Begpacker, Traveling dengan Hanya Modal Berani - Male Indonesia
Begpacker, Traveling dengan Hanya Modal Berani
MALE ID | Relax

Anda mengenalkata begpacker? Atau justru lebih familiar dengan backpaker? Jangan disamakan, karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Konon mereka yang melakukan wisata dengan cara begpacker justru lebih dramatis. 

Photo by Austin Distel on Unsplash

Begpacker adalah individu atau kelompok dengan gaya liburan ala backpacker tapi mencari uang untuk liburannya dengan cara mengemis (beg). Cara cari uang untuk liburan ala begpacker pun berbeda-beda, ada yang secara terang-terangan mengemis, ada yang menjual karya seninya secara ilegal, dan ada juga yang mengajak barter barang dengan warga lokal.

Para begpacker ini juga tak jarang mengemis di negara destinasi wisata yang sebenarnya lebih miskin jika dibanding dengan negara asalnya. Sistem begpacker ini terinspirasi dari Kickstarters, GoFundMe, dan crowdfunding lainnya. Tapi banyak yang menganggap bahwa apa yang dilakukan para begpackers ini lebih hina.

Meski dinilai hina, para begpacker ini tetap melakukannya. Dan banyak foto begpacker di berbagai negara sempat viral di media sosial, seperti Twitter dan Instagram. Foto begpacker di berbagai negara mayoritas memiliki pola yang sama, seperti mereka sedang duduk di pinggir jalan dengan membawa papan dari karton dengan tulisan yang intinya meminta sesuatu.

Karena caranya yang terlihat hina, beberapa menyalahkan para kaum begpacker ini karena dinilai merugikan negara yang dikunjungi. Hal tersebut sudah bisa dilihat dari tujuan awal mereka liburan ke suatu negara dengan cara begpacker

Secara sengaja para begpacker datang ke negara yang biasanya negara berkembang, seperti negara-negara di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tanpa membawa kebutuhan dan uang yang cukup. Dengan kata lain para begpacker ini enggan untuk menggunakan uangnya sendiri untuk keperluan liburan di negara tujuan wisatanya.

Padahal apabila mereka ingin membelanjakan uangnya di negara tujuan wisata, maka akan menambah pendapatan negara tersebut. Atau para begpacker ini bisa membeli souvenir di pusat oleh-oleh tradisional dan juga menginap di hotel yang dikelola warga setempat. Tentu saja itu akan lebih bijaksana dan bermanfaat bagi penduduk lokal dan pemerintah daerah.

Karena Kampanye Liburan Gratis?
Beberapa oknum begpacker mengelak dengan berbagai alasan, bahkan mereka mengaku melakukan hal tersebut karena terpaksa. Seperti karena mereka kehilangan dompet dan kehilangan paspor saat liburan.

Padahal kasus seperti itu bisa saja mereka selesaikan di kedutaan besar negaranya masing-masing, tanpa harus menjadi "pengemis" atau begpacker. Munculnya fenomena begpacker juga disinyalir terjadi karena budaya "liburan tanpa biaya" atau kampanye "liburan gratis" yang santer digaungkan di internet, termasuk tagar #begpacker, #begpacking, dan sebagainya.

Banyak juga akun YouTube yang mengajarkan bagaimana cara traveling gratis, ada juga artikel-artikel yang mengajarkan trik wisata tanpa keluar duit. Dan ada pula influencer traveling di Twitter yang kultwit soal liburannya yang gratis tanpa keluar duit sepeserpun.

Semua itu memiliki satu kesamaan, yakni adanya trik dengan cara meminta-minta pada warga lokal, seperti contohnya minta makanan. Salah satu negara tujuan wisata yang mulai gerah dengan begpacker ini adalah Thailand.

Apa Bedanya dengan Digital Nomad atau Nomad Travel?
Berbicara traveling gratis, sebenarnya ada cara lain, seperti salah satunya adalah dengan digital nomad atau nomad travel. Digital nomad dan begpacker memang sama-sama mencari uang saat liburan. Tapi tentu ada bedanya, bro!

Digital nomad biasanya mereka telah memiliki kontrak kerja dengan suatu perusahaan, baik yang dikelola individu maupun korporasi. Dan pekerjaannya bisa dilakukan di manapun. Profesi yang erat hubungannya dengan digital nomad biasanya penulis lepas, jurnalis, desainer grafis, ilustrator, dan pekerja lepas lainnya. 

Mereka biasa kerja di coworking space, hotel, atau kafe, yang penting ada akses internet. Uang yang digital nomad dapatkan dari perusahaan yang memperbolehkan mereka bekerja di luar kantor bisa digunakan untuk liburan dan tinggal dalam kurun waktu yang lama di negara destinasi wisata.

Dan tentu digital nomad atau nomad traveler tidak merugikan siapapun, termasuk pemerintah daerah setempat. Beda dengan begpacker. *** (SS)

SHARE