Mesut Ozil dan Penyesalannya di Timnas Jerman | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Mesut Ozil dan Penyesalannya di Timnas Jerman
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Mesut Ozil sempat menjadi bintang yang sukses mengantarkan Jerman ke puncak tertinggi Piala Dunia pada 2014 lalu. Umpannya selalu dinanti oleh penyerang Der Panzer, sementara para suporter menantikan gol-gol indah.

Steindy/wikipedia

Karena dianggap menarik, tak sedikit kaum hawa tergila-gila akan kemampuannya. Namun, Piala Dunia 2018 merupakan mimpi buruk bagi Mesut Ozil. Banyak pihak menuding gelandang Arsenal itu sebagai penyebab kegagalan Jerman melewati fase grup.

Parahnya lagi, loyalitas Ozil mulai dipertanyakan setelah fotonya bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan beredar. Ia dituding bermain tidak sepenuh hati untuk tim yang sudah menjuarai Piala Dunia sebanyak empat kali.

“Saya tidak terima bila media Jerman menyalahkan karena dua keturunan yang ada dalam diri saya. Dengan berat hati saya memutuskan tidak lagi bermain untuk Jerman,” tulis Ozil di akun twitter-nya. Artinya, Ozil telah gantung sepatu dari timnas.

“Keluarga saya berasal dari Turki, sementara saya besar di Jerman. Mereka selalu mengingatkan agar tidak lupa dari mana saya berasal. Itulah yang masih saya pegang teguh sampai sekarang,” kata Ozil melalui keterangan tertulisnya.

Entah bagaimana ceritanya, publik Jerman mengaitkan kegagalan timnas Jerman di Piala Dunia 2018 dengan foto Ozil dan Erdogan yang sempat viral beberapa waktu lalu. Meski ia menegaskan bahwa pertemuannya tidak memiliki muatan politik, publik telah termakan isu.

“Bulan Mei, saya bertemu Presiden Erdogan pada acara pendidikan di London. Pertama kali kami bertemu di tahun 2010, saat dia menyaksikan pertandingan Jerman melawan Turki,” ujarnya.

Menurutnya, ia hanya menghormati Erdogan yang notabene keturunan Turki dan membicarakan sepak bola. Sayangnya publik tidak peduli akan fakta tersebut, justru menuduhnya sebagai pengkhianat.

Ia juga menyayangkan media Jerman yang mengambil potret dari sudut pandang negatif. “Bagi saya ini bukan soal apakah presidennya Erdogan, namun soal menghargai keluarga. Saya adalah pemain sepak bola, bukan politikus,” jawabnya.

Memang pada umumnya pemimpin politik sulit dipisahkan dari kehidupan politik di kesehariannya. Tapi, tambah Ozil, kasusnya dengan Erdogan sangatlah berbeda. Apa pun hasil pemilu, ia tetap akan mengambil fotonya bersama sang pemimpin Turki.

Dan terakhir, ia menyebutkan penilaian Federasi Sepak Bola Jerman cenderung kurang objektif. “Saya dianggap sebagai orang Jerman bila kami menang, tapi dianggap imigran bila kalah,” tutur Ozil. [GP]

SHARE