Kebencian Gitaris Slayer Terhadap Limp Bizkit | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kebencian Gitaris Slayer Terhadap Limp Bizkit
Gading Perkasa | News

Pada tahun 1999, Limp Bizkit bisa dikatakan memiliki segalanya. Sebagian lagu mereka menjadi hits. Bahkan para pesohor menghiasi video klip mereka sebagai cameo.

Photo credit: Kmeron on VisualHunt / CC BY-NC-ND

Puncaknya, Limp Bizkit melakukan kegilaan yang terekam di Woodstock ‘99. Fred Durst, sang vokalis, terlihat begitu percaya diri naik ke atas panggung dan memainkan solo gitar. Ia memungkasi aksinya dengan teriakan shag my friends tonight!

Penonton memberikan tepuk tangan riuh. Namun percayalah, seandainya itu bukan Fred, yang datang dari penonton bukan sambutan meriah. Melainkan lemparan dan cemoohan seraya mengusir dari atas panggung.

Kebencian Kerry King

Jonas Rogowski/wikipedia

Ia (Fred-red.) tahu betul, bahwa apapun yang dilakukan oleh Limp Bizkit bakal disukai penonton. Hanya saja mereka belum sadar, Kerry King (gitaris Slayer) merasa terintimidasi oleh kepopuleran mereka.

Dalam sebuah wawancara bersama UDiscovermusic yang menjadi bagian sebuah proyek oral history thrash metal, Kerry memperlihatkan kemarahannya kepada Limp Bizkit.

“Di akhir dekade 90-an, saya sudah cukup jengah. Saya sulit memahami, mengapa mereka (Limp Bizkit-red.) bisa sebesar itu. Sehingga saya tidak bergairah bermain musik dan membenci perkembangan musik ke depan,” kata Kerry.

Buntutnya, Kerry absen dalam proses penulisan lagu untuk album Slayer yang dirilis di tahun 1998, Diabolus in Musica. Keputusannya cukup beralasan, mengingat album ini adalah kompromi Slayer terhadap tren nu-metal yang tengah mewabah.

Lebih parahnya lagi, ia tak sudi menyetem gitar di nada C#, seperti yang sering diterapkan oleh Wes Borland. Kerry kini mengenang nu-metal atau rap metal sebagai genre yang terlalu funky.

Tetap Melenggang

Photo credit: Lorenzo Bl on Visual hunt / CC BY-ND

Terlepas dari rasa kecewa gitaris Slayer mengenai nu-metal, di masa jayanya Fred Durst bersama Limp Bizkit cukup mengatakan “I know y’all be loving this sh*t right here”. Itu justru diamini oleh banyak penggemarnya, dan mungkin MALEnials juga demikian.

Sejak dibentuk tahun 1994, band yang digawangi Fred Durst (vokal), Sam Rivers (bas), Wes Borland (gitar), John Otto (drum) dan DJ Lethal (turntables) masih tetap konsisten di jalur nu-metal.

Mereka sempat mengalami masa hiatus selama tiga tahun pada 2006. Namun, di tahun 2009, mereka kembali hingga sekarang dan mendapatkan tiga nominasi Grammy Awards. Yaitu dua Best Hard Rock Performance (lagu Nookie dan Take a Look Around), dan satu Best Rock Album (Significant Other).

“Kami jenuh melihat keadaan musik populer yang harus dibandingkan antara satu dan lainnya. Kami sadar, ada energi kuat dan unik di grup ini. Karenanya, Limp Bizkit kembali,” tulis mereka dalam biografi di akun SoundCloud resminya.

Cukup banyak single mereka yang sangat digandrungi. Tidak percaya? Coba saja dengarkan lagu-lagu seperti Nookie, Break Stuff, My Way, Rollin’, My Generation, Eat You Alive, Behind Blue Eyes, serta masih banyak lagi.

Road to Bali 2018

Tidak lama lagi, grup asal Florida, Amerika Serikat tersebut akan mengguncang tanah Dewata. Mereka beraksi di perhelatan Soundrenaline 2018, 8-9 September di Garuda Wisnu Kencana (GWK). Kabar itu disampaikan langsung oleh akun Instagram resmi Limp Bizkit. “BALI, 2018”, tulis mereka dengan huruf kapital.

Kedatangan mereka ke Indonesia diharapkan mengobati kekecewaan fans yang menunggu 15 tahun sejak batal bermain di Bali 2003 silam. Dilansir dari Blabbermouth, kala itu mereka membatalkan konsernya di beberapa negara di Asia, termasuk Singapura dan Malaysia.

Mengusung tema “The Soul of Expression”, di Soundrenaline 2018 band papan atas tanah air turut mengiringi Limp Bizkit. Sebutlah Padi Reborn, Burgerkill, Naif, The SIGIT dan lain-lain. [GP]

SHARE