Menjawab Lesunya Industri Musik di Era Digital | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Menjawab Lesunya Industri Musik di Era Digital
Gading Perkasa | Story

Industri musik dunia sempat berjaya di era 70-an dan 80-an, bahkan mencapai puncaknya di era 90-an lantaran banyaknya talenta muda bermunculan. Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan musisi idolanya di setiap panggung konser terbilang tinggi.

pixabay

Ditambah, digitalisasi belum mendunia saat itu. Industri musik yang mengandalkan pita magnetik masih menjadi pilihan utama konsumen. Di manapun kita mudah menemukan toko kaset.

Penjualan album rekaman para musisi laku keras di pasaran. Sebagian orang pun mencoba peruntungannya berkarier di dunia musik. Entah membentuk sebuah band, atau menjadi penyanyi solo.

Setelah itu, muncul rekaman audio dalam Compact Disc (CD) yang notabene harganya cukup tinggi dibandingkan kaset. Perbedaan mencolok ini membuat pihak-pihak tak bertanggung jawab menggandakan dan memproduksi CD bajakan secara masif.

Minat masyarakat untuk membeli karya-karya original musisi mulai menunjukkan tren penurunan. Sedangkan pencipta lagu dan musisi dirugikan karena tidak mendapatkan hak royalti atas penjualan album mereka.

Siapa yang sepatutnya disalahkan? Pastinya para pembajak. Sayangnya ‘membersihkan’ seluruh pelakunya dari industri musik bukanlah perkara gampang. Pembajakan justru merajalela dan mengakibatkan sejumlah musisi gulung tikar.

Kemajuan Teknologi di Era Digital
Teknologi yang berkembang pesat seolah turut andil terhadap keengganan masyarakat membeli kaset dan CD. Situs-situs berbagi (sharing) file musik menjamur, tidak terhitung jumlahnya.

Pengguna internet juga dapat menyaksikan video grup musik idolanya di Youtube. Lantas buat apa membeli rekaman fisik kalau bisa mengunduh lagu yang diinginkan secara cuma-cuma?

Maka jangan heran, toko sebesar Aquarius Mahakam di Jakarta tutup pada Desember 2013 lalu. Kemudian disusul Disc Tarra yang menutup sejumlah outlet per 31 Desember 2015.

Produser rekaman nasional mulai sadar bahwa toko kaset dan CD tidak lagi bisa diandalkan. Sebagai gantinya dibuatlah terobosan yaitu promosi lewat restoran cepat saji, mini market dan SPBU, namun hasilnya sia-sia saja.

pixabay

Apa yang terjadi di Indonesia juga dialami di negara-negara lain di dunia. Tower Records, waralaba musik ritel internasional yang berbasis di Sacramento, California, Amerika Serikat, tutup di tahun 2006 pasca dinyatakan bangkrut.

Kemajuan teknologi telah mengubah gaya hidup generasi muda, termasuk cara dan kebiasaan mengonsumsi musik. Kondisi itu tergambar dari hasil jajak pendapat Kompas yang diselenggarakan pada Agustus 2015.

Hasilnya, hanya 1% dari 734 responden dalam jajak pendapat ini yang mengaku masih mendengarkan musik lewat perangkat pemutar kaset atau CD. Sementara 62% responden mengunduh lagu dalam format digital, dan 15% lainnya mengakses laman Youtube.

Penelitian Global World Index menyimpulkan, jumlah orang yang mendengarkan musik di internet meningkat hingga 76% selama periode 2012-2015, dimana mayoritas dari mereka berusia 16-24 tahun.

pxhere

Data lain dari International Federation of Phonographic Industry (IFPI) mencatat sebanyak 46% pendapatan industri musik secara global di tahun 2014 lalu dikuasai rekaman musik digital.

Melihat tren tersebut, kini label besar menggunakan trik merilis satu single artisnya terlebih dahulu di Youtube atau Vevo. Dari situ mereka memantau, berapa banyak viewer yang menonton.

Panggung Mulai Sepi Peminat
Konser off air sudah jarang ditemui. Jumlahnya setiap tahun bisa dihitung dengan jari. Sebab, biayanya cukup tinggi dan belum tentu hasilnya efektif. Kalaupun ada, itu dipicu oleh permintaan dari penyelenggara event dan sponsor, bukan murni label rekaman.

Satu contoh, panggung musik di acara JakCloth pada tahun 2017 menjadi panggung terakhir setelah sembilan tahun digelar bersamaan dalam acara tersebut.

“Tahun 2018 konsepnya tidak lagi seperti ini. Dulu kita mengenalkan clothing lewat band. Sekarang justru sebaliknya,” kata Ucok Nasution, CEO Lian Mipro selaku penyelenggara JakCloth.

Photo credit: sayHiVi on VisualHunt / CC BY-NC

Menurut Ucok, beberapa gelaran JakCloth di tahun-tahun sebelumnya, panggung musik membuat pengunjung yang ingin mendatangi booth clothing terganggu. “Sebagian pengunjung datang sebelum band main. Mereka malas begitu orang nonton jadinya sempit,” tuturnya.

Bahkan, festival musik metal Hammersonic yang diadakan di Carnaval Beach Ancol, Jakarta pada 22 Juli 2018 lalu juga dikabarkan akan menjadi yang terakhir. Menyusul sebuah tulisan di teaser Hammersonic 2018, yakni “The Last From Us!”.

“Saya kaget ada the last from us. Sayang harus berakhir, soalnya Hammersonic itu festival terbesar dan konsisten di Asia Tenggara. Kapan lagi bisa nonton band gede,” ujar Adam ‘Vladvamp’, salah satu personel Koil. [GP]

SHARE