Terjebak Nostalgia Dapat Menyehatkan Mental? | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Terjebak Nostalgia Dapat Menyehatkan Mental?
Gading Perkasa | Sex & Health

Menyehatkan mental seharusnya tidak ada hubungannya dengan terjebak nostalgia. Namun, terlepas dari kenangan pahit, sebuah ingatan akan masa lalu rupanya dapat membawa kembali perasaan bahagia dan rindu.

cewek seski male indonesia
Pixabay.com

Nostalgia bisa muncul dari hal sederhana. Misalnya Anda melintasi suatu daerah dan mengingat kejadian yang pernah Anda alami di tempat itu, atau mendengarkan lagu tertentu, semua membuat perasaan bergejolak dan menyehatkan mental Anda.

Para pakar psikologi mempelajari nostalgia. Mereka meyakini bahwa secara umum emosi ini memiliki efek positif yang kuat dalam menyehatkan mental seseorang.

Walau demikian, terkadang nostalgia bisa menimbulkan ketakutan daripada kenyamanan. Faktanya, nostalgia kerap diartikan sebagai kondisi psikologis yang menyebabkan kecemasan, insomnia, dan depresi.

Mengapa kenangan masa lalu membuat seseorang nyaman sekaligus mengerikan? Jawabannya agak rumit, namun itulah kenyataanya.

Studi di tahun 2008 menemukan, nostalgia meningkatkan persepsi sebagian orang terhadap dukungan sosial, yang mampu melawan rasa kesepian.

Peneliti studi menjelaskan, ketika bernostalgia atau memikirkan hal lampau, kita biasanya membayangkan hubungan dekat atau tempat yang sangat penting bagi kita. Karena pikiran tersebut, kita seolah mendapat dukungan dari mereka yang peduli.

Studi lainnya di tahun 2013 mengungkap bahwa orang-orang yang gemar bernostalgia cenderung lebih optimis menghadapi masa depan. “Nostalgia membuat orang mampu merasakan nilai-nilai dari diri mereka,” ucap Tim Wildschut, peneliti studi.

Biasanya, nostalgia menyediakan hubungan antara masa lalu dan masa depan, sehingga seseorang merasa ada kesinambungan hidup.

“Hal itu turut membawa suka dan duka lantaran mengingatkan Anda terkait sejumlah perubahan dan kekayaan kehidupan,” kata pakar nostalgia, Krystine Batcho.

Di waktu sulit, perhatian terhadap masa lalu dapat menyehatkan mental seseorang serta mengingatkannya bagaimana cara bertahan akan sesuatu, kehilangan, terluka, gagal dan mengalami kesialan.

“Sewaktu kita sedih, nostalgia akan mengingatkan bahwa kita pernah bahagia, kuat dan produktif. Meskipun sebagian orang merasa tidak nyaman memikirkannya dan menjadi depresi,” ujarnya kepada American Psychological Association (APA).

Menurut penulis The Future of Nostalgia, Svetlana Boym, ada dua tipe nostalgia, yaitu restoratif dan reflektif. Tipe pertama cenderung menginspirasi kita untuk berubah dan membentuk kembali apa yang terjadi di masa lalu.

Sedangkan, nostalgia reflektif mengharuskan kita menerima memori apa pun yang pernah dialami. Namun, di antara keduanya, nostalgia restoratif dinilai lebih menyebabkan kesedihan.

Sebagai contoh, Anda membenci suatu tempat karena di situlah Anda kehilangan wanita yang paling Anda cintai. Atau ketika mengunjungi kota tertentu, Anda jadi ingat kenangan bersama teman-teman, padahal mereka sudah meninggalkan kota tersebut.

Apabila Anda tergolong mudah kecewa saat mengingat sebuah memori, cara terbaik yaitu mengubah memori. Memikirkan siapa saja yang mendampingi Anda di waktu itu.

“Yang membedakan memori sebagai nostalgia adalah peran penting dari kehadiran dan dukungan orang-orang terdekat di masa Anda mengalami kesulitan,” tutur Krystine.

Intinya, nostalgia tidak selalu menyenangkan. Anda tidak bisa mengubah masa lalu, melainkan mengubah perspektif tersebut sembari menyongsong masa depan. [GP]

SHARE