Sosok Jenius & Ambisius Pencetus Electronic Rock | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Sosok Jenius & Ambisius Pencetus Electronic Rock
Gading Perkasa | News

Trent Reznor mungkin adalah satu dari sekian banyak musisi yang layak menyandang gelar ‘jenius’ di bidangnya. Di kancah rock agresif, tak jarang karya-karya berkualitas muncul dari tangan dingin musisi perfeksionis nan ambisius itu.

Plain Alicia's Photography/flickr

Sebagai mastermind sejati, Trent Reznor menciptakan karyanya sendiri dari titik awal hingga akhir, dan dia pula dalang di balik aliansi rock berbahaya bernama Nine Inch Nails.

Di awal kariernya bersama Nine Inch Nails, Reznor mengaku cukup kesulitan menemukan rekan yang mengerti akan kemauannya. Ia juga mengungkapkan bahwa musisi serba bisa, Prince, turut andil dalam pembentukan musikal dirinya.

Sejak itu, ia memutuskan untuk memainkan semua instrumen musik seorang diri, terkecuali drum. Hal tersebut cukup membuatnya betah berlama-lama di dalam studio musik selama berhari-hari.

Didapuk menjadi band pembuka Skinny Puppy, Nine Inch Nails akhirnya merilis album debut menjanjikan berjudul Pretty Hate Machine (1989).

Tak disangka album ini meraih kesuksesan di pasar internasional. Deretan single jagoan macam Head Like a Hole, Down in It, dan Sin berhasil mencuri perhatian penggemar musik rock kala itu.

Namun karena ketatnya tekanan dari pihak label, pasca merilis album debutnya, Trent Reznor menggencarkan karya baru tanpa diketahui pihak label yang menaungi Nine Inch Nails.

Hal ini dilakukannya untuk menghindari campur tangan pihak label atas karya terbarunya. Alhasil, dobel album mini NIN lahir, yakni Broken dan Fixed yang rilis hampir bersamaan pada 1992.

NIN meraih penghargaan di ajang bergengsi Grammy Award 1993, pada kategori ‘Best Metal Performance’. Single andalan mereka, Wish, mampu mengungguli karya-karya elit rock seperti Megadeth, Ministry, Soundgarden, sampai Helmet.

Ini adalah bukti nyata bahwa Trent Reznor siap memimpin jagat rock dengan sentuhan lebih modern, liar, dan provokatif.

Tahun 1994 adalah momen historikal bagi Reznor. Segala pencapaian tertingginya sukses dituangkan lewat katalog ambisius nan sempurna bertajuk The Downward Spiral.

Beragam media musik dan kritikus tak segan menyematkan mahakarya ini sebagai salah satu album terbaik. Kancah industrial rock mengalami puncak kejayaan di era 90-an, menempatkan Nine Inch Nails sebagai band pendatang baru yang cukup berpengaruh.

The Downward Spiral menawarkan pengalaman berbeda di tiap track. Selalu ada nuansa unik dan kelam. Peleburan maut antara kekacauan, destruktif, emosi dan disonansi saling berbenturan. Reznor mendobrak tatanan batas lewat eksplorasi musikal.   

Tanpa disadari, ia perlahan ‘tenggelam’ dalam kehidupannya sendiri dan depresi berkepanjangan. Ia mengonsumsi obat-obat terlarang dan alkohol sebagai jalan pintas pelarian hidupnya.

Maka di waktu yang cukup lama, lahir album tergelap NIN, The Fragile (1999). Kendati tak semasif The Downward Spiral, album tersebut setidaknya masih dipuji para kritikus musik.

Masa-masa kelam Reznor akhirnya memudar. Ia kembali produktif menelurkan karya. Sampai sejauh ini, ia telah melepaskan delapan album studio dan aktif terlibat sebagai kolaborator dengan sejumlah musisi tenar, dan merambah dunia film.

Rasanya sulit dipungkiri bahwa Trent Reznor merupakan salah satu musisi jenius di generasinya. Inovasi dan optimisme selalu ia tuangkan secara kompleks, melibas batasan yang telah digariskan. [GP]

SHARE