Tinggalkan Comfort Zone Demi Konsep Smart City - Male Indonesia
Tinggalkan Comfort Zone Demi Konsep Smart City
MALE ID | Works

Berawal dari Yaris yang terjun ke sungai, warga yang bingung harus melakukan apa, Matakota, sebuah aplikasi berbasis media sosial lahir, sekaligus menjadi salah satu tools penting dalam pengembangan konsep smart city.

Erick Karya/FOTO: Male.co.id

Erick Karya, Chief Executive Officer Matakota menuturkan, kala itu, warga bingung harus melakukan apa, karena tidak ada sistem yang terintegrasi, warga juga bingung antara lapor ke polisi atau ke damkar. "Malah sempet ada warga yang menyarakan lapor polisi, tapi saya bilang, bukan polisi, yang harus turun ini damkar," cerita Erick kepada MALE.co.id.

Melihat hal inilah, kata Erick, hal yang sifatnya pengaduan, setiap instansi perlu memiliki pengaduan yang langsung terintegrasi dengan masyarakat. "Matakota memang secara tidak langsung menjadi kepanjangan tangan itu," kata pria asal Surabaya ini.

Berbasis Media Sosial
Demi menjadi kota yang menyandang status smart city dan memanjakan para penduduknya, beberapa pemerintah daerah di Indonesia telah melakukan beberapa inovasi berbasis teknologi. Mereka pun menghadirkan hal-hal seperti aplikasi pengaduan, hingga menempelkan perangkat Internet of Things (IoT) di beberapa lokasi dan aset milik pemerintah. 

Hal ini mereka lakukan baik dengan cara membuatnya sendiri, atau dengan menggandeng pihak ketiga. Namun menurut Erick, apa yang telah dilakukan para pemerintah daerah tersebut masih belum cukup. “Aplikasi yang dikembangkan saat ini lebih menciptakan suasana mengadu dan mengeluh dengan fitur pelaporan, bukan sebagai platform untuk membangun dan berbagi informasi,” tutur Erick.

Matakota ini diakui Erick memang hampir serupa dengan startup smart city lainnya, mengandalkan penggunaan perangkat IoT dan aplikasi mobile. Namun bedanya berbasis sosial media yang menghubungkan interaksi warga (netizen) dengan otoritas pemerintahan. Setiap netizen bisa berbagi informasi seputar  kemacetan lalu lintas, kejadian bencana alam, tindak kriminal, informasi anak hilang, dan sebagainya.

"Jadi instansi pemerintahan, kepolisian, bisa saling terintegrasi. Cuman dalam aplikasi ini yang dibahas bukan soal komplain atau bukan aplikasi pengaduan, tetapi aplikasi Matakota ini lebih membangun untuk kotanya lebih improve," jelas Erick.

Erick mencontohnya, di Surabaya, menurut data Matakota, dalam satu bulan selalu ada mobil masuk sungai satu kali. Kemudian Matakota merilis itu berdasarkan postingan warga, dan pemerintah akhirnya bisa mengetahui persoalan apa yang terjadi di lapangan dari postingan netizen ini.

Contoh lainnya seperti di Probolinggo yang masih marak dengan pembegalan, warga yang telah menggunakan menggunakan aplikasi ini, kemudian memposting sebuah kejadian pembegalan, pihak-pihak yang bisa terkait dengan pembegalan tersebut mendapatkan notifikasi, seperti kepolisisan akan mendapatkan notifikasi dan langsung turun tangan. 

"Contoh lainnya, ada kecelakan di sebuah tempat, warga yang  melihat kemudian mempostingnya bahwa di sebuah tempat ini ada kecelakan, pihak terkait dengan kecelakan itu mendapatkan notif, ternyata saat itu yang terdekat ada dokter, kemudian bisa langsung menangani penanganan awalnya," jelas Erick.

Merelakan Posisi Pimpinan di BUMN
Bersama tujuh teman kuliah dan teman kerja, Matakota sendiri memulai pengembangan produk mereka sejak bulan November 2016. Mereka akhirnya berhasil meluncurkan aplikasi mobile untuk perangkat Android pada akhir bulan Maret 2017. "Awalnya mencoba bikin platform yang waktu itu mirip-mirip dengan sistem pengaduan," Erick menuturkan.

Saat itu, lanjut Erick, memang fokusnya pada pemerintah. Namun seiring berjalannya waktu masih sepi peminat dalam penggunakan platrom itu. Setelah dia dan team merembuk dan mengubah gaya titik fokus yang tadinya ke pemerintah, kini fokus pada warganya, akhirnya aplikasi yang dibangun tumbuh hingga 9.000 user.

Pada awal-awal pembuatan, kata Erick, dirinya memang masih sempat melakukan kerja-kerja ke dinasan. Karena saat itu ia masih bekerja di bidang IT di perusahaan BUMN. Merasa yakin dengan perkembangan startup yang tengah dia bangun, Erick bahkan sampai keluar dari pekerjaan tetapnya di BUMN tersebut.

“Saya memutuskan untuk keluar meski posisi terakhir saya waktu itu sedang dipromosikan menjadi manager. Menurut saya, menunggu pensiun bukanlah pilihan yang tepat di era millennial seperti sekarang. Kita justru harus terjun langsung dalam perubahan tersebut dengan berkontribusi pada masyarakat,” ujar Erick.

Pendanaan Awal
Sebagi informasi, Matakota menghadirkan segala fitur mereka untuk masyarakat dan pemerintah daerah secara gratis. Seperti  fitur Panic Button, Fake Report (memberantas hoax), dan Mata Live untuk melihat trafick secara real time dengan menggunakan CCTV dan drone.

Erick berterus terang untuk soal pendanaan awal, di area founding merasa kesulitan, apalagi ketika memutuskan dan keluar dari pekerjaan, Matakota masih belum cukup berkembang. Bootstrap, akta Erick, menjadi langkah seperti startup pada umumnya.  "Dulu kerja saya kan di area kedinasan, di BUMN, ada sedikit benefit kenalan sini situ," tutur Erick. 

Seiring berjalannya waktu dan peminat semakin banyak, Matakota mengaku telah mendapat pendanaan dari angel investor. Dirinya sudah empat kali ke angel investor selama 2018. "Serta selain boostrap juga kita dari penghargaan tiga award, seperti Witeck, Silicon Valley, dan salah satunya tadi dapet founding dari Fenox," ungkap Erick.

Kemudian untuk penghasilan selanjutnya, Matakota hanya mengambil pemasukan dari penjualan beacon, alias alat pemancar kecil yang mereka pasang di berbagai lokasi. Selain itu, mereka juga mendapat pemasukan dari pemasangan iklan (premium ads).

Saat ini, Matakota mengaku telah melakukan MoU dengan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, dan telah memasang beacon di beberapa kantor instansi pemerintah di Probolinggo, Bangka Belitung, dan Mamuju. "Tapi untuk MoU lagi untuk sekarang kita tidak targetkan lagi, kita sekarang fokus untuk menambah user saja," tandas Erick. *** (SS)


 

SHARE