Aku melihat bahwa banyak sekali keluarga yang tidak berfungsi dengan baik, pada orang tua terutama. Ini akan menimbulkan society yang tidak sehat," ujar Joko Anwar.

Bahkan dua film terbarunya ini, Pengabdi Setan dan Folklore: A Mother's Love, Joko membawa unsur menakutkan dari hantu wanita. Menurut Joko, mengapa hantu wanita, secara general, wanita memiliki nuansa tersendiri yang bisa membuat film horor kian berkualitas. "Perempuan kalau dijadikan sosok yang menyeramkan itu sifatnya lebih ironis, tidak straight forward," ucap Joko mengakhiri. *** (SS)

SHARE