Nasib Game Retro di Tengah Gempuran Teknologi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Nasib Game Retro di Tengah Gempuran Teknologi
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Eksistensi game retro di era sekarang terbilang samar. Tidak banyak generasi milenial mengetahui keberadaannya. Alasannya cuma satu, mereka senantiasa dijejali game online dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Sementara bagi sebagian orang, game retro dinilai sudah ketinggalan zaman. Kemajuan teknologi menuntut pihak pengembang (developer) menciptakan perangkat dan game yang dapat memuaskan hasrat bermain mereka, baik dari segi grafis, gameplay atau hal lainnya.

Lantas, apakah kita layak mengatakan bahwa game retro benar-benar di ambang kepunahan? Guna menanggapi hal itu, MALE Indonesia telah menghimpun informasi lengkap dari Republic Games and Collector Indonesia (RGCI).

Media untuk Nostalgia

Wadah berisi sekitar 1.400 kolektor game yang memiliki kesamaan minat ini resmi berdiri pada Oktober 2015. Menurut salah satu founder RGCI, Ramadani M., setiap kolektor berfokus pada lininya masing-masing.

“Tidak sedikit orang yang antusias terhadap game retro dan mengoleksinya. Entah Nintendo, Sega, Super Nintendo dan yang terbaru PlayStation 4. Sedangkan konsol yang paling banyak dikoleksi umumnya Atari, dari edisi tahun 70 hingga sekarang,” kata Dani.

Komunitas RGCI ikut berpartisipasi di ajang Bekraf Game Prime 2018, 14 Juli 2018 lalu. Dani menuturkan, di ajang itu dirinya bersama teman-teman di komunitas membawa misi bagi kelangsungan game retro.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

“Pertama, kami ingin bikin orang-orang bernostalgia. Misalnya dulu mereka pernah bermain ding-dong, bisa memainkannya lagi. Buat yang belum tahu, mereka tinggal mencoba mesin arcade tersebut,” tuturnya.

“Berikutnya, pameran game ini adalah upaya menjaga hubungan antara kolektor dan komunitas game di luar sana, seperti komunitas PlayStation 4 atau Xbox One. Sudah wajar apabila keduanya saling dekat,” tuturnya lagi.

Kendala menggaungkan game retro

Dani mengakui, ada kendala dalam mengenalkan game retro ke kalangan milenial karena kehadiran emulator. Mereka tidak concern ke bagian fisik konsol, melainkan lebih menyoal gameplay. Sementara para kolektor menyukai orisinalitas, dengan keunikannya di masa lampau.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

“Tujuan RGCI mengadakan pameran supaya mereka tahu seperti apa bentuk NES atau SEGA yang biasa mereka mainkan. Mudah-mudahan setelah menyaksikan dan mencoba, mereka tertarik mengoleksinya,” ujar Dani.

Founder RGCI lainnya, Rizki, turut angkat bicara. Menurutnya, RGCI hendak menyampaikan pesan kepada generasi milenial agar tahu betapa serunya pengalaman bermain arcade game dan pentingnya game orisinal.

“Ketika saya main dulu, banyak sekali game bajakan. Ada satu value yang hanya dipunyai oleh game orisinal. Selain itu juga, pemain bisa duduk bersama dan berinteraksi saat memainkan arcade game, tidak seperti multiplayer game,” kata Rizki.

Bukan tanpa alasan RGCI gencar mempopulerkan kembali game retro. Pasalnya, ada kecenderungan bahwa milenial akan menjadi lost generation yang tidak mengenal game-game terdahulu.

“Dulu, game Pong tidak terlalu booming di Indonesia, sehingga generasi sekarang tidak mengetahuinya. Saya dan teman-teman tidak mau Atari, NES dan lain-lain ikut terlupakan. Mungkin Anda belum tertarik hari ini, but someday you’re looking for a retro game, we are still here,” ucap Dani.

RGCI juga punya cara lain demi mengembalikan eksistensi game retro. Baik lewat website resmi www.rgci.us, media sosial seperti Instagram, grup dan fanpage di Facebook (berjumlah 4.000 orang), serta subscriber di akun Youtube bernama Republik Sultan (1.800 orang).

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

“Di semua media itu RGCI memberikan informasi mengenai judul game atau konsol lama. Akhirnya, banyak orang terpengaruh dan mulai mengoleksi game retro,” aku Dani.

Perdebatan di Dunia Game
Di setiap bidang, selalu ada pro dan kontra. Begitu pula dengan game. Dani menilai, kaum milenial jauh lebih tertarik pada e-sports yang mengutamakan keseruan bermain, sedangkan kolektor game retro lebih peduli akan story dan game experience.

“Masing-masing gamer punya minatnya sendiri. Selama Anda berada di dunia game, kenapa harus jadi musuh? Aneh kalau pecinta game retro dan e-sports saling berseberangan,” tuturnya.

Ditambahkan oleh Dani, gameplay dari game retro sangat jauh berbeda dibanding game kekinian. Perbedaan teknologi, serta faktor gengsi lantaran orang-orang selalu memainkan game yang sedang hype.

Apakah perdebatan hanya membandingkan seputar keunggulan game retro dengan e-sports semata? Rupanya tidak. Di beberapa kasus, pecinta konsol PlayStation 4 dan Nintendo Switch saling mengklaim bahwa konsol mereka adalah yang terbaik.

“Bila Anda bertemu seorang fanboy, tinggalkan saja. Karena menurut saya, PlayStation 4 dan Nintendo Switch tidak apple to apple. Sebagian game Nintendo untuk casual gamer. Sementara 70% game PlayStation 4 dikhususkan bagi hardcore gamer,” ujar Dani.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Ia berpesan agar seorang gamer menjadikan game sebagai sarana untuk menyatukan perdebatan. “Kalau Anda gamer, Anda adalah saudara saya. Bila tidak, akan saya racuni biar jadi saudara saya,” ujarnya lagi.

Tanggapan Ketua AGI
Dalam kesempatan yang sama, Narendra Wicaksono, Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia, mengemukakan pendapatnya terkait masa depan game retro.

“Sebenarnya antusiasme orang terhadap game itu cukup besar. Saya sendiri juga excited, soalnya seperti mengulang masa lalu,” ucapnya.

Kendati demikian, ia tidak memungkiri jika game retro sulit kembali ke masa-masa kejayaan seperti di era 80-an hingga 90-an lantaran zaman dan teknologi yang sudah berubah.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

“Penyebab mereka kalah dari game kekinian bisa dilandasi faktor generasi. Teman-teman di generasi saya sudah tak lagi bermain game retro, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sementara milenial sudah memiliki ponsel sebagai perangkat untuk bermain,” kata Narendra.

Harapan Narendra mengenai industri game di Indonesia, tidak melulu bergantung pada pihak luar. Sehingga anak bangsa dapat menghasilkan karya-karya inovatif.

“Untuk setiap game, mau itu game retro, perangkat desktop dan lain-lain, kalau bisa para pelakunya orang Indonesia,” katanya lagi. [GP]

SHARE