Dewi Asmara dan Simbol Erotisme Mitologi Yunani | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Dewi Asmara dan Simbol Erotisme Mitologi Yunani
Gading Perkasa | Story

Dalam mitologi Yunani, ada satu sosok yang dikenal sebagai dewi asmara sekaligus merupakan salah satu dari dua belas dewa bertempat tinggal di Gunung Olympus. Sosok itu bernama Aphrodite, atau disebut juga Venus dalam mitologi Romawi.

Briton Riviere/wikipedia

Selain menjadi dewi asmara, Aphrodite adalah perlambang kesenangan, hasrat seksual, erotisme, serta kekuatan kaum hawa.

Banyak orang menduga-duga, asal-usul dirinya berakar dari dewi Semit yang bernama Ishtar atau Astarte. Pemujaan Aphrodite diawali oleh orang-orang Fenisia di tanah Yunani.

Sebagian ahli turut mempelajari kemunculan dewa dan dewi Yunani. Mereka menemukan fakta bahwa suku-suku nomaden alias tak memiliki tempat tinggal tetap dan para penakluk cenderung membawa kepercayaannya ke daerah baru.

Kemudian, suku dan penakluk tersebut menghubungkannya dengan dewa lokal. Hanya saja, kecenderungan ini tidak berlaku untuk Aphrodite, yang kemungkinan besar diserap langsung dari Ishtar atau Astarte ke dalam kepercayaan Yunani kuno.

Hubungan antara Aphrodite dan Zeus --penguasa Gunung Olympus-- adalah sebagai bibi. Jika Zeus berstatus anak Cronus, maka Aphrodite sendiri berstatus putri Uranus. Ia dikatakan muncul dari busa di lautan.

Hal ini membuat Aphrodite agak unggul atau paling tidak berdiri sama tinggi dengan Zeus. Kendati sang dewi menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada Zeus.

male indonesia dewi asmara
Pixabay.com

Aphrodite tidak ragu-ragu mengabaikan pasangan resminya Hephaestus, dewa pandai besi yang juga sekaligus saudara Zeus. Bahkan, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk melanjutkan kisah asmaranya bersama Ares, sang dewa perang.

Dalam suatu babak, Hephaestus akhirnya mengetahui perselingkuhan keduanya dan menciptakan perangkap jaring demi menangkap dua pasangan sejoli tersebut.

Sekadar infromasi, di mitologi Yunani, Aphrodite kerap dipandang sebagai pribadi tidak terduga, sama seperti hasrat asmara yang juga sulit ditebak.

Tak ayal, ia dianggap biang keladi pemicu Perang Troya. Sebelum perang terjadi, Aphrodite bersaing dengan Hera dan Athena demi memperoleh gelar ‘dewa paling adil’, sementara Paris bertindak sebagai juri.

Ia menjanjikan Paris sebuah cinta dari wanita paling cantik di dunia. Sayang sekali, wanita yang dimaksud (Helen) sudah menikah. Dampaknya pun jelas, Perang Troya pecah.

Dewasa ini, Anda akan menemukan banyak sekali penggambaran sosok dewi asmara bernama Aphrodite dalam seni kuno maupun modern.

Gambaran yang paling dikenal mengenai dirinya adalah karya Botticelli di abad ke-15 berjudul ‘The Birth of Venus’. Pada karya itu, Aphrodite muncul dari kerang terbuka di atas laut, tanpa mengenakan sehelai kain pun. [GP]

SHARE