Milenial & Eksistensi Kelab Malam di Jakarta | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Milenial & Eksistensi Kelab Malam di Jakarta
Sopan Sopian | Story

Nightlife Association AS memaparkan sekitar 6.500 klub malam mengurangi jam operasinya. Bahkan, lebih dari 10.000 bar tutup dalam satu dekade terakhir. Dalam catatan, pada tahun 2014, per hari-nya bisa dibilang 6 bar tutup.


Crowd di hari-hari terakhir X2-Photo by X2

Konon, gaya hidup milenial  menjadi 'penyebab' dari menurunnya pamor hiburan malam seperti bar atau kelab tersebut. Genarasi milenial lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah, kafe, belanja, dan traveling. 

The Guardian, menyurvei 196 partisipan dengan rentang usia 18 hingga 35 tahun, memilih menghabiskan waktu di rumah daripada di klub malam. 70 partisipan menyatakan tidak tertarik masuk klub malam, hanya 45 partisipan yang masih tertarik. Lalu apakah gaya hidup v tersebut berpengaruh untuk kondisi kelab malam di Indonesia, khususnya di Jakarta?

Potret Gaya Hidup Millennial di Indonesia
Menurut riset Travel and Tech Agoda 2017, generasi muda Indonesia merupakan orang-orang yang tidak terduga dan spontan. Dari temuan tersebut, diketahui generasi milenial Indonesia berada di peringkat kedua dari dua puluh negara dengan rata-rata lead times 18 hari sebelum liburan, baik ke destinasi domestik dan internasional).

Generasi milenial juga disebut-sebut memiliki dorongan budaya konsumtif yang tinggi. Dewasa ini internet menjadi channel baru dalam konsep jual beli. Tumbuh suburnya aplikasi mobile shopping membuat generasi milenial menjadi sangat bebas memilih dari begitu banyak pilihan, sehingga timbullah sikap pragmatis.


Photo by MALE.co.id

Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJI) menghitung ada peningkatan konsumsi internet di Indonesia setiap tahunnya. Hasil riset ini menemukan bahwa mayoritas generasi millenials kelas menengah urban merupakan kelompok pengguna internet medium user dan heavy user.

"Internet sudah sangat melekat dalam kehidupan generasi milenial, bukan cuma untuk komunikasi atau mengonsumsi konten tapi juga melaukan transaksi dan transportasi, seperti membeli makanan, jalan-jalan, hingga berbelanja pakaian," tutur pengamat digital lifestyle Ben Soebiakto.

Millenial Bukan Faktor Utama
Bicara tutupnya hiburan malam atau kelab malam di Jakarta, memang belum ada penelitian khusus. Tetepi jika mengarah pada gaya hidup millenials Indonesia menjadi faktor tutupnya kelab malam, nampaknya masih menjadi perdebatan.

Pasalnya, beberapa penggiat di balik genderangnya kelap malam ada yang setuju dan ada yang tidak. Pimpinan Event Organizer yang kerap mengadakan event di kelab malam kawasan kemang, Utta Almoshard mengatakan, tidak dipungkiri eksistensi kelab malam di Jakarta menurun. Faktor dari gaya hidup millenials sekarnag adalah salah satunya. 


Utta Almoshard-Photo by MALE.co.id

"Selain profit yang dihasilkan tidak menutup modal ya, menurut saya millenial juga berpengaruh, kaerna orang zaman sekarang lebih suka pergi ke beer house  atau live music. Mungkin orang sudah terlalu jenuh sama yang namanya dugem atau clubbing," tutur pria yang juga seorang Disc jockey (DJ).

Almoshard begitu sapaan akrabnya, tidak takut EO yang ia dirikan tergerus dengan sedikitnya peminat para clubbers untuk datang ke kelab malam. Tetapi justru dengan adanya Bermuda, kata dia, suapa mereka yang masih suka dugem, ada himpunannya. 

"Jadi bisa terarah, lebih rapi saja, mereka juga kan nantinya bisa bikin event sendiri di sana. Intinya, kita juga bisa mewadahi mereka untuk bisa ada aktivitias yang menghasilkan dari hiburan malam," tuturnya.

Meski Bermuda Entertainment telah mempersiapkan untuk ekspansi lebih luas ke kawasan Sudirman dan Senayan. Antisipasi menurunnya eksistensi kelab malam tetap menjadi prioritas. Untuk itu, Bermuda Entertainment tidak hanya bergerak dalam aktivitas hiburan malam. 

"Tetapi kita juga sebuah management, yang menauhi SPG, artis, talent-talent DJ baru, dan rencana kita mau bikinn Weding Organizer, tapi masih cari konsepnya," ucap pria bertubuh gempal itu.

DJ Miabee memiliki pendapat lain. Menurutnya, adanya kelab malam yang tutup di Jakarta bukan berasal dari gaya hidup milenial, melainkan dari persaingan bisnis itu sendiri dan narkoba. "Kelab malam di Kota Tua yang tutup kan semua tahulah ya, karena narkoba, misalnya kaya Alexis, karena itu dan ada prostitusinya," ucapnya.

Beberapa kelab malam yang terbilang besar di kawasan Kota Tua, Jakarta dan sekitarnya memang terpaksa tutup karena disinyalir kerap terjadi transaksi narkoba di dalamnya. Sebut saja Stadium, Mille's, dan Diamond. 


Dj Miabee-Photo by MALE.co.id

Jadi menurut pandangan Miabee, khususnya di Jakarta, millennial bukan menjadi faktor utama, bicara mereka yang suka live musik, apa yang dirinya lihat tidak sebanyak yang main ke kelab malam. "Jadi buat aku sih sebenarnya kelab itu tutup bukan karena apa, balik lagi, tapi karena persaingan bisnis, ganti managemen terus tutup, nanti buka lagi dengan nama yang lain, bukan karena milenial," ucap DJ yang sekaligus pemain FTV itu.

Meski terjun ke dalam dunia DJ berbarengan dengan fenomana tutupnya kelab malam, DJ Miabee tak begitu gusar akan karirnya sebagai peracik musik EDM. Pasalnya, masih ada tempat dan event lain yang bisa menggunakan musik-musik racikan DJ. Misalnya, event otomotif, event kantor, kafe, bar, ulang tahun, hingga pentas seni (pensi). "Malah lebih seru di pensi sih, lebi banyak antusiasnya, jadi banyak fans," tuturnya sambil tertawa.

Yass, Head Marketing Kelab Malam di Kemang, Triplenine, nampaknya sejurus dengan apa yang dikatakan DJ Miabee. Dia mengatakan, tutupnya beberapa kelab malam di kawasan Kota Tua dan sekitarnya memang sudah waktunya. Karena sudah bukan zamannya lagi untuk bergoyang dengan transaksi narkoba. "Memang bukan zamannya lagi darah Kota Tua itu. Narkoba udah nggak deh," ucapnya singkat.

Yas pun memang tak memungkiri jika kelab malam di Kawasan Jakarta Selatan bisa tutup. Tetapi hal tersebut tidak akan banyak alias minim. "Alasannya simpel, alkohol di kawasan Jakarta Selatan masih diminati, bukan narkoba," tuturnya.

Kelab Malam Masih Punya Pasar yang Loyal
Awal Februari 2018 lalu. X2, kelab malam yang terbilang ikonik menyebarkan flayer "Last Dance" Closing Time, It''s Bar Sale! Your Last Cance to Dance At X2 Club! There's No Day, But Today!

Dengan flayer itu, cukup mengagetkan, pasalnya usianya yang terbilang panjang, 11 tahun. X2 harus tutup. Padahal, kelab malam yang mengusung konsep one stop entertainment dengan kapasitas mencapai 5000 orang. Pengunjung dengan selera musik yang berbeda bisa memilih ambience yang sesuai dengan genre musik pilihannya.

Terbagi menjadi tiga ruangan dalam dua lantai. Seperti Equinox dengan musik HipHop R&B dan Urban Mashup, Ego Ultralounge yang memainkan electronic dance music dan juga X2 dengan aliran Trance & Progressive. Kelab malam yang berada di kawasan Senayan ini tidak hanya memiliki resident DJ, tetapi jutga kerap mendatangkan DJ ternama lokal maupun internasional.

Anggit, Ex marketing Event and Promotion Spv X2 mengatakan, tutupnya X2 dan Equinox bukan karena gaya hidup milenial, pasalnya di hari-hari terakhir X2 dan Equinox memiliki trafic pengunjung yang masih stabil. "Apalagi weekend, Equinox selalu ramai dan menjadi salah satu opsi pertama bagi para pelanggan loyal kita," tutur Anggit. 


x2 saat merayakan ulang tahun ke-11 dan sekaligus penutupan tempatnya di Plaza Senayan/Photo by X2 & Equinox

Jadi alasan utama sebenarnya kontrak dari Plaza Senayan tidak diperpanjang. Anggit mengaku terkejut karena pemberitahuan kontrak baru dikabari dua bulan sebelum kontrak habis. "Pada saat itu kita mau memperpanjang kontrak," jelasnya.

Menurut Anggit, kelab malam masih menjadi salah satu opsi yang sangat diminati masyarakat. Tidak dipungkiri, meski harus bersaing dengan bar atau coffee shop. Kelab malam tetap memiliki segmen pasar loyalnya tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan segmen mereka (millenial). 

"Dan persaingan tersebut bukan menjadi alasan utama untuk sebuah kelas malam harus sampai menutup kelab-nya.Karna masih banyak inovasi yang bisa dilakukan untuk bertahan di industri ini," papar wanita pemilik paras cantik itu.

DragonFly (DF), salah satu kelab malam berkelas di bawah naungan Ismaya Group yang berada di Kawasan Gatot Subroto, Jakarta selatan memiliki pandangan yang sama. Pasalnya, millennial bukan faktor pokok tutupnya sebuah kelab malam.


Performance DJ di DragonFly-Photo by DragonFly

Jesika Anesia, Brand Manager DragonFly menuturkan, apa yang terjadi di Amerika (seperti tertulis dalam penelitian di atas) itu berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. "Itu kan di luar negeri ya, kultur di Indonesia berbeda. Di luar negeri, festival banyak banget, daripada di Indonesia. Menurut kami jadi tidak ada pengaruhnya (milenial pada tutupnya kelab malam)," tuturnya. 

Chika, Group Marketing Manager Nightlife Division Ismaya Group menambahkan jika di luar ngeri memang kelab malam memberlakukan waktu maksimal bagi pengunjung. Baik itu untuk masuk dan pindah dari kelab ke kelab lainnya. 

"Contohnya di Australia, jam setengah satu pagi itu, kelab malam di sana tidak memperbolehkan pengunjungnya untuk pindah kelab. Jadi entrance-nya tidak ada, yang ada itu cuma exit. Kalau di Indonesia kan beda, lebih fleksibel," jelas Chika.

Namun, menjaga eksistensi juga perlu, kata Chika, milenial memang bukan faktor utama, tetapi bagaimana millennial bisa menimmati kelab malam. "Tren memang berubah, kita musti tahu trennya apa walau kita nggak ngerti (tren yang lagi digandrungi millennial), jadi diikutin," tuturnya.


Kiri-Kanan: Chika (Group Marketing Manager Nightlife Division), Diaz Adhiputranto (Assistant Brand Manager DragonFly), dan Jesika Anesia (Brand Manager DragonFly)/ Photo by MALE.co.id

Lebih lanjut, Chika menuturkan, bahwasannya inovasi juga diperlukan. Baik itu dari segi renovasi konsep interior ataupun grenre musik sampai event-event yang dihadirkan sebuah kelab malam. "DF kan dulu konsep awalnya genre musiknya House, terus berubah sampe sekarang, karena market jug aberubah. Kita harus ngikutin, nggak boleh terlalu idealis, harus ngikutin zaman. Sehingga kita tidak jadi old school dan ketinggalan. Jadi kita harus yang terdepan," papar Chika.

Maka dari itu, timpal Diaz Adhiputro, Assistant Brand Manager DragonFly, yakin bahwa DF akan terus ada sampai generasi berikutnya. Karena dengan inovasi dan terus mengikuti tren yang ada, kata Diaz, baik dari segi interor, genre musik, hingga event, DragonFly akan tetap eksis dalam dunia hiburan malam. *** (SS)

SHARE