Mitos yang Menyelimuti Ajang Piala Dunia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Mitos yang Menyelimuti Ajang Piala Dunia
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Ajang Piala Dunia bukan cuma menyajikan pertandingan seru mengenai siapa sang pemenang dan pecundang. Keindahan sepak bola pun tercermin dari sejumlah kisah yang mengikutinya, termasuk legenda dan kutukan di ajang tersebut.

Marcello Casal Jr/wikipedia

Sebagian memang hanya merupakan mitos belaka, namun tak sedikut pula yang justru menjadi kenyataan. Apa saja kisah misterius di ajang Piala Dunia yang dimaksud? Langsung saja baca uraian berikut, seperti dilansir dari Foxsports:

Tim Eropa Mustahil Menjuarai Piala Dunia di Benua Amerika
Setidaknya, mitos ini bertahan panjang di kalangan pecinta si kulit bundar, dan sempat terjadi dalam empat kali perhelatan turnamen.

Di ajang tahun 1962, Chili ditetapkan sebagai tuan rumah untuk pertama kalinya. Negara Eropa gagal juara jika tuan rumah berasal dari Benua Amerika. Kala itu, Cekoslovakia harus mengakui kehebatan Brasil. Mereka kalah 1-3.

Mitos berlanjut di Piala Dunia 1970, ketika Meksiko menjadi tuan rumah. Italia lolos ke final dan berhadapan dengan Brasil. Alih-alih mengangkat trofi, Gli Azzurri justru takluk 1-4.

Tahun 1978, sang tuan rumah turnamen adalah Argentina. Mereka berhasil lolos ke final dan bertemu Belanda. Hasilnya, Johan Neeskens dkk. Dipaksa tunduk dengan skor 1-3. Tim Tango kembali juara di edisi 1986 mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Meksiko.

wikipedia

Pada ajang Piala Dunia 1994 di Negeri Paman Sam, lagi-lagi Italia kalah lewat adu penalti melawan Brasil. Penendang pertama, Franco Baresi dan penendang terakhir Italia, Roberto Baggio, menembak bola ke atas gawang Claudio Taffarel.

Untungnya, Jerman berhasil mematahkan mitos tersebut di Piala Dunia 2014, Brasil. Tim asuhan Joachim Loew menyudahi perlawanan Argentina, 1-0. Gol dicetak oleh Mario Gotze di babak perpanjangan waktu.

Kutukan Jerman atas Inggris di Piala Dunia 1966
Inggris pertama dan terakhir kalinya menjuarai perhelatan terakbar seantero jagat itu pada tahun 1966, di negeri sendiri. Geoff Hurst dan Bobby Charlton menjadi andalan The Three Lions.

National Media Museum/wikipedia

Di final, mereka bertemu Jerman Barat. Kedudukan berakhir 2-2 di waktu normal, sehingga harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Inggris mampu mencetak gol melalui hattrick Hurst, dan satu dari Martin Peters.

Yang menjadi kontroversi, keputusan wasit mengesahkan gol ketiga Hurst. Padahal, bola belum melewati garis gawang. Jerman Barat lantas mengutuk bahwa Inggris tidak akan pernah meraih gelar juara dunia lagi.

Kesempatan Inggris memecahkan kutukan terbuka lebar di Piala Dunia 2018, mengingat mereka berhasil mengalahkan Kolombia dan melaju ke babak perempat final. Di sana, mereka akan melawan Swedia.

Siklus 20 Tahun Melahirkan Juara Baru
wikipedia

Mitos lain yang menarik ditunggu yakni siklus 20 tahun akan melahirkan juara baru. Itu bermula di Piala Dunia 1958, sewaktu Brasil menjadi juara untuk kali pertama. Argentina juga mengangkat trofi perdananya di tahun 1978, disusul Prancis pada 1998.

Piala Dunia 2018 adalah pembuktian, apakah mitos 20 tahun masih berlaku atau tidak. Cukup banyak tim kuda hitam seperti Kroasia, Belgia dan Swedia mampu tampil luar biasa. Akankah juara baru lahir di tahun ini? [GP]

SHARE