Pentingnya Big Data Bagi Keputusan dan Kemanusiaan - Male Indonesia
Pentingnya Big Data Bagi Keputusan dan Kemanusiaan
MALE ID | Works

Januari 2010, dengan semua pengalaman baik lokal maupun internasional, Regi Wahyu memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan Data Analytics bernama Mediatrac, dan pada Agustus 2016 bernama Dattabot. Dattabot merupakan perusahaan "Operator Big Data Analytics" pertama di Indonesia.

Regi Wahyu bisa mengakui sisi perusahaan data tersebut setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Pengembangan Dimensi Internasional (DDI), General Electric (GE) dan Perusahaan Dupont. Regi mengaku, keluarnya dari perusahaan-perusahaan itu karena muak dengan dunia usaha dan ingin lebih mandiri (wirausaha). 

Pria lulusan Universitas Padjajaran Bandung itu juga mengatakan bahwa sebelum berinvestasi untuk Dattabot, ia sempat mendirikan kantor-kantor Indonesia dari dua perusahaan pemasaran dan komunikasi, Posterscope dan Isobar. Hasil dari itulah, ia mengakuisisi Dattabot. 

Kala itu, ia memiliki visi bahwa Dattabot bisa menghubungkan  semua data offline dan online di dunia Big Data dengan berfokus pada "Teknologi Integrasi Data". Untuk mengejar visinya itu, ia sempat mengambil sertifikasi eksekutif pada Inovasi dan Teknologi di MIT selama 4 tahun.

Dan untuk melengkapi pengetahuan dan perspektifnya tentang inovasi dan teknologi masa depan yang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kemanusiaan di dunia, ia bergabung dengan Pusat Penelitian Program-Nasa Singularity. 

Saat mengembangkan Dattabot, Regi mengaku memiliki kendala utama saat itu. Kendalanya adalah bahwa di Indonesia masih marak penggunaan intuisi, ketimbang data, dalam pengambilan keputusan. Dengan keteguhan hatinya, segenap cara ia lakukan agar para industri hingga kalangan pemerintahan, konsisten menggunakan data sebagai acuan pengambil keputusan.

"Data menggambarkan bisnis kami sebagai perusahaan Data Analytics, Bot yang merupakan kependekan robot menggambarkan kemampuan Artificial Intelligence (AI) kami untuk secara otomatis mengolah data," kata Regi.

Lalu Regi juga menjelaskan bahwa ada hurf T di tengah kata Data. Hal itu melambangkan tiga founding partner yakni Imron Zuhri, Regi Wahyu, dan Tom Malik. 

Merambah Agribisnis
Mulai awal tahun 2014, Regi mengeksplorasi penelitian sosial yang disebut "Big Data on Agriculture" sebagai proyek dampak pribadinya. Tujuan proyek adalah untuk meningkatkan kekayaan petani kecil dengan mengembangkan indeks produktivitas per hektar lahan pertanian, ia mengembangkan 3 pemodelan matematika lanjutan pada proyek percontohan ladang jagung 2000 hektar dan melibatkan 2.500 petani.

Proyek tersebut menjadi cikal bakal berdirinya anak perusahaan Dattabot, Hara. Hara memfokuskan diri pada masalah dan tantangan yang dihadapi pertanian pada tahap praproduksi dan produksi. Dengan kata lain, hara adalah erwujudan visi besar Regi Wahyu untuk membantu masyarakat petani.

"Saat saya coba ini, memang banyak orang yang ragu. 'yakin nih mau ngurusin petani?' tapi buat saya, selama telinga masih tebal, dan saya belajar, saya yakin niat baik akan menemukan jalannya," ucap Regi.

Regi mengaku, bahwa apa yang ia kembangkan tersebut berawal dari kesalahan yang dilakukannya seingga menyebabkan kegagalan. Karena menurutnya semua orang bisa gagal, tetapi bagaimana kegagalan itu bisa memberikan pelejaran dan dampak yang baik. "Saya punya prinsip selalu bisa merayakan kegagalan, krena semua orang pasti gagal," tuturnya.

Meski memiliki pengalaman membangun sebuah bisnis (dattabot), tetapi saat membangun anak perusahanya ini, Hara. Ia masih menemukan hal pelik. Menurutnya, the real problem adalah urusan pelik kala itu. Karena saat berpikir tentang desa dengan kacamata kota, terlihat tidak ada masalah. Padahal masalah itu ada jika memiliki informasi dan datanya. 

"Masalahnya hanya kurang informasi dan datanya tidak ada. Jadi kenapa misalanya petani mencari tengkulak dan segala macam, karena mereka mencari orang terdekat yang bisa membantu mereka di sana," jelas Regi. 

Jadi, menemukan problem sesungguhnya di lapangan, kata Regi, adalah modal utama untuk bisa membangun sebuah startup. Ditambah dengan passion terhadap problem tersebut. "Jika tidak ada passion dan problem, ditambah kesinambungan antar keduanya, itu akan buang-buang waktu saja," tandasnya. *** (SS)
 

SHARE