Media Sosial & Gelombang Baru Erotika Amatir - Male Indonesia
Media Sosial & Gelombang Baru Erotika Amatir
Sopan Sopian | Digital Life

Seiring perkembangan media sosial, yang awalnya untuk saling mendekatkan yang jauh dan kembali menghubungkan teman lama, kini semakin berubah. Bahkan, media sosial dijadikan alat untuk menyebarkan berita palsu.

media sosial - Male Indonesiapexels.com

Hal itu diungkap melalui survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) 2017 lalu tentang informasi palsu (hoax). Dalam surveinya, Mastel menemukan bahwa media sosial menjadi sumber utama peredaran hoax.

"Berdasarkan sumber penyebarannya, media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, menyumbang peredaran hoax sebesar 31,9%," ungkap Teguh Prasetya, Ketua Bidang Strategis Mastel saat mempresentasikan hasil survei, Senin (13/2/2017).

Tidak hanya itu, media sosial juga dalam perkembangannya kini sudah seperti toko online, di mana pertukaran antara pembeli dan penjual sama seperti mengirim pesan ke teman. Kemudian, merek-merek dagang pun memanfaatkan ini dengan bekerjasama melibatkan blogger, vlogger, dan influencer agar terlihat lebih nyata untuk pemakaian produknya.

Pada setiap tingkat budaya, mulai dari makanan hingga merek dagang, dan juga sampai selebriti hingga budaya pop, ada pergeseran yang terjadi jauh dari komersial dan intens diproduksi. Misalnya mereka kerap tampil di media sosial dengan konten-konten sendiri secara mandiri.

Sehingga apa yang dilakukan oleh setiap orang (termasuk selebritas) juga menjadi lebih transparan. Setiap orang di pelosok manapun yang terkait dengan internet akan melihat apa yang dilakukan oleh orang lain meski jarak tak diketahui.

Mengutip laman dazeddigital, pergeseran budaya yang luas ini justru berdampak pada industri pornografi. Di mana munculnya pornografi "amatir". Pornografi amatir sering dibuat oleh non-profesional, namun menawarkan representasi yang lebih otentik.

"(Dalam gelombang ini) akan mambangun hubungan yang lebih manusiawi dan emosional sebelum Anda melihat mereka bercinta,” kata Paulita Pappel, wanita yang menjalankan situs percintaan intim pasangan asli dari Berlin. "Yang luar biasa, (dalam film yang terlihat realita) Anda dapat lebih berhubungan dengan mereka,” lanjutnya.

Tetapi "amatir" atau "etis", nyatanya tidak selalu berarti "nyata". Justru hal ini menyiratkan bahwa pornografi amatir dan feminis lebih hanya terlihat "otentik" daripada genre mainstream lainnya yang menunjukkan bahwa bentuk-bentuk lain dari pornografi adalah palsu atau menampilkan orang-orang yang melakukan hubungan seks yang tidak diinginkan atau non-konsensual.

Pappel mengatakan, (atas gelombar baru itu) beberapa perusahaan memproduksi pornografi 'amatir', dan mendiktekan skrip seksual yang ketat kepada artis mereka, sesuai dengan apa yang mereka yakini ingin dilihat pelanggan atau penonton. Dengan kata lain, pornografi amatir juga tidak otentik atau nyata atau tidak asli, alias palsu. 

Dian Hanson, yang telah bekerja di industri penerbitan esek-esek sejak tahun 70-an, menjelaskan bagaimana sepanjang "Golden Age" pornografi, sekitar tahun 1969-1984, pornografi dibuat hanya oleh perusahaan produksi yang makmur, dan yang tampil di dalamnya melalalui pemilihan eksklusif seperti wanita paling cantik dan pria yang dipoles. 

Saat itu lebih mirip pembuatan film Hollywood daripada pornografi online sekarang ini. Kemewahan industri membuat para pelaku pornografi tampak tidak terjangkau, seperti para selebritis hari ini. Pornografi telah dihapus dari kehidupan sehari-hari orang, dan dari konsep cinta.

Namun kini, kata Hanson, tren berkembang sehingga orang dapat terhubung secara digital dengan bintang film dewasa favorit mereka. Mereka dapat mengikuti idola mereka di Tumblr, Twitter dan Instagram, mengirim email kapan saja, dan bahkan membelikan mereka hadiah. Sekarang semua orang ingin mendekati orang-orang yang mereka kagumi.

Bahkan semenjak munculnya webcam dan media sosial, secara otomatis mengharuskan bintang pornografi diharapkan selalu dapat diakses dan responsif. Sehingga penikmat bisa berhubungan dengan mereka melampaui dari sekadar melihat mereka toples setelah diproduksi dalam bentuk vidio. *** (SS)

SHARE