Merangkul Pasangan Bisa Picu Bahaya Permanen - Male Indonesia
Merangkul Pasangan Bisa Picu Bahaya Permanen
Gading Perkasa | Sex & Health

Bagi pria, tidur dengan posisi merangkul pasangan merupakan hal paling menyenangkan. Terlebih lagi jika Anda menjadikan lengan sebagai bantal si dia.

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Posisi tidur merangkul pasangan seperti itu pun seringkali melambangkan keintiman, terlepas dari berapa lama Anda dan sang wanita menjalin hubungan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut dapat memicu kelumpuhan. Kok bisa?

Kendati terlihat membuat pasangan Anda merasa nyaman, rupanya menjadikan lengan Anda sebagai bantal bukan kebiasaan yang baik dan berdampak bagi saraf di sekujur lengan.

Lumpuh saraf radikal merupakan kondisi yang bisa disebabkan oleh posisi tidur demikian. Keadaan ini juga dikenal dengan sebutan honeymoon palsy atau saturday night palsy.

Sebagaimana dilansir dari Huffington Post, kelumpuhan melibatkan cedera atau kompresi pada saraf radial yang berada di dekat ketiak, lengan atau di sekitar siku. Saraf radikal sendiri berasal dari otot bernama pleksus brakialis.

Pemampatan saraf berpotensi timbul dari tekanan berkepanjangan pada saraf yang terdapat dalam otot-otot di daerah bawah lengan, atau karena adanya tekanan langsung pada aspek poterior atau punggung lengan.

Tekanan langsung yang dimaksud biasanya dialami oleh pria yang senang membiarkan pasangannya tidur di lengan, atau tidur dengan menjadikan lengan sebagai bantal pasangannya.

Oleh karenanya, posisi tidur merangkul pasangan dianggap sangat rentan memicu saraf lengan menjadi kaku dan membuat pergelangan tangan menurun.

Sama seperti honeymoon palsy, kondisi saturday night palsy umumnya dialami orang yang mabuk dan tak sadarkan diri, tertidur menggantungkan tangannya di sandaran kursi. Posisi ini juga dapat memicu otot kaku.

Kondisi tersebut membutuhkan waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Karena penderitanya akan mengalami penurunan pergelangan tangan dan sulit mengacungkan ibu jari sembari memutar pergelangan tangan.

Sementara itu, Erwien Isparnadi, spesialis ortopedi dan traumatologi menjelaskan, honeymoon palsy adalah istilah yang menggambarkan adanya gangguan saraf di lengan. Walau termasuk gangguan saraf ringan, honeymoon palsy tidak berujung pada kelumpuhan.

Menurut Erwien, gejalanya hanya berupa kesemutan dan rasa tebal pada kulit di sekitar area lengan. “Di situlah ada saraf yang tertekan, di lengan saraf yang berbentuk elips,” tuturnya.

Saraf yang tertekan dinamakan neuro axillaris, melekat atau menempel pada tulang lengan atas daerah bahu. Bila bagian saraf itu ditekan terus, bisa terjadi kesemutan.

Ditambahkan oleh Erwien, dekapan yang berlangsung lama di lengan atas akan menimbulkan gangguan sensoris. “Sebab ada penekanan pada saraf lengan atas dan berlangsung lama,” ucap Erwien.

Sejatinya, kata Erwien, gangguan tersebut tidak berbahaya. Honeymoon palsy termasuk gangguan saraf ringan yang tidak membutuhkan penanganan khusus, lantaran bisa kembali seperti semula.

Namun, jika tak kunjung sembuh, bisa diberikan vitamin untuk saraf. Erwien mengaku banyak pria mengeluhkan gangguan itu, hanya saja tak banyak dari mereka pergi ke dokter karena mereka dapat mengatasinya sendiri. [GP]

SHARE