Kekaguman Tata Ular Terhadap Reptil Berbahaya - Male Indonesia
Kekaguman Tata Ular Terhadap Reptil Berbahaya
MALE ID | Sport & Hobby

Tata Ular, begitu namanya ingin disapa. Salah satu pria yang berhasil menikmati hobi menjadi ladang penghidupannya sebagai handler (pawang). Seperti nama belakangnya itu, ia adalah penghobi reptil jenis ular. Mulai dari Sanca hingga King Cobra

"Tata Ular itu sapaan dari teman-teman kuliah sebenarnya. Karena sering bawa sama nangkepin ular," ucapnya saat perkenalan dengan MALE.co.id di Kediamannya di Kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.

Sejatinya, hobi ekstreamnya ini sudah dilakukan sejak duduk di bangku Sekolah Menangah Atas (SMA). Tata mengaku tidak tahu pasti asal-usulnya mengapa ia begitu mencintai reptil jenis ular. Awalnya hanya sekadar suka saja. Ular pertama yang dimiliki Tata adalah Sanca. 

"Waktu masih SMA, awal punya ular itu, ular Sanca, seneng aja, untuk pakan saya suka beli, nggak nyari, nyisihin uang jajan sekolah. Pulang sekolah nyempetin buat beli pakan," tuturnya. 

Rasa senangnya pada reptil jenis ular, terbawa sampai masuk kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Di sinilah nama tenarnya itu lahir. Karena, di waktu ini jugalah, Tata banyak menangkap ular yang berkeliaran. 

Kegemarannya mencari dan menangkap ular, Tata tidak hanya menyusuri semak kampungnya. Ia juga kadang pergi ke Sungai Ciliwung yang dekat dengan kampus. "Habis nangkep dikumpulin, di bawa pulang, nggak banyak sih dulu mah, masih beberapa ekor saja," ungkap pria berkacamata itu.

Karena banyak orang sudah tahu kebiasannya itu, Tata mengaku kerap diminta bantuan untuk menangkap ular yang menyasar ke dalam rumah. Awalnya ia tak ingin mengambil, namun karena cintanya terhadap reptil dan sayang jika dibunuh orang, akhirnya ia menangkapnya dan di bawa pulang.

Tata Ular mengaku, dari seringnya diminta bantuan itulah koleksi ularnya semakin banyak. Hingga ia harus menambah kandang lagi. Sayangnya, karena terbatasnya tempat, ia harus merelakan sebagian koleksi ularnya dikembalikan ke habitatnya.

"Jadi sebenarnya (koleksi) ini banyak dari pemberian. Ada koleksi hasil beli, itu impor, itulah satu-satunya yang saya beli," kata pria pendiri Reptil Mania Club (RMS) Jakarta itu.

Binatang Juga Butuh Senang-Senang
Selama memelihara reptil, Tata Ular mengaku tidak sedikit mendapatkan gigitan atau terkena bisa ular. Namun menurutnya hal itu wajar, karena hewan yang berasal dari alam liar akan memiliki naluri menyerang secara tiba-tiba. 

"Menurutnya, sejinak-jinaknya hewan yang berasal dari alam liar, sewaktu waktu bisa agresif juga. Banyaknya sih pas mindahin dari tempat satu ke tempat yang lain. Jadi tetap harus waspada," ucap Tata.

Tata juga sempat mendapat luka di area kepala karena mendapatkan cakaran monyet saat menghadiri pameran binatang. Saat itu monyet yang ada dikandang lepas. Daripada melukai orang lain, ia dan pemilik mencoba menangkapnya. Alhasil, justru Tatalah yang menjadi korban cakaran hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan jahitan.

Kendati seperti risikonya besar, Tata Ular tidak inging berganti hobinya itu. Menurutnya hal itu memang sudah risiko, ditambah lagi karena sudah pernah digigit, jadi sudah biasa. "Kalau rasa sakit, robekmah udah biasa," tegasnya.

Kendati mereka buas, menurut Tata, binatang juga perlu senang-senang. Sehingga perlu ada perawatan khusus. Bahkan sesekali perlu dikeluarkan dari kandang. Tapi juga harus tetap diawasi. Karena ular bukan kucing yang bisa kembali lagi ke rumahnya. "Ular bisa jinak, tapi balik lagi harus ingat kalau ular habitatnya dari alam liar, sekali lepas nggak bakal balik lagi, jadi harus tetap diawasi," ucapnya.

"Saya juga punya anjing labrador, kura-kura, sama iguana, mereka kadang sama saya dibiarkan berkeliaran di lingkungan rumah, saya ajak seneng-seneng, anjing saya bawa jalan-jalan juga," tambahnya.

Untuk perawatan reptil sendiri, kata Tata, sebenarnya tidak begitu rumit. Hanya perlu rajin membersihkan kandangnya saja. Untuk makanannya juga tidak perlu setiap hari. Karena, reptil paling cepat butuh satu minggu sekali untuk memberikan makanan. "Apalagi ular kalau sedang masa ganti kulit, bisa lebih dari satu minggu baru dikasih makan, jadi paling cepet satu minggu baru dikasih makan," terangnya.

Dari Hobi jadi Handler (Pawang)
Berangkat dari hobinya, Tata Ular kemudian dipercaya menjadi handler atau pawang untuk beberapa adegan sinetron, film, hingga aca-acara dokumenter. Hingga akhirnya itulah yang menjadi kesibukan hari-harinya. Bahkan, kata Tata, program televisi yang membutuhkan jasanya itu tidak hanya dari dalam negeri.

Beberapa film dokumenter produksi luar negeri pun menggunakan jasanya. "Saya sering dipanggil buat nyari ular di hutan, habis ditangkap terus di-setting buat film," ujarnya. "Terus biasanya film butuh adegan yang alami, jadi saya sama anak buah yang handler itu, gimana caranya binatang itu seperti alami di depan kamera," lanjutnya. 

Kadang, kata Tata, jika untuk sinetron hewan-hewan peliharaan yang ada dirumahlah yang menjadi properti atau kebutuhan syuting. Mulai dari anjing, ular, hingga iguana. "Sekarang hobi saya udah jadi kerjaan saya," tandasnya. *** (SS)

SHARE