Pembunuh Berantai yang Haus Darah Korbannya - Male Indonesia
Pembunuh Berantai yang Haus Darah Korbannya
MALE ID | Story

Seorang pembunuh berantai tidak akan segan-segan menghabisi nyawa korbannya dengan sadis. Berbagai metode dilakukan, mulai dari penusukan, penembakan bahkan memenggal kepala serta memutilasi tubuh sang korban.

wikipedia

Motif para pembunuh berantai pun beragam. Ada yang menganggapnya sebagai hal menyenangkan, ingin memusnahkan orang-orang tertentu seperti wanita tuna susila seperti yang pernah dilakukan oleh Jack The Ripper atau karena ia memang ‘haus darah’, dalam arti sebenarnya.

Sosok haus darah inilah yang melekat pada Peter Kurten. Saking banyaknya kejahatan yang ia lakukan, para dokter sampai harus membedah kepalanya untuk mengetahui penyebab haus darahnya.

Usai dibedah, dokter tidak menemukan alasan mengapa pria berjuluk “Vampire from Dusseldorf” ini bisa membunuh sembilan orang dan meminum darah mereka secara brutal.  

Kurten telah melakukan sedikitnya 70 jenis kejahatan, termasuk memerkosa, membunuh, serta membakar wanita dan anak-anak perempuan. Ia mengaku mendapat kesenangan seksual yang kuat dari darah dan kematian.

Korban pertamanya, Christine Klein yang masih berusia sembilan tahun, dibunuh pada 25 Mei 1913. Saat merampok kedai di Mulheim am Rhein, Jerman, Kurten melihat korban tertidur. Tanpa menunggu lama, ia mencekik dan mengiris leher Klein dengan pisau lipat.

Esok hari, Kurten kembali ke kedai dan mendengarkan kemarahan orang-orang terhadap pembunuhan Klein yang keji. Ia bahkan mengunjungi makam gadis malang itu untuk menyenangkan dirinya.

Beberapa bulan kemudian, Kurten membunuh Gertrud Franken dengan cara serupa sebelum ia dipenjara selama kurang lebih delapan tahun akibat serangkaian aksi perampokan dan pembakaran.

Menghirup udara bebas di tahun 1921, Kurten tidak berhenti begitu saja. Ia menikam, mencekik dan membunuh korbannya menggunakan palu. Polisi dibuat geram karena secara berani ia mengirimkan surat dan menyertakan lokasi penguburan salah satu korbannya.

Pada satu momen, Kurten bertemu dua anak berusia 5 dan 14 tahun. Sang kakak diminta membeli rokok, sementara ia mencekik dan mengiris tenggorokan sang adik. Begitu anak pertama kembali, Kurten menusuk, menggigit dan menghisap darah dari lehernya.

Sepak terjang si pembunuh berantai berakhir karena bertindak ceroboh saat menyerang seorang wanita, 14 Mei 1930. Kurten membujuk Maria Budlick yang ia selamatkan dari penguntit untuk makan di rumahnya, namun Budlick menolak.

Kurten menyeret Budlick ke hutan, memerkosa dan mencekik perempuan itu sebelum membiarkannya pergi. Budlick mengalami trauma dan tidak melaporkannya kepada polisi.

Petaka bagi Kurten, Budlick menulis surat untuk temannya. Surat dikirimkan ke alamat yang keliru, dan tukang pos memberikan surat tersebut ke kantor polisi. Buntutnya, Kurten ditangkap di bawah todongan senjata.

Di meja pesakitan, ia merinci daftar korbannya serta menjelaskan hasrat seksualnya akan darah. Ia juga mengaku tidak memiliki penyesalan sama sekali.

Juri mendakwa Kurten atas sembilan pembunuhan dan menjatuhkan hukuman mati. 2 Juli 1931, usai mengonsumsi makanan terakhirnya, ia dieksekusi.

“Setelah kepalaku dipotong, apakah aku masih bisa mendengar suara darah mengalir dari leherku? Jika iya, itu akan sangat menyenangkan,” kata Kurten saat berjalan menuju alat pemenggal kepala. [GP]

SHARE