Melihat Peluang Karyawan Ingin Kuliah Sambil Kerja - Male Indonesia
Melihat Peluang Karyawan Ingin Kuliah Sambil Kerja
MALE ID | Works

Berdasarkan studi yang dilakukan World Bank,  84 persen perusahaan manufaktur di Indonesia merasa kesulitan untuk menemukan pegawai yang dapat mengisi posisi supervisior atau manajeman di perusahaan. Kemudian, 69 persen lainnya menyatakan mereka kesulitan untuk mendapatkan pegawai yang memiliki keahlian dan keterampilan yang diperlukan.

CEO HarukaEdu dan Pintaria.com, Novistiar Rustandi

Kemudian, persoalan yang meletarbelakangi hasil studi itu adalah masih rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia. Dari sekitar 111 juta orang dewasa di Indonesia yang bekerja, hanya sekitar 8 juta (7 persen) dari mereka yang bergelar sarjana. Sebanyak 31 juta (28 persen) dari mereka adalah lulusan SMA/SMK dan D-3.

Untuk itu, Novistiar Rustandi bersama dua rekannya, yakni  Gerald Ariff dan Tovan Krisdianto mendirikan sebuah ed-tech startup, yakni Pintaria.com di bawah perusahaan teknologi edukasi PT Haruka Edukasi Utama (HarukaEdu) yang didirkan pada 2013. 

Secara tepat, untuk Pintaria.com sendiri baru resmi dilaunching pada akhir Juli 2018, dan itu merupakan startup pendidikan atau edukasi Indonesia yang menyediakan solusi lengkap dan terpadu dalam menawarkan program kuliah online jenjang S-1 dan S-2 melalui kemitraan dengan perguruan tinggi.

Sejurus dengan itu, Novistiar mengungkapkan bahwa, tenaga kerja Indonesia harus meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan keahlian mereka. Jika tidak, mereka tidak akan dapat bersaing. Sehingga posisi tertentu akan diisi oleh tenaga kerja asing. 

"Tapi, tenaga kerja Indonesia sebenarnya menyadari pentingnya pendidikan tinggi. 75 persen dari mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana sambil bekerja," tuturnya kepada MALE.co.id.

Berawal dari Mimpi
Sebelum membangun HarukaEdu, kala itu tahun 2011, Novistiar memang sudah memiliki mimpi memiliki startup sendiri. Namun masih gamang apakah itu membangun e-commerse atau jenis startup lainnya. Setelah berpikir ulang, kata dia, jika harus mendirikan sebuah e-commerse, persaingannya berat, karena sudah banyak pemain dalam ranah startup itu. Sehingga ia merasa telat jika harus membangun startup sejenis itu.

Kala itu, di mana Novistiar masih menjadi direktur Founder Institute sekaligus mengajar part time di sebuah perguruan tinggi, ia merasakan ada perasaan senang saat melakukan proses belajar mengajar itu. "Ternyata menarik juga ya ngajar, ditambah melihat statistik World Bank itu, saya melihat pertama problemnya besar, terus kenapa sih orang tidak mau kuliah? dan saya melakukan survei di tahun 2012 kepada seribu orang lebih, hasilnya ternyata orang mau kuliah lagi," tuturnya.

Hanya saja, kata dia,  persoalan dari keinginan itu ada dua, pertama masalah waktu dan kedua adalah masalah biaya. Setelah melihat hasil tersebut, ia mencoba berkomunikasi dengan perguruan tinggi di Indonesia. Tapi apa yang didapat justru mengejutkan, tidak hanya dari perguruan tinggi, pemerintah juga berpikiran sama dengan hasil suvei yang dilakukannya, yaitu harus ada program yang bisa menjangkau mereka yang ingin kuliah sambil bekerja. 

"Sehingga pemerintah memperbolehkan Universitas untuk go online. Namun persoalan di Universitas sendiri tidak ada platform untuk itu. Di sanalah kenapa tidak kita buatkan, kita bantu." cerita Novistiar.

Jadi, tambah dia, bentuk kerjasamanya adalah HarukaEdi menyediakan dan mengembangkan infrastruktur IT yang diperlukan untuk menyelenggarakan program pendidikan jarak jauh (kuliah online). "Kami menerima fee dari jasa yang kami berikan tersebut. Jadi perbedaannya ini, HarukaEdu adalah perusahaannya, Pintaria itu adalah website-nya," tambahnya.

Novistiar menyadari jarak dari HarukaEdu ke Pintaria.com memiliki waktu panjang. Hal itu karena diperlukan penelitian dan survei-survei lebih dahulu. Pasalnya, kata dia, dalam membangun sebuah startup tentu harus melihat adanya problem-problem yang bisa dipecahkan. "Dan problemnya itu besar. Jika problemnya itu tidak ada. Siapa yang akan jadi customer-nya," ucapnya.

Dari Rumah
Saat bertiga, Novistiar Rustandi, Gerald Ariff dan Tovan Krisdianto mengawali startup-nya dari rumah masing-masing saat mengolah surbvei yang mereka lakukan untuk membangun HarukaEdu, tentu ini belum sampai pada Pintaria.com. Hal itu mereka manfaatkan untuk beberapa bulan.

Kemudian, salah satu mentor atau rekan mengajar Novistiar dengan senang hati meminjamkan sebuah kantor. Mungkin di sini awal semangat tiga sekawan itu memupuk perusahaan teknologi pendidikannya. Setelah berjalannya waktu, HarukaEdu mulai mengalami peningkatan. Barulah mereka pindah dengan kantor sendiri. Meski kala itu masih menyewa. 

Kesulitan Membangun HarukaEdu Sampai Pintaria.com
Mengawali investasi dengan bootstrapping, kini HarukaEdu memiliki karyawan lebih dari seratus orang. Namun, dibalik kesuksesannya tersebut, Novistiar mengaku memiliki banyak kendala. Novis mengaku, dari sekian banyak kendala atau kesulitan, tentu salah satunya adalah mendapatkan kepercayaan investor.

"Tidak hanya itu saja, mendapatkan partner perguruan tinggi juga diawal-awal buat kita sesuatu yang susah. Karena awalnya orang tidak tahu kita, siapa sih kita? tidak ada yang percaya dan mau ngapain. Kemudian mendapatkan tim yang bagus juga tidak gampang, ya. Apalagi kita startup yang kecil, sedangkan disaat yang sama banyak startup yang gede tumbuh pesat," ceritanya.

Jadi menurutnya, dari sekian banyak tantangan tidak ada merasa dimudahkan, seluruh kesulitan itu adalah tantangan berat bagi Novis dan dua rekannya. Bahkan, dari pertama mendirikan startup hingga mendapat kucuran dana dari sebuah angel investor dan CyberAgent Ventures, kata Novis, memiliki jarak waktu cukup jauh. "Kita baru dapat investor itu sekitar tahun 2015-anlah. Jadi kurang lebih dua tahunlah," tuturnya. *** (SS)

SHARE