Tinggalkan Pekerjaan Demi Nikmatnya Mie Ayam - Male Indonesia
Tinggalkan Pekerjaan Demi Nikmatnya Mie Ayam
Gading Perkasa | Works

Membuka bisnis di dunia kuliner selalu menjanjikan. Namun supaya bisa disukai masyarakat dan dikategorikan sukses, setiap pelakunya harus menciptakan rasa otentik serta melakukan tes pasar.

mie ayam male indonesiaPhoto: Doc. Mie Ayam Grobakan

Hal itulah yang ditekuni oleh Wahyu Indra. Sebagai founder Mie Ayam Grobakan, ia menghadirkan konsep baru di dunia kuliner. “Saya adalah penggemar mie ayam sejak masih sekolah. Akhirnya, saya punya ide untuk membuka usaha ini,” tutur Wahyu.

Sebelumnya, Wahyu bekerja di beberapa Production House ternama di Ibukota. Lantaran ingin lebih fokus berinteraksi dengan keluarga, ia berhenti dari pekerjaannya dan terjun ke dunia kuliner.

Menciptakan Sesuatu yang Khas
“Saya sama sekali belum tahu apa-apa mengenai bisnis mie ayam. Tapi saya beri jangka waktu. 2 Juli 2008, bisnis harus segera dimulai. Berbagai uji coba saya lakukan selama kurang lebih sembilan bulan,” katanya kepada MALE Indonesia.

Ada alasan jelas mengapa ia memutuskan mengolah mie sendiri. Menurutnya, hal tersebut akan menciptakan rasa khas dan berbeda. Sehingga ia membeli mesin pembuat mie.

“Bersama istri, saya membangun usaha Mie Ayam Grobakan tanpa pengalaman. Karena dulunya kami berdua seorang pekerja. Pertama kali kami membuka di kawasan Depok I. Seiring waktu, kami mempekerjakan karyawan,” ujar Wahyu.

Ia mengaku tidak butuh modal terlalu besar saat membuka usahanya di tahun 2008 lalu. Angkanya berkisar di 27 juta rupiah, dan itu sudah termasuk gerobak dan mesin pembuat mie.

mie ayam - male IndonesiaPhoto: Doc. Mie Ayam Grobakan

Setelah mengawali bisnis dengan brand Warung Bakmiku, di tahun 2010 namanya berubah menjadi Mie Ayam Grobakan. “Lebih tepatnya saya suka makan mie di penjual gerobak kayu. Kalau gerobaknya stainless, tidak seksi,” ujarnya lagi.

Mie olahannya punya keunggulan yang sulit ditiru, yaitu tahan lama hingga waktu enam bulan. Sebab, proses pembuatan mie tidak menggunakan air. “Pernah dilakukan tes di Balai Besar Industri Argo, mie saya masih bagus padahal sudah satu tahun,” kata Wahyu.

Lahirnya Konsep Kemitraan
Dari usaha pribadi, Wahyu memikirkan bagaimana cara membentuk market. Kemudian tercetuslah ide membangun kemitraan, dimana ia hanya menyediakan mie mentah, sedangkan bahan-bahan lainnya dicari sendiri oleh mitra.

Media sosial semacam Facebook dan Instagram menjadi sarana promosi Mie Ayam Grobakan sekaligus mencari calon mitra. Hanya saja, ditambahkan Wahyu, langkah promosinya harus tepat dan spesifik.

Perihal sistem kemitraan, Wahyu menjual paket kontrak dengan nominal tertentu (sekali bayar). Mitra akan mendapat gerobak, perlengkapan memasak dan lain-lain. Tinggal mencari bahan-bahan pelengkap. Dan setiap lima tahun, kontraknya diperbarui.

mie ayam male indonesiaPhoto: Doc. Mie Ayam Grobakan

Perlu dicatat, mie mentah produksinya tidak dijual secara bebas. Sehingga orang yang mau membeli wajib menjadi mitranya terlebih dahulu. Mitra dibolehkan memakai Mie Ayam Grobakan dengan tambahan brand sendiri.

Lokasi berjualan mitra juga ia perhatikan. Antara satu dan lainnya mempunyai jarak minimal sekitar 2,5 kilometer. “Kalau terlalu dekat, nanti persaingan antara sesama mitra semakin sulit. Kecuali jalannya berseberangan,” ucapnya.

Berapa banyak mitra dari Mie Ayam Grobakan? Berdasarkan keterangan Wahyu, sedikitnya ada 100 mitra di kawasan Jabodetabek. Jumlah total di seluruh Indonesia mencapai 330 mitra, dan akan terus bertambah.

Alasan utama orang ingin bergabung menjadi mitra Wahyu tidak lain karena mereka telah mencicipi mienya. Di samping itu juga ia sering mengirimkan sampel mie kepada calon mitra.

“Saya tidak pernah menjanjikan kepada orang-orang bahwa usaha ini akan sukses. Intinya, mau berusaha dengan sungguh-sungguh,” tutur Wahyu.

Menemui Jalan Terjal
Tidak semua mitra yang ia bangun mampu bertahan lama. Pasalnya, banyak orang beranggapan usaha ini mudah dilakukan. Sayang tidak dibarengi promosi gencar di berbagai media dan mempekerjakan karyawan.

Sebagian mitra sempat menemui kendala dimana usaha mie ayam mereka sepi pengunjung lantaran ulah pihak tertentu. Hal tersebut masih Wahyu temui sampai sekarang. Ia lantas menyarankan mitra agar mengubah metode memasak mie.

Bahkan, 2018 menjadi tahun yang kurang baik bagi usahanya. “Daya beli masyarakat terpengaruh. Mitra pun terkendala harga bahan pelengkap dan ada yang berhenti berjualan. Solusinya, saya menurunkan biaya kemitraan,” ucapnya.

mie ayam mle indonesiaPhoto: Doc. Mie Ayam Grobakan

Rencana Jangka Panjang
Wahyu hendak membuka kerja sama kepada beberapa pihak dengan sistem bagi hasil di penghujung tahun 2018 ini. Antara lain dari pihak militer, perbankan, investor relation, pakar IT dan sosmed.

Bukan itu saja, dirinya berencana membuka unit usaha baru berkonsep sensasi makan mie (Sensimi) untuk kalangan milenial, serta memaksimalkan brand mie Umihantsa. Sedangkan Mie Ayam Grobakan tetap melayani segmen rumah tangga.

Ia berpesan bagi setiap orang yang ingin membuka usaha agar segera mengambil langkah nyata. “Namanya gagal itu baru terasa ketika sudah menjalankan. Kalau masih wacana, ya tidak akan terjadi,” katanya.

“Memulai bisnis, terutama di dunia kuliner tidak mudah. Siapkan mental, karena prosesnya cukup panjang. Jangan lupa sediakan dana cadangan, menentukan skala prioritas serta menguasai teknologi,” katanya lagi sembari mengakhiri wawancara bersama MALE Indonesia. [GP]

SHARE