Dosa Agen Rahasia Perancis Terhadap Greenpeace | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Dosa Agen Rahasia Perancis Terhadap Greenpeace
Gading Perkasa | Story

Pada 10 Juli 1985, agen rahasia Perancis melakukan dosa besar terhadap Greenpeace. Mereka memasang peledak yang kemudian menenggelamkan kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace di kawasan Selandia Baru.

Salvatore Barbera/wikipedia

Kala itu, Rainbow Warrior berlabuh di Auckland dalam perjalanan menggelar protes atas pengujian senjata nuklir oleh Perancis di Mururoa Atoll, sekitar 1.200 km arah Tahiti. Rupanya, keberadaan kapal tersebut diketahui oleh agen rahasia Perancis.

Jean-Luc Kister bekerja untuk agen bernama Direction Generale de la Securite Exterieure (DSGE), dan punya misi menghentikan Greenpeace lewat cara mengebom kapal milik mereka agar tidak dapat melanjutkan rencananya.

Bisa dibilang, Kister adalah bagian tim ketiga DSGE, yang bertugas memasang dua peledak di lambung kapal Rainbow Warrior. Ia bekerja bersama koleganya yang notabene sesama penyelam, Jean Camas.

Dua bom itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Seorang fotografer asal Portugis, Fernando Pereira (35 tahun) meninggal dunia, tenggelam bersama Rainbow Warrior.

Tiga dekade berlalu, tepatnya pada 7 September 2015, ia meminta maaf dan mengakui, dirinyalah yang memasang bom di kapal Rainbow Warrior.

Dalam sebuah wawancara bersama Mediapart, Kister merasa ini waktu yang tepat mengatakan permintaan maafnya kepada keluarga Pereira, Greenpeace dan masyarakat Selandia Baru.

“Emosi saya telah mereda dan ada jarak karena saya punya kehidupan profesional. Saya pikir, sekarang adalah waktu tepat bagi saya mengekspresikan penyesalan terdalam dan menyampaikan maaf,” tuturnya.

Lebih lanjut menurut Kister, ia memiliki darah orang yang tidak bersalah di hati nuraninya, dan itu menjadi beban. Sebanyak 12 anggota agen rahasia Perancis (berikut Kister) tersebut menjalankan perintah dari Menteri Pertahanan Charles Hernu.

Sebenarnya, Kister menganggap misi menenggelamkan Rainbow Warrior tidak proporsional, sebab ada cara lain yang lebih manusiawi, yakni merusak poros baling-baling kapal. Namun, idenya ditolak pemerintah Perancis.

“Ada keinginan pada tingkat tinggi yang mengatakan, bahwa kami harus mengambil langkah radikal. Kami diwajibkan menenggelamkan kapal. Sisanya sederhana, Anda cukup membuat lubang di dalamnya,” ujar Kister menggambarkan suasana saat itu.

Namanya sempat bocor ke media sehabis pengeboman, walau ejaannya keliru: Kyster. Ia menilai, kebocoran identitasnya adalah pengkhianatan tingkat tinggi, dan sangat marah pada pemerintah.

Dua hari pasca pengeboman, 12 Juli 1985, Alain Mafart dan Dominique Prieur --agen yang ambil bagian dalam operasi-- diringkus polisi Selandia Baru. Penyamaran mereka sebagai wisatawan asal Swiss terungkap.

Baik Alain dan Dominique didakwa dengan pembunuhan. Keduanya mengaku bersalah dan menerima hukuman menginap di hotel prodeo selama 10 tahun. Namun, mereka dibebaskan beberapa bulan kemudian di bawah kesepakatan dua negara.

Perancis mengancam akan memblokir akses perdagangan ke pasar Eropa, kecuali Wellington menyerahkan agennya. Sikap Perancis sontak memicu amarah dari publik Selandia Baru.

Sedangkan, di bulan September 1985, hanya dua bulan dari insiden Rainbow Warrior, Charles Hernu dipaksa mengundurkan diri dari jabatan Menteri Pertahanan. Ia menghembuskan napas terakhir pada 17 Januari 1990. [GP]

SHARE