Aplikasi Kencan yang Dihubungkan dengan Fantasi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Aplikasi Kencan yang Dihubungkan dengan Fantasi
Sopan Sopian | Digital Life

Dibuat oleh Andriy Yaroshenko, seorang seksolog dan digital mareketing berpengalaman, aplikasi Fantasy diklaim sebagai platform kencan intim positif untuk pasangan dan individu dalam hubungan non-monogami. Karena faktanya, 40 persen pengguna aplikasi masih memiliki hubungan.

Photo by Elijah O'Donell on Unsplash

Para pengguna aplikasi ini terhhubung berdasarkan celah, fetish, dan fantasi mereka. Yaroshenko mengatakan dalam laman thenextweb, bahwasannya pengguna aplikasi Fantasy disatukan oleh empat atribut utama, yakni sikap positif terhadap seks dan fantasi seksual, minat dalam mengembangkan seksualitas mereka, dan kreativitas yang berkaitan dengan bereksperimen, serta minat yang sehat dalam memperoleh pengetahuan baru.

Setiap pengembang boleh saja beralasan, tetapi apakah ini hanya cara 'mewah' untuk mendandani aplikasi yang pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti layanan kencan lainnya. Atas dasar itu, Yaroshenko menjawab dengan mengatakan dia ingin aplikasi Fantasy menjadi panduan untuk perkembangan intim seseorang dengan tidak mencari di suatu tempat untuk "menemukan" tubuh "terdekat untuk pelepasan hasrat".

Atas dasar kata 'positif', aplikasi ini pun mengembangkan dan menjalankan sebuah blok seks yang dikalim positif di dalam aplikasinya. Tapi nampaknya ada unsur lain yang menonjol bagi beberapa orang, yakni masalah keamanan. Meski mengklaim aplikasi besutannya pada intim yang positif, tetapi dalam praktiknya masalah seksual masih tabu dalam masyarakat yang lebih luas. Ditambah lagi, hacker bisa memperoleh data dari para pengguna.

Yaroshenko menjelaskan, untuk menggunakan aplikasi Fantasy ini, pengguna harus menghubungkan profil Facebook untuk sistem registasi. Meski dirinya menjamin keamanan dengan mengatakan bahwa profil kencan pengguna disembunyikan dari teman-teman di jaringan media sosial. Namun, bug yang mengungkapkan informasi pribadi cukup umum di dunia teknologi dan berbhaya bagi pengguna jika hacker berhasil mendapatkan informasi masing-masing pengguna.

"Kami menggunakan berbagai perlindungan untuk melindungi informasi pribadi yang disampaikan kepada kami," kata Yaroshenko. “Namun, tidak ada metode transmisi melalui Internet atau melalui perangkat seluler, atau metode penyimpanan elektronik, 100% aman. Untuk sementara kami terus berusaha untuk melindungi informasi pribadi, kami tidak dapat menjamin keamanan mutlaknya. Tidak seorang pun, bahkan Facebook atau Tinder tidak dapat menjamin ini,” lanjutnya.

Meski terdengar menyegarkan ketika pendiri berbicara tentang keamanan dengan jujur. Tetapi, pengguna harus tetap berhati-hati, karena pencurian data atau informasi pribadi tetap saja masih memiliki celah bagi para hacker. Tetapi aplikasi ini menarik juga bagi para pria. Karena mereka terhubung dengan wanita yang terbuka tentang asmara non-monogami. *** (SS)

SHARE