StartUp: Ambisi Berikan Bacaan Murah di Masa Depan - Male Indonesia
StartUp: Ambisi Berikan Bacaan Murah di Masa Depan
Sopan Sopian | Works

Ardianto Agung adalah orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia penerbitan. Ia pemilik penerbit Rak Buku yang berada di kawasan Depok, Jawa Barat. Selama berkecimpung dalam dunia penerbitan, Ardianto Agung berdiskusi bersama Dewi Fita dan Windy Ariestanty, membicarakan perihal problem-problem yang terjadi dalan dunia penerbitan. Khususnya dalam buku fisik.

Ardianto Agung/MALE.co.id

Sebagai penerbit, kata Ardianto, hal itu bergantung pada toko. Saat peraturan toko berubah, aturan bisnis juga ikut berubah. Imbasnya pula pada ekosistem atau mengubah industrinya. Sehingga mau tidak mau, penerbit harus mengikutinya. "Karena penjualan terbesar ada di toko," kata Ardianto.

Lama berdiskusi akan problem dunia penerbitan fisik yang salah satunya adalah problem yang ada di tokok buku, lahirlah pemikiran bagaimana tidak ketergantung dengan toko. "Oke, solusinya mungkin digital. Tapi digital seperti apa?" tutur Ardianto.

Pasalnya, ketika sebuah penerbitan berubah menjadi digital, telah banyak platform yang sudah ada. Setelah mempelajari, ada ekosistem yang kurang dalam platform baca online. Seperti penulis tanpa ada kurasi (editing), dan user atau pengakses bisa membacanya secara gratis.

"Melihat hal tersebut, perspektif saya dan Tata (Dewi Fita) kurang baik. Karena tidak ada edukasi untuk penulis. Menurut saya, ekosistem dalam penulisan harus ada kurasi atau editing," ucapnya.

Membangun Bookslife
Di akhir 2016, bisnis penerbitan Rak Buku nampaknya tak ada perubahan, solusi dan persoalan untuk pindah ke online pun telah ditemukan dan terus dirancang. Pasalnya salah satu persoalan yang masih menjadi pemikiran adalah pembaca. "Saat pembaca online membaca tulisan secara gratis, itu juga kurang memberikan edukasi bahwa karya itu memiliki nilai. Suatu karya orang itu harus dihargai," jelas Ardianto.

Ardianto Agung/MALE.co.id

Setelah formula persoalan itu ditemukan, Mei 2017 soft launching Bookslife, sebuah platform penerbitan online pertama di Indonesia. Kemudian, Agustus 2017, website Bookslife.co mulai running dan publish. "Awalnya ingin memindahkan ekosistem yang ada di konvensial ke digital. Ternyata kita startup. saya juga baru tahu," kata Ardianto, Co-Founder Bookslife

Namun merujuk pada win-win solution sebelumnya, akhirnya Bookslife menjadi jembatan antara pembaca yang ingin harga murah untuk mendapatkan buku dengan memberikan nilai untuk para penulis. 

"Pembaca bisa membaca buku dengan harga murah. Sistemnya seperti membeli lagu kaya di iTunes, misalhnya ada satu album dengan lima lagu, pembeli bisa membeli satu lagu tanpa membeli satu album, dan itu lebih murah," jelas Ardianto.

Mengacu pada ekosistem iTunes itu, Bookslife menjual buku-buku tersebut dalam bentuk part atau bagian, akta Ardianto, dengan begitu, harga untuk membeli buku bisa lebih terjangkau. Setiap bagian memiliki jumlah halaman tertentu, dan ditawarkan dengan harga Rp 5.000 untuk satu bagian.

Di dalam Bookslife juga, bisa sebagai alternatif bagi mereka yang kesulitan untuk masuk ke dunia penerbitan. Tidak hanya itu saja, penulis juga akan memperoleh layanan berupa kurasi, layouting, dan juga pembuatan cover secara gratis. 

Ardianto Agung dan Dewi Fita/MALE.co.id

Untuk setiap buku yang terjual, penulis mendapatkan royalti sebesar empat puluh persen, sementara Bookslife mendapatkan enam puluh persen dari keuntungan tersebut. Sebagai perbandingan, jika melalui penerbit yang sudah cukup besar, penulis biasanya mendapatkan royalti sekitar sepuluh persen dari harga cetak buku. Ini berlaku untuk buku fisik. 

Sementara itu, jika diterbitkan secara online, penulis mendapatkan royalti sekitar lima belas hingga lima puluh persen dari harga jual buku. 

Tantangan Terberat Membangun Bookslife
Kendati Bookslife telah memiliki 8.500 user dan  450 penulis (termasuk yang belum diterbitkan), Ardianto mengaku setiap bisnis memiliki kesulitannya. Kesulitan pertama adalah penulis dan pembaca.

Ardianto menjelaskan, untuk user yang mau membaca, harus lebih dahulu men-download aplikasi viewers sebagai apliaksi pembaca e-book yang ada di Bookslife. Karena, jelas Ardi, masalah digital adalah privasi. Aplikasi viewers ini adalah jaminan security terhadap konten yang dimiliki Bookslife.

Ardianto Agung dan Dewi Fita/MALE.co.id

"Mengedukasi pembaca untuk ini sulit memang, harus download (aplikasi) lagi ya, gitu. Terus bagaimna pembaca mau baca part by part, menghargai karya. Walau harganya cuma Rp 5.000, ternyata sangat sulit," aku Ardi.

Kesulitan selanjutnya adalah di posisi penulis. Tidak mudah bagi penerbit online untuk mendapatkan penulis mumpuni. Karena kepercayaan lebih dahulu harus dibangun. Maka dari itu, Ardi mengeluarkan jurus dengan menggandeng nama-nama penulis besar. 

Beberapa nama penulis besar yang telah merapat ke Bookslife antara lain, Dewi Lestari, Sekar Ayu dan Asma Nadia. Serta kibi sedang menggandeng dan bekerjasama dengan penulis sastra kenamaan di Indonesia, Sapardi Djokodamono.

“Dengan adanya penulis besar yang masuk dalam Bookslife, trusting issue-nya semakin kuat bahwa Bookslife kompeten, Bookslife dipercaya oleh penulis besar,” ujar Ardi.

Bookslife.co

Kesulitan kedua adalah bagaimana membentuk team yang solid dan memiliki visi misi yang sama. Menurutnya tanpa team yang solid adalah salah satu hal lain yang lebih sulit. "Jadi kepercayaan masing-masing team harus juga dibangun, kalau tidak ya pecah," ucapanya.

Salah satu misi yang ingin dicapai Ardi dan tim dengan Bookslife adalah menyediakan bacaan yang lengkap, bermanfaat dan dengan harga yang terjangkau. "Saya yakin dengan bacaan yang baik dan harga yang cukup terjangkau. Mudah-mudahan mendapatkan generasi yang baik kedepannya. Karena apapun bacaannya, adalah sumber pengetahuan," tutur Ardianto. *** (SS)

SHARE