Punk Rock & Gaya Khas dari Vokalis Ramones - Male Indonesia
Punk Rock & Gaya Khas dari Vokalis Ramones
MALE ID | News

Punk rock wajib berterima kasih kepada Sex Pistols untuk nihilisme, Iggy Pop & The Stooges perihal aksi panggung, dan The Clash dengan kritik sosialnya. Namun faktor musik, hanya satu nama yang berperan penuh, yakni Ramones.

Photo credit: mrbootle on Visualhunt / CC BY-NC

Apa pasal? 3-chords mayhem (tiga kunci dasar) nan lugas dipadu bersama lirik jalanan membuat Ramones menjadi wajah punk rock Amerika Serikat di akhir era 70-an. Semuanya tidak lepas dari sang frontman, Joey Ramone.

Sang ikon punk rock dan fashion
Sejak usia remaja, pemilik nama Jeffrey Ross Hyman ini menggemari musisi rock papan atas semacam The Beatles, The Who dan David Bowie. Idolanya sendiri adalah Pete Townshend (The Who).

Maka tak heran, ia langsung terjun ke dunia musik, membentuk band beraliran glam rock, Sniper di tahun 1972. Karena membawakan musik glam, Joey wajib tampil dengan kostum gemerlap seperti jumpsuit hitam, boots dan atribut serba kemilau.

Terbentuknya Ramones
Hanya dua tahun di Sniper, pada 1974 ia memutuskan hengkang dan mendirikan band yang lebih ‘urakan’. Diawali dari garage music oleh dua remaja, John Cummings (Johnny Ramone) dan Thomas Erdelyi (Tommy Ramone). Selanjutnya, bergabunglah pemuda asal Jerman, Douglas Colvin (Dee Dee Ramone), dan Joey masuk terakhir.

Pertama kali didirikan, Joey memegang drum, Johnny di gitar, Dee Dee di posisi vokal dan bass. Tommy menjabat sebagai manajer band. Nama Ramones sendiri ditemukan oleh Dee Dee, terinspirasi dari nama samaran Paul Mc Cartney.

Berjalannya waktu, Dee Dee kewalahan bernyanyi sembari memainkan bass. Atas saran Tommy, Joey ditunjuk maju menjadi vokalis. Dan Tommy mengisi kekosongan di posisi drum. Formasi inilah yang lantas dikenal oleh penikmat punk rock.

Empat pemuda itu mulai manggung di berbagai klub kawasan New York. Penampilan tanpa basa-basi, sahutan ala 1-2-3-4 pada awal lagu, hingga fashion jaket kulit hitam seketika menjadi perbincangan hangat di kancah musik underground Amerika.

Plismo/wikipedia

Tahun 1976, album debut Ramones akhirnya lahir melalui Sire Records. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membuat album itu laris bak kacang goreng. Joey dkk semakin beken di belantika punk rock Amerika Serikat, bahkan dunia. And the rest is history.

Akhir kehidupan Joey
Usai dua dekade berjalan dengan personel yang silih berganti, di tahun 1996 Ramones membubarkan diri. Mereka mengadakan konser perpisahan, mendatangkan musisi semacam Lemmy Kilmister (Motorhead), Chris Cornell (Soundgarden), Tim Armstrong (Rancid) serta Eddie Vedder (Pearl Jam).

Bubarnya Ramones bukan berarti Joey menghilang dari dunia musik. Ia sempat memproduseri album mini Ronnie Spector (The Ronettes) berjudul She Talks to Rainbow di tahun 1999, serta manajer dan produser band punk, The Independents.

Sayang sekali, ia didiagnosis menderita kanker limfoma sejak tahun 1996. Perjuangan Joey Ramone melawan penyakit terhenti pada 15 April 2001. Ia menghembuskan napas terakhir di New York Presbyterian Hospital. Kancah musik cadas kehilangan salah satu frontman terbaiknya.

Orang-orang melakukan banyak cara untuk mengenang sosok Joey. Yang paling terkenal, namanya dijadikan nama jalan di sebuah blok di East 2nd Street, New York City. Lokasi tersebut adalah tempat Joey dan Dee Dee sering berkumpul.

Setiap mendengar seruan hey ho let’s go!, tentunya penggemar punk rock akan selalu terbayang vokalis gondrong berponi dengan setelan jaket kulit hitam dan ripped jeans. Satu kutipannya yang terkenal, “Punk is about being an individual, going against the grain and standing up saying this is who I am”. [GP]

SHARE