Black Death, Pandemi Mematikan di Abad Pertengahan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Black Death, Pandemi Mematikan di Abad Pertengahan
Gading Perkasa | Story

Di abad pertengahan, maut menyelimuti tanah Eropa. Suasana suram, kematian demi kematian, jasad manusia bergelimpangan di jalanan.

wikimedia commons

Kala itu, akhir abad ke-14 (1347-1351), Maut Hitam (Black Death) membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi di tanah Eropa.

Pada saat yang nyaris bersamaan, terjadi pula epidemi di sebagian besar kawasan Asia dan Timur Tengah. Black Death telah merenggut 75 juta sampai 200 juta jiwa dan dinyatakan sebagai salah satu bencana terburuk dalam sejarah umat manusia.

Penyakit ini muncul pertama kali pada manusia sekitar tahun 1320 di Mongolia dan diketahui menghancurkan suku-suku nomadik setempat.

Mereka yang terjangkit mengeluhkan sakit kepala, demam, dan meriang. Lidah menjadi putih dan kelenjar getah bening membengkak.

Puncaknya, bintik hitam dan ungu muncul di kulit si penderita. Jika sudah sampai pada fase ini, maka kematian tinggal menunggu waktu.

Wabah Black Death kemudian menjalar ke Cina, India, dan akhirnya ke Eropa pada tahun 1346. Setahun berselang, tepatnya pada 1347, wabah tersebut menerjang Eropa dan bertanggung jawab atas kematian 50 ribu orang.

Para kaum terpelajar di Paris, Prancis meyakini bahwa Black Death berasal dari “konjungsi rangkap tiga Saturnus, Jupiter dan Mars di tingkat ke-40 dari Aquarius”.

Penjelasan yang cukup misterius ini merupakan jawaban putus asa, mengingat Black Death memakan korban mulai dari Asia, Timur Tengah, sampai tanah Eropa. Tingkat kematiannya mencapai angka 95 %.

Buruknya pengetahuan masyarakat kala itu membuat mereka menyalahkan kaum minoritas seperti gipsy dan Yahudi sebagai dalang di balik munculnya Black Death.

Meski kedua kaum minoritas itu dibakar dan dibunuh, jumlah korban Black Death tidaklah berkurang sedikit pun. Sampai tahun 1352, nyaris sepertiga populasi Eropa tewas karena wabah ini dan diketahui masih muncul sesekali hingga tahun 1700-an.

Penjelasan ilmiah di dunia modern membuktikan bahwa Black Death adalah wabah pes yang disebabkan oleh bakteri yersinia pestis. Wabah ini dibawa oleh kutu tikus yang pindah ke mamalia saat si tikus mati.

Selain itu, peneliti juga mengaitkannya dengan wabah di Cina dan India pada awal 1900-an, seperti yang diungkap Maria Spyrou dari Max Planck Institute for the Science of Human History di Jerman.

“Penelitian kami membuktikan, penyebaran wabah dari Eropa ke Asia didukung secara genetik untuk pertama kalinya, dan ada hubungan antara Black Death di pertengahan Abad ke-14 dengan wabah modern,” ujarnya.

Para ilmuwan menduga, bakteri yersinia pestis telah hidup pada hewan pengerat di tanah Eropa sejak abad ke-14. Hasil penemuan mereka diterbitkan dalam jurnal Cell Host and Microbe. [GP]

SHARE