Makanan Kaki Lima yang Kini Dikenal Mendunia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Makanan Kaki Lima yang Kini Dikenal Mendunia
Sopan Sopian | Story

Sejarah pizza memiliki akar cerita yang panjang. Asal kata "pizza" sendiri juga belum jelas. Namun semua orang di dunia tahu, bahwa pizza adalah makanan cepat saji yang begitu digemari. Pizza bisa di makan di mana saja, rumah, restoran, hingga sudut-sudut jalan. 

Ilustrasi: pexels.com

Tetapi sejarah pizza sebagai makanan cepat saji yang digandrungi datang untuk menikmati dominasi global seperti itu mengungkapkan banyak tentang sejarah migrasi dan ekonomi. 

Selama berabad-abad, orang telah memakan pizza dalam suatu bentuk yang berbeda-beda. Jauh sebelum tercatat di mana sejarah pizza datang pada tahun 997, historytoday menuliskan bahwa pizza merupakan potongan roti yang terasa gurih dengan disajikan sebagai makanan sederhana dan lezat bagi mereka yang tidak memilikii piring atau tidak mampu untuk membeli piring saat bepergian.

Pizza awal ini muncul di Virgil's Aeneid. Tidak lama setelah tiba di Latium, Aeneas dan krunya duduk di bawah pohon dan meletakkan 'kue-kue gandum tipis sebagai piring untuk makanan mereka'. Mereka kemudian mencerai-beraikan dengan jamur dan rempah-rempah yang mereka temukan di hutan dan memakannya. Saat itu, membuat putra Aeneas, Ascanius berseru, “Lihat! Kami bahkan sudah makan piring kami!”

Baru pada tahun 997, di Napoli Pizza mulai dikenal. Di bawah raja Bourbon, Napoli menjadi salah satu kota terbesar di Eropa yang berkembang pesat. Dipicu oleh perdagangan luar negeri dan masuknya kaum tani dari pedesaan, populasi Napoli membengkak dari 200.000 pada 1700 menjadi 399.000 pada 1748.

Ketika ekonomi kota berjuang untuk mengimbangi, semakin banyak penduduk kota itu jatuh ke dalam kemiskinan. Yang paling hina ini dikenal sebagai lazzaroni, karena penampilannya yang compang-camping mirip dengan Lazarus.

Dengan jumlah sekitar 50.000 populasi, sebagai kuli mereka memiliki penghasilan yang mengkhawatirkan. Mereka selalu terburu-buru mencari kerja, mereka membutuhkan makanan yang murah dan mudah untuk dimakan. Pizza memenuhi kebutuhan ini. Saati itu, pizza tidak dijual di toko, tetapi oleh pedagang kaki lima yang membawa kotak besar di bawah lengan mereka, mereka akan dipotong untuk memenuhi anggaran atau selera pelanggan.

Dalam catatan Alexandre Dumas di Le Corricolo (1843), dua iris pizza akan menjadi sarapan yang baik, sementara dua sous pizza yang cukup besar mampu memenuhi untuk seluruh keluarga. Meskipun mirip dalam beberapa hal dengan flatbreads Virgil, pizza sekarang ditentukan oleh bahan yang murah, mudah ditemukan dengan banyak rasa.  

FOTO: Nevertime/wikipedia

Dianggap Makanan dari Pembuangan
Toping paling sederhana pizza saat itu tidak lebih dari bawang putih, lemak babi dan garam. Tetapi yang lain termasuk caciocavallo (keju yang terbuat dari susu kuda), cecenielli (ikan teri) atau basil. Beberapa bahkan memiliki tomat di atasnya. Untuk waktu yang lama, pizza dicemooh oleh penulis makanan. Hal itu tidak terlepas dari kemiskinan yang menghancurkan lazzaroni. Pizza bahkan sering disebut makanan yang menjijikan, terutama oleh pengunjung asing.

Pada tahun 1831, Samuel Morse, penemu telegraf, menggambarkan pizza sebagai 'spesies kue yang paling memuakkan. Ditutupi dengan potongan pomodoro atau tomat, dan ditaburi sedikit ikan dan lada hitam dan bahan lainnya, menurut Morse itu sama sekali tampak seperti sepotong roti yang telah diambil dari pembuangan.

Ketika buku masak pertama muncul pada akhir abad ke-19, penulis makanan dengan jelas mengabaikan pizza. Bahkan mereka (para penulis makanan) yang didedikasikan untuk masakan Neapolitan meremehkan untuk menyebutkannya. Padahal saat itu peningkatan ekonomi lazzaroni meningkat dan telah memiliki restoran pizza pertama.

Mulai Menjadi Makanan Berkelas
Semua itu berubah setelah penyatuan Italia. Saat berkunjung ke Naples pada tahun 1889, Raja Umberto I dan Queen Margherita bosan dengan hidangan Prancis yang rumit yang disajikan, baik itu untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Dengan tergesa-gesa dia memanggil pengawalnya untuk menyiapkan beberapa makanan khas setempat.

Pizzaiolo Raffaele Esposito memasak tiga jenis pizza, satu dengan lemak babi, caciocavallo dan basil, satu lagi dengan cecenielli, dan sepertiga dengan tomat, mozzarella dan basil. Ratu sangat senang. Dari sana menandakan suatu perubahan penting. Untuk menghormatinya, bahkan pizza dinamai dengan nama dirinya, yakni pizza margherita.

Segel persetujuan Margherita tidak hanya meningkatkan pizza dari makanan yang hanya cocok untuk lazzaroni menjadi sesuatu yang bisa dinikmati keluarga kerajaan, tetapi juga mengubah pizza dari lokal menjadi hidangan nasional yang sesungguhnya. Ini memperkenalkan gagasan bahwa pizza adalah makanan yang benar-benar Italia, mirip dengan pasta dan polenta. *** (SS)

SHARE