Eksistensi Tanpa Batas ala Social Distortion | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Eksistensi Tanpa Batas ala Social Distortion
Gading Perkasa | News

Di dunia bawah tanah, Social Distortion, band asal California, Amerika Serikat adalah legenda. Mereka layak dijadikan panutan bagi penggemar punk maupun musisi yang berkecimpung di aliran tersebut.

Photo credit: thisisbossi on VisualHunt.com / CC BY-NC-SA

Social Distortion sudah malang melintang di dunia musik sejak tahun 1978. Lebih dari empat dekade berkarier, nama mereka tetap menjadi pujaan.

Hal itu bukan tanpa sebab. Band yang digawangi oleh sosok flamboyan nan karismatik penuh wibawa, Mike Ness, memang memiliki materi mumpuni guna ‘mencuci otak’ penikmat musik punk.

Boleh dibilang, Social Distortion pantas disejajarkan dengan para dedengkot punk rock lainnya semacam Ramones, Sex Pistols, Rancid, The Clash, The Stooges dll. Padahal, mereka bukanlah tipikal band yang rajin merilis album.

Sepanjang perjalanan karier mereka, hanya 10 album studio mereka hasilkan. Di antaranya Mommy’s Little Monster (1983), Prison Bound (1988), Somewhere Between Heaven and Hell (1992), Sex, Love and Rock n Roll (2004), serta Hard Times and Nursery Rhymes (2011).

Itu menjadi hal yang tidak lazim di industri musik secara umum. Walau begitu, para punggawa band berlogo tengkorak dengan topi fedora plus memegang segelas martini ini tetaplah eksis.

Membicarakan band ini rasanya tidak lengkap kalau belum membahas The Holy Saint alias sang vokalis. Social Distortion adalah Mike Ness, dan Mike Ness adalah Social Distortion. Stigma yang melekat di kalangan punk rock dan rockabilly.

Photo credit: laviddichterman on VisualHunt / CC BY-NC-ND

Tidak seperti kebanyakan band punk lain, lagu-lagu mereka memiliki makna cukup dalam, diiringi komposisi musik yang sarat akan melodi harmonis. Yang paling menonjol tentu dari segi lirik poetry, kelam, satir namun tetap enerjik.

Di sejumlah lagu mereka, MALEnials akan menemukan aroma perlawanan, kekecewaan, pencarian jati diri dan hal-hal yang dekat dengan kaum proletar. Hampir seluruh lirik di dalam lagu Social Distortion diciptakan oleh Mike Ness.

Setelah mendengarkan lagu Story of My Life, Don’t Take Me for Granted, Reach for the Sky, When the Angels Sing, Machine Gun Blues atau Highway 101, Anda akan sadar betapa jeniusnya Mike memadukan unsur punk dengan blues dan country.

Seiring waktu, para personel Social Distortion memang telah termakan usia. Namun mereka tetap berdiri gagah di panggung, membawakan lagu puitis yang sarat makna tanpa menonjolkan sisi melankolis. [GP]

SHARE