Alasan Mengapa Kecerdasan Buatan Sangat Menakutkan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Alasan Mengapa Kecerdasan Buatan Sangat Menakutkan
Sopan Sopian | Digital Life

Saat kecerdasan buatan itu mulai muncul kepermukaan, beberapa orang kadang "bercanda" tentang masa depan di mana umat manusia harus menerima hidup berdampingan dengan robot. Namun ada hal yang tidak disadari atas hal itu, yakni bibit kegelisahan. 

kecerdasan-buatan-male-Indonesiapixabay.com

Karya tulis fiksi ilmiah dan film populer, "2001: A Space Odyssey" (1968) hingga "Avengers: Age of Ultron" (2015), telah berspekulasi tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang melebihi harapan dari para pembuatnya dan lolos dari kendali mereka, dan akhirnya mengalahkan dan memperbudak manusia.

Di dunia nyata, tidak semua orang siap menyambut kecerdasan buata dengan tangan terbuka. Mengutip laman livescience, dalam beberapa tahun terakhir, ketika para ilmuwan komputer telah mendorong batas-batas apa yang dapat dicapai oleh kecerdasan buatan, tokoh-tokoh terkemuka dalam teknologi dan sains telah memperingatkan tentang bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh kecerdasan buatan kepada umat manusia.

Bahkan menunjukkan bahwa kemampuan AI dapat merusak umat manusia. Tapi mengapa orang-orang begitu terkesima dengan ide AI?

Ancaman Eksistensial
Elon Musk adalah salah satu orang terkemuka yang telah mengangkat bendera merah tentang AI. Pada bulan Juli 2017, Musk mengatakan kepada semua orang yang hadir pada pertemuan Asosiasi Gubernur Nasional. "Saya memiliki paparan terhadap AI yang sangat canggih, dan saya pikir orang-orang harus benar-benar peduli tentang hal itu," ucapnya.

Musk juga mengungkapkan, bahwa dirinya terus membunyikan alarm untuk ancaman AI. "Tetapi sampai orang-orang melihat robot turun ke jalan untuk membunuh orang, mereka tidak tahu bagaimana harus bereaksi, karena terlihat sangat halus," tambah Musk.

Sebelumnya, pada tahun 2014, Musk telah menyebut AI "ancaman eksistensial terbesar kami" dan pada bulan Agustus 2017, ia menyatakan bahwa umat manusia menghadapi risiko lebih besar dari AI daripada dari Korea Utara.

kepada BBC pada tahun 2014, mendiang Fisikawan Stephen Hawking juga sempat menyatakan keprihatinan tentang kejahatan IB. "Perkembangan kecerdasan buatan bisa mengeja akhir dari umat manusia," tutur Hawking.

Beberapa programmer, terutama mereka yang memiliki MIT Media Lab di Cambridge, Massachusetts, tampaknya bertekad untuk membuktikan bahwa AI bisa menakutkan. Di mana sebuah jaringan saraf yang disebut "Nightmare Machine" atau Mesin Mimpi Buruk, diperkenalkan oleh para ilmuwan komputer MIT pada tahun 2016. Kecerdasaran buatan itu mengubah foto-foto biasa menjadi neraka yang mengerikan dan menggelisahkan. 

Ketakutan dan Kebencian
Kilian Weinberger, seorang profesor di Departemen Ilmu Komputer dari Cornell University mengatakan bahwa, perasaan negatif tentang AI umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori, gagasan bahwa AI akan menjadi sadar dan berusaha untuk menghancurkan manusia, dan gagasan bahwa orang-orang tidak bermoral akan menggunakan AI untuk tujuan jahat.

Meski begitu, Weinberger juga mengatakan, kekhawatiran bahwa AI akan mengembangkan kesadaran dan menggulingkan kemanusiaan didasarkan pada kesalahpahaman tentang apa itu AI. AI beroperasi di bawah batasan yang sangat spesifik yang ditentukan oleh algoritme yang mendikte perilakunya. Beberapa jenis masalah dipetakan dengan baik oleh AI, seperti membuat tugas-tugas tertentu relatif mudah bagi AI untuk menyelesaikannya. "Tapi kebanyakan hal tidak memetakan itu, dan itu tidak berlaku," katanya.

Namun, Weinberger menambahkan, jika orang dapat mengesampingkan ketakutan mereka akan AI yang dapat menumbulkan permusuhan, mereka akan lebih terbuka untuk mengakui manfaatnya.  *** (SS)

SHARE