Legenda Milan Ini Memiliki Akademi eSport | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Legenda Milan Ini Memiliki Akademi eSport
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Booming-nya eSport atau olahraga elektornik sejak dekade 2000-an dan awal 2010, menjadikan seorang legenda dari tim nasional Belanda dan klub Milan menyeriusi jenis olahraga baru ini. Ia adalah Ruud Gullit.

FOTO: Jan Arkesteijn/wikipedia

Sebagai legeda, siapa yang tidak tahu nama Ruud Gullit. Bersama timnas Belanda, ia bermain pada 1980-an dan 1990-an sebagai gelandang atau pemain depan sekaligus kapten timnas. Di level klub, pada tahun 1987 Gullit pindah dari PSV ke Milan. 

Saat masih muda, Gullit sangat mudah dikenali, karena ia memiliki rambut gimbal dan kumisnya yang khas, ia adalah bagian dari trio Belanda termasyhur di Milan yang termasuk Marco van Basten dan Frank Rijkaard. Gullit memenangkan tiga gelar Serie A dan dua Piala Eropa bersama Milan.

Gullit yang dikenal sebagai pemain serba bisa ini sempat memenangkan Ballon d'Or pada 1987 dan 1989. Pada tahun 1996, ia menandatangani kontrak dengan Chelsea dan setahun kemudian ditunjuk sebagai pelatih Chelsea. 

FOTO: Vysotsky/wikipedia

Di musim debutnya, dia membawa Chelsea ke Piala FA dan mendapat gelar besar pertama klub selama 26 tahun, dan dengan demikian, Gullit menjadi manajer luar negeri pertama yang memenangkan Piala FA. Selain melatih Chelsea, Gullit juga melatih Newcastle, LA Galaxy hingga asisten pelatih Timnas Belanda.

Akademi eSports Pertama
Dilansir dari Sky Sports, Tim akademi milik Ruud Gullit ternyata menjadi akademi eSports profesional pertama dari dari FIFA.

Akademi ini akan mendukung para pemain dalam menjalani latihan dan pembinaan. Selain itu juga menjadi alat untuk menganalisis dan meningkatkan permainan pada strategi dan taktik. Keputusan Gullit memilih ikut terlibat dengan eSports FIFA ini tidak lepas karena peran kedua putra kandungnya.

FOTO: Danyele/wikipedia

Gullid mengakui, salah satu dari dua anaknya ternyata lebih menikmati bermain eSports FIFA daripada bermain sepakbola secara langsung di lapangan. "Saya berada di dunia FIFA (eSports) karena dua putra saya. Salah satunya bermain sepak bola profesional dan putra saya yang lain lebih menikmati bermain FIFA lebih daripada bermain sepakbola di kehidupan nyata.” ujar sosok yang pernah memperkuat Sampdoria ini.

Gullit juga menyatakan bahwa, saat dirinya pergi mengunjungi kejuaraan dunia FIFA di tahun 2017, dirinya menyadari adanya dunia yang begitu berbeda dan sangat besar. Yakni video games. “Strategi dan pilihan yang pemain FIFA buat memiliki kemiripan yang kuat dengan olahraga kehidupan nyata. " tuturnya. *** (SS)

SHARE