Waspada Penyakit Fatal Pada Organ Vital Pria | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Waspada Penyakit Fatal Pada Organ Vital Pria
Gading Perkasa | Sex & Health

Male indonesia

Parafimosis adalah salah satu penyakit fatal pada organ vital pria. Dimana kulit penutup Mr. P tidak bisa ditarik kembali ke posisi semula pada pria yang belum disunat.

Photo by Fátima Fuentes on Unsplash

Kelainan ini terjadi lantaran kesalahan prosedur medis dan bisa memicu penyumbatan pembuluh darah yang mengalir ke organ vital pria. Bila tidak segera ditangani, parafimosis bisa berakibat parah.

Biasanya, parafimosis terjadi setelah pemasangan kateter. Kulit khatan ditarik agar kateter bisa masuk. Saat kulit tersebut terjebak di balik lingkar kepala Mr. P untuk waktu lama, terbentuk jaringan yang mengencang dan menyempit.

Cincin jaringan yang melingkar ini dapat mengganggu aliran darah dan aliran limfatik dari dan menuju kepala Mr. P serta kulit khatan.

Alhasil, terjadi pembengkakan pembuluh darah, kepala organ vital pun membengkak. Sel-sel Mr. P mati dan akan teramputasi dengan sendirinya dalam beberapa hari atau hitungan minggu.

Gejala yang biasa dialami pria penderita parafimosis antara lain:

  1. Adanya rasa sakit
  2. Kepala Mr. P tampak membesar dan sesak
  3. Kulit khatan bengkak di sekitar lingkar kepala Mr. P
  4. Ditemukannya jaringan yang membengkak

Bila sudah demikian, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut pada organ vital. Yaitu kulup, warna kelenjar, tingkat penyempitan di sekitar korona, dan lain-lain.

Tidak adanya kulup bukan termasuk diagnosis parafimosis. Rona merah muda seperti salmon pada kelenjar mengindikasikan suplai darah yang baik. Jika warnanya hitam, artinya kematian sel telah dimulai.

Kelenjar yang normal terasa lembut dan lunak. Maka, apabila kelenjar terasa kencang dan tidak elastis, apalagi disertai warna kehitaman, nekrosis Mr. P patut dicurigai.

Penderita parafimosis sering ditemukan dalam kondisi masih memakai kateter uretra. Menarik kembali kateter sebelum mengambil tindakan medis pada organ vital akan membantu mengurangi bengkak di bagian kepala.

Pencegahan sejak dini merupakan elemen penting dalam pengelolaan parafimosis. Bagaimana caranya?

Suntikan Anestesi
Suntikan anestesi dilakukan demi mengembalikan kulit khatan ke posisi asalnya. Karena nyeri yang ekstrem, penderita memerlukan suntikan lidokain (semacam obat bius) untuk blok saraf Mr. P selama proses pengerjaan.

Kompres dengan Es
Bertujuan mengurangi pembengkakan pada Mr. P dan kulit khatan. Kain elastis dipasang lalu dibungkus melingkar mengelilingi ‘pedang’ dari kelenjar ke pangkal.

Pembalutan ini harus dibiarkan selama lima sampai tujuh menit. Kemudian periksa ‘pedang’ tersebut secara berkala untuk memantau perbaikan pembengkakan. Setelah mereda maka kain bisa dilepas.

Terapi Minimal Invasi
Teknik tusukan adalah terapi minimal invasif, dimana jarum suntik dipakai menusuk area yang membengkak secara langsung. Tempat tusukan memungkinkan evakuasi aman dan efektif dari cairan yang terperangkap.

Drainase eksternal dari cairan yang terperangkap akan mengurangi parafimosis. Datanglah ke dokter yang sudah berpengalaman guna menjalankan prosedur tersebut.

Terapi Bedah
Jika jaringan yang mengalami penyempitan ternyata sangat kencang dan menghalangi semua bentuk terapi, maka pembedahan adalah jalan satu-satunya. Prosedur ini harus dilakukan menggunakan bius lokal oleh dokter yang sudah ahli.

Disunat
Sunat sebagai terapi definitif, sebaiknya dilakukan di kemudian hari agar mencegah kambuh berulang, terlepas dari metode pengurangan pembengkakan apapun yang diterapkan. [GP]

SHARE