Startup: Gabungkan Bisnis, Karir dan Gaya Hidup | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Gabungkan Bisnis, Karir dan Gaya Hidup
Sopan Sopian | Works

Semuanya berawal dari seorang pekerja korporat, William Fan memutuskan ingin mengubah krisis kehidupan kuartalnya sendiri. Atas dasar itu kemudian William pindah ke Singapura dan meninggalkan pekerjaannya untuk memulai startup-nya, Qlc.io atau Quarter Life Chronicles.

Qlc.io atau Quarter Life Chronicles sebuah bisnis yang bergerak menggabungkan karir dan gaya hidup, yang meliputi sektor digital, konsultasi, ritel, penelitian, pelatihan, TI, kewirausahaan, pendidikan, mode hingga nirlaba. "Perusahaan yang saya dirikan untuk kemajuan pendidikan, cara berbisnis yang baik tanpa merugikan pihak lain," tutur Co-faounder and CEO Qlc.io William Fan saat ditemui MALE Indonesia dalam acara Wealth Wisdom 2018.

Kemudian, alasan menggabungkan karir dan gaya hidup, kata dia, adalah karena di era sekarang, generasi milenium selalu mencari hal berikutnya, seperti mereka (milenium) mengganti karir tiap bulan atau tiap tahunnya. 

Qlc.io sendiri diluncurkan pada November 2014, para klien yang ditangani sebagian besar berasal dari pasar yang matang seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia dan kota-kota Asia Tenggara seperti Singapura. Fan mengklaim ada lebih dari 5.000 pengguna di platformnya saat ini, dan Qlc.io telah menjalankan lebih dari 300 proyek lebih hingga saat ini.

Mengawali QLC
Berawal dengan 10 tim, sebelum berada di Singpaura, William mengatakan bahwa awalnya Qlc.io berada di Australia dan diinvestori oleh investor China. Kini tim yang ia bangun siap untuk "menjual mimpi", mengubah pemikiran orang untuk sebuah perusahaan yang ingin berinvestasi dalam suatu bidang. "Sama halnya seperti yang saya miliki saat ini, terlihat seperti perusahaan besar," tutur William.

Kendati terlihat besar, kata William, apa yang ia bangun masih memiliki tingkat lemah, salah satunya adalah bahasa. Keterbatasan bahasa menjadi salah satu faktor pelemahnya. Selain itu, tambah dia, dalam membangun startup-nya pun tidaklah mudah membalikan tangan. Pria yang dibesarkan di Sydney itu menjelaskan bahwa dirinya memiliki karir yang berbeda pada umumnya.

"Saya sempat berada pada titik terendah dalam berbisnis. Tetapi itulah yang saya miliki dan saya tidak pernah menyerah akan adanya sebuah peluang dalam berbisnis," tutur William.

Sebelum mendapatkan investor, kata William, ia dan tim harus bekerja keras untuk memiliki profil perusahaan yang kuat, dan itu tidaklah mudah dalam membangun hal tersebut. "Untuk membuat para investor percaya akan sebuah perusahaan yang saya miliki, saya membutuhkan itu (profil kuat)," jelas pria penikmat Ramen itu.

Selain membuat profil perusahaan yang baik, menurut pemikirannya, perlunya menguasai dan mengatasi grafik dalam berbisnis. Untuk bisa mencapai itu semua juga, tambah William, sebuah cara berbisnis dengan baik, dan bisa melihat peluang dalam berbisnis yang bisa mendatangkan income, adalah kunci. "Bagi saya kerugian itu adalah sebuah awal cara berbisnis," tuturnya.

Lebih lanjut, William mengatakan bahwa, ada kalanya perlu untuk memikirkan sebuah peluang kecil yang Anda miliki dengan hal yang luarbiasa atau sebuah pemikiran inovasi baru. "Memang kita tidak akan pernah lepas akan kegagalan dalam berbisnis karena berbisnis harus siap untuk gagal dan karena kegagalan itu adalah sebuah awal untuk kita terus berusaha dengan mencapai sebuah tujuan," jelasnya. *** (SS)

SHARE