Kiat Jadi Pria Sesungguhnya Dari Era 1930an - Male Indonesia
Kiat Jadi Pria Sesungguhnya Dari Era 1930an
MALE ID | Relationships

Harus seperti apa seorang pria menjadi pria sesungguhnya? Tentu dalam istilah hubungan pris sesungguhnya adalah pria yang bisa menarik hati wanita. Tidak lembek, tidak berantakan, dan lain sebagainya. Mengapa tampang atau fisik tidak termasuk? Hal in akan Anda temukan alasannya.

Photo by Brooke Cagle on Unsplash

Rumus menjadi pria sesungguhnya untuk wanita ternyata sudah muncul sejak lama, tepatnya pada 1930-an, di mana surat kabar di Inggris mengalami perubahan dan revolusioner. Daily Mail pada 6 Februari 1936 memiliki kolom terkait hubungan atau menampilkan artikel-artikel yang terkait dengan hubungan antar pria dan wanita, yang dipimpin oleh kolumnis Dorothy Dix. 

Di dalam kolom itu, memiliki beberapa kiat menjadi pria sesungguhnya. Menampilkan pandangan untuk pria seharusnya seperti apa di mata wanita. Kiat ini nampaknya relevan untuk hari ini. Seperti apakah kiatnya itu?

Berpenampilan Lebih Baik
Dalam sebuah surat yang khas dari tahun 1938, seorang wanita muda menulis kepada Mirror yang putus asa tentang pasangannya yang datang. Wanita itu menuliskan bahwa pria itu tidak rapi, tidak mencukur rambut dimuka dan kepalanya, tidak menyemir sepatunya, kerah bajunya kotor, dan lain sebagainya. Namun wanita itu kemudian mencoba untuk mengubah penampilan sang prianya.

Sayangnya, surat itu mendapat perhatian dari Dorothy Dix, yang mengatakan untuk tidak melanjutkan hubungannya. Dix berpendapat bahwa, boleh saja mengampuni pria seperti itu, tetapi bagi pria, pakaian sebagai indikator karakter yang jelas. "Wanita mana saja akan segera berhenti mencintai pria yang jorok,” kata Dik.

Artinya pakaian merupakan bagian integral dari seorang pria yang dianggap serius, profesional dan romantis. Dorothy Dix mengutuk pria berpakaian buruk sebagai calon pasangan. Alasannya seorang pria yang terlihat buruk dalam berpakaian akan ditakdirkan untuk gagal dalam profesinya.

Kesimpulannya, Pakaian dilihat sebagai pernyataan identitas yang jelas, pakaian adalah 'kendaraan' di mana seorang pria dapat menyampaikan karakternya ke dunia luar.

Bisa Diandalkan Baik Uang dan Pintar Memasak
Ketika Inggris dilanda pukulan finansial, negara itu jatuh ke dalam periode ketidakpastian ekonomi dan pengangguran yang tinggi selama tahun 1930-an. Masalah uang adalah salah satu sumber yang paling umum dalam masa penuh gejolak itu. Setiap pria dewasa yang tidak dianggap memiliki tanggung jawab keuangan dikutuk sebagai "manusia yang paling menjengkelkan".

Penulis wanita kala itu mengatakan bahwa, tidak pedulia pesona apa yang dibawa pria, jika tidak memberikan kehidupan yang nyaman bagi wanita, tetap saja sebagai pria miskin. Bahkan, lebih keras, seorang pria tidak seharunya meminta atau meminjam uang dari kekasih wanitanya. Singkatnya, pria harus bisa diandalkan dengan uangnya.

Meskipun pria diharapkan baik dalam karirnya, pria juga diharapkan malu untuk mengakui bisa memasak. Para wanita kala itu menganggap bahwa pria yang bisa membantu wanita di dapur terlihat lebih jantan, modern, dan modis. 

Tidak Perlu Tampan
Dorothy Dix, kolumnis Daily Mirror itu mengatakan bahwa penampilan yang baik tidak ada gunanya jika karakter di belakangnya tidak mendukung hal itu. Artinya di sini karakter adalah hal penting daripada penampilan Anda (tampang). 

Dix menjebarkan bahwa penampilan fisik bukanlah bagian penting, namun pria polos selalu bisa mengejar dengan cara dan kepribadiannya, dan pria jelek dengan senyum yang baik bisa menjadi pria yang populer.

Jadi bagaimana MALEnials? walau datang dari era 1930an, bisa dipastikan saran yang diberikan masih cocok untuk digunakan hingga saat ini untuk bisa menarik perhatian wanita. *** (SS)

SHARE