Ambisi Mencari Solusi Mudah untuk Riset & Survei | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Ambisi Mencari Solusi Mudah untuk Riset & Survei
Sopan Sopian | Works

Startup Populix hadir di tengah-tengah kesulitan bagi perusahaan, universitas, hingga pemerintah yang membutuhkan survei dan riset. Artinya, Populix sebagai jembatan dan memudahkan penggunanya untuk mendapatkan responden survei dan riset.

male indonesia
Timothy Astandu dan Eileen Kamtawijoyo/FOTO: male.co.id

Dengan kata lain pula, startup Populix menawarkan jasa untuk mendesain kuesioner riset dan menganalisis data dari hasil riset, seperti demografis, ukuran sampel, dan durasi. Secara otomatis, Populix mengirimkan email ke sekelompok responden yang sesuai dengan kebutuhan riset.

Duo Managing Director Populix menjelaskan secara rinci bahwa Populix ini adalah perusahaan yang berbasis teknologi, intinya Populix merupakan perusahaan yang membangun database

"Mengapa database itu penting, karena data di Indonesia ini sebenarnya masih belum memedai. Misalnya susahnya perusahaan besar atau kecil ingin pakai data untuk pengambilan keputusan dan kebutuhan target pasar," tutur Timothy Astandu, salah satu Managing Diretor kepada MALE.co.id.

Eileen Kamtawijoyo, yang juga Managing Director Populix menambahkan, jadi Popilix ini semacam platform yang menghubungkan siapa saja yang membutuhkan riset dengan orang yang menyediakan riset. "Misalnya responden, mau isi survei bisa, mau diundang untuk wawancara juga bisa, intinya kita yang menjembatani itu," tuturnya.

Berawal dari Perbincangan Santai
Startup Populix yang resmi launching pada Desember 2017 ini nyatanya datang dari perbincangan santai ketika keduanya bertemu di Universitas Cambridge, Inggris, untuk menyelesaikan pendidikan S3-nya.

"Ide awalnya justru berangkat dari Eileen yang waktu itu bekerja di perusahaan rokok dan membutuhkan riset untuk setiap bulannya. Ketemu di Cambridge University, Inggris, ngobrol-ngobrol santai-lah, baru dapat-lah ide ini (Populix)," cerita Timothy.

Kemudian, lanjut Tomothy, kami pulang ke Indonesia, saya kembali sibuk sebagai dosen dan Elieen kembali bekerja sebagai bagian dari marketing dan bisnis development. "Saat pulang itu kami berpikir ide yang pernah dibicarakan, dan itu sesuatu yang unik jika diterapkan di Indonesia," lanjut Timothy.

Eileen menerangkan, saat kembali membicarakan ide yang pernah dilakukan saat di Inggris, Juni 2017 pihaknya membuat sebuah prototype dan belajar mengambil sebuah sampel untuk mengetahui biaya mengambil satu responden dan teknis lainnya. "Seperti apakah ada kebutuhan atau tidak dalam market ini," ucap Eileen. "Barulah kemudian Desember 2017 benar-benar launching," tambah Timhoty.

Dalam membangun startup Popilix, Eileen menuturkan, awalnya adalah bootstrapping. Kemudian join dengan GnB GnB Accelerator, dari sana barulah Populix benar-benar mendapatkan founding dari luar, dari sebuah institusi. 

Laman website Populix.co

Kesulitan Membangun Populix
Meski startup Populix baru berjalan enam bulan, beberapa perusahaan dan universitas lokal dan Intenasional sudah menggunakan jasanya, sebut saja perusahaan otomotif, perusahaan rokok, dan perusahaan minuman. "Universitas ada dari Inggris dan Jerman," kata Timhoty.

Meski terbilang cepat mendapatkan klien mumpuni, Eileen mengaku tidak terlepas dari kesulitan. Meski terbilang wajar dalam membangun startup, tetapi ada satu kesulitan yang paling sulit dihadapi. "Sulit banget sih untuk starup ini. Ada kesulitan yang nomor satunya, yaitu menurut saya mendapatkan orang-orang yang berkompeten dan dapat kerja sama tim," ucap Eileen.

Atas kesulitan itu, maka tim yang ada saat ini hanya lima orang saja. Dua diantaranya Eileen dan Timothy sebagai Managing Director, kemudian selebihnya bagian internal seperti di development, teknologi, bagian administrasi, dan bagian operasional. 

Untuk meringankan beban tim yang masih minim, Timothy dan Eileen mau tidak mau harus terjaun full time untuk perusahaan startup yang didirikannya. Timothy harus memutuskan menjadi dosen eksternal dan hanya beberapa kali saja mengajar agar bisa fokus di Populix.

Startup yang masih berbasis website (populix.co) ini diyakini keduanya, bahwa apa yang dibangunnya bisa berkembang di Indonesia. Optimisme itu berangkat dari pengalaman Eileen yang kesulitan mendapatkan data untuk perusahaan rokoknya kala itu. 

"Saya benar-benar merasa kesulitan untuk mendapatkan riset. Jadi kita merasa dengan mambangun Populix ini dapat membangun sesuatu yang lebih dari pengalaman kesulitan saya, dan Populik diharapkan dapat jauh lebih efisien dan efektif untuk mendapatkan riset," tuturnya. *** (SS)

SHARE