Dewa Gitar Peramu Genre Neo Classic Rock - Male Indonesia
Dewa Gitar Peramu Genre Neo Classic Rock
MALE ID | News

Mungkin akan selamanya menjadi perdebatan publik terkait siapa dewa gitar terbaik di dunia. Dari Carlos Santana, Jimi Hendrix, Paul Gilbert, Stevie Ray Vaughan, Slash, B. B King, Joe Satriani dan beberapa nama lainnya. Namun bila membicarakan musik neo classic rock, hanya ada satu nama yang pantas. Ia adalah Yngwie Malmsteen.

Photo credit: gothic_sanctuary on Visual Hunt / CC BY-NC-ND

Yngwie bukan pelopor genre neo classic rock, lantaran Ritchie Blackmore dan Uli Jon Roth sudah memainkan warna musik tersebut. Hanya saja, sulit dimungkiri bahwa Yngwie-lah dewa gitar yang membawa pembaruan pada neo classic rock di era 80-an.

Mendapat predikat ‘dewa’ bukan hal mudah bagi Yngwie. Ia kerap menemui jalan terjal selama meniti karir sebagai gitaris, dan akhirnya sanggup melewatinya dengan kebesaran tekad serta kerja keras.

Awalnya Tidak Ingin Bermain Gitar
Di masa kecil, Yngwie mencoba memainkan piano. Ternyata ia tidak dapat menguasainya. Gitar akustik pemberian ibunya juga hanya dibiarkan teronggok.

Hasratnya terhadap musik berubah 180 derajat usai menyaksikan acara yang mengulas kematian Jimi Hendrix. Kala itu, Yngwie masih berusia 7 tahun.

Demi menuntaskan rasa penasarannya, ia membeli gitar Fender Stratocaster seadanya dan mulai mencoba lagu-lagu Deep Purple yang banyak dipengaruhi aliran classic rock.

Kekaguman Yngwie terhadap gitaris Deep Purple, Ritchie Blackmore, membuatnya meramu perpaduan unsur klasik dan rock atau sering disebut neo classical.

Biang onar
Pemilik nama lengkap Lars Johann Yngwie Lannerback ini tumbuh menjadi remaja yang liar dan susah diatur. Bahkan di sekolah, ia dikenal sebagai biang onar dan sering berkelahi.

Namun dibalik sisi liarnya, Yngwie punya bakat terpendam di bidang seni. Aksinya diatas panggung juga mencerminkan sifat garangnya.

Demo Rekamannya tak Digubris


Photo credit: alterna2 on Visualhunt / CC BY

Di usia 15 tahun, Yngwie memutuskan berhenti sekolah dan fokus terjun di bidang musik. Ia pernah mengirimkan kaset demo berisi tiga lagu ke studio rekaman CBS Swedia, tapi sama sekali tidak digubris.

Demo rekaman itu ia bawa ke beberapa studio di luar negeri. Alhasil, Mike Varney dari Shrapnel Records tertarik dan mengundang Yngwie ke Los Angeles untuk bergabung dengan band bernama Steeler.

Melewati Masa Kelam
22 Juni 1987, dewa gitar neo classic rock ini mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya koma selama satu minggu. Pasca pulih dari kecelakaan, ia menghadapi kenyataan bahwa tangannya tidak berfungsi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak.

Ujian tidak berhenti sampai di situ. Rigmor, sang ibunda meninggal karena penyakit kanker setelah menjalani rangkaian perawatan. Untungnya ia mampu bangkit. Berbagai cobaan justru membuatnya semakin gigih untuk kembali bermusik.

Menginjak tahun 1992, ia berhasil merekam album dengan iringan full orchestra, berjudul Fire & Ice. Album tersebut mendapat sambutan hangat dari publik, khususnya di Asia dan Eropa.

Kini usianya sudah melewati setengah abad. Namun pribadinya sangat layak ditiru, mengingat semangatnya yang begitu besar dalam menghadapi permasalahan tanpa berhenti berkarya. He’s an example of a ‘real man’. Salute, Yngwie! [GP]

SHARE