Mirip Maag, Kenali Gelaja Penyakit Jantung Ini | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Mirip Maag, Kenali Gelaja Penyakit Jantung Ini
Sopan Sopian | Sex & Health

Banyak keluhan yang diabaikan pada nyeri ulu hati, apalagai pola makan tidak teratur. Terkadang makan satu hari satu kali, di lain waktu justru makan lebih banyak tak terkira. Kondisi nyeri ulu hati seringkali dianggap sebagai gejala penyakit lambung, padahal nyeri ini  bisa diakibatkan dari penyakit jantung koroner (PJK).

penyakit jantung - male Indonesiapixabay.com

Berbicara lebih lanjut soal keluhan, Anda perlu mengetahui beberapa keluhan yang terjadi akibat tidak teraturnya asupan makanan. Salah satu contoh yang kerap terjadi biasanya ketika habis puasa atau lebaran tiba. Keluhan lambung biasanya meningkat. 

Keluhan-keluhan lambung yang biasanya meningkat antara lain adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang muncul antara satu sampai dua jam setelah makan. Pencetus GERD adalah makanan yang pedas, asam, dan berlemak serta minuman seperti kopi dan teh, juga akibat berbaring setelah makan. Meski demikian GERD akan membaik setelah minum obat antasida.

Keluhan lain yang memiliki akibat dari kopi dan teh, kemudian ditambah lagi makanan pedas, asam, serta berlemak, ditambah dengan jenis obat-obatan tertentu adalah gasritis atau maag. Keluhan ini muncul lebih dari dua jam setelah makan makanan tersebut. Keluhan maag pun akan berkurang setelah minum obat antasida.

Selain itu, batu empedu juga dapat muncul setelah lebih dari dua jam pasca makan dengan pencetus makanan tinggi lemak (santan). Tapi keluhan tidak akan berkurang setelah minum obat antasida.

Keluhan Jantung yang Mirip Maag
Keluhan keempat yang seringkali tidak disadari dan mirip dengan gejala penyakit lambung adalah PJK atau penyakit jantung koroner, yang akan muncul setelah makan dan saat beraktivitas. Meskipun penderita telah minum obat antasida, keluhan akan bertambah.

Dijelaskan oleh dr. Antono Sutandar, SpJP(K), PJK disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner jantung yang membuat jantung kekurangan oksigen serta nutrisi untuk memompa darah.

“Penyempitan atau penyumbatan ini terjadi karena adanya proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah yang berlangsung secara bertahap. Keluhan penderita penyakit jantung koroner bervariasi umumnya berupa nyeri dada yang dirasakan di daerah bawah tulang dada agak ke sebelah kiri dengan rasa seperti beban berat, ditusuk-tusuk, rasa terbakar yang kadang menjalar ke rahang, lengan kiri, dan ke belakang punggung, serta disertai keringat yang banyak,” jelas dr. Antono.

Awalnya kateterisasi dilakukan untuk mengetahui keadaan pembuluh otot jantung, ruang jantung, ukuran tekanan dalam jantung, dan pembuluh darah otot jantung dengan menggunakan selang kecil (kateter) dan sinar X di ruang kateterisasi (cath lab). Selanjutnya, melalui kateter yang sama dapat dilakukan pemasangan stent atau peripheral component interconnect (PCI) untuk membuka penyempitan pembuluh darah koroner jantung. 

Stent memiliki diameter dua hingga empat milimeter yang elastis untuk disesuaikan dengan bentuk pembuluh darah koroner. Jumlah stent yang dipasang bergantung pada kondisi penyempitan pasien.

"Pada kondisi pasien tertentu, operasi coronary artery bypass graft (CABG) lebih dianjurkan untuk membuat pembuluh darah baru dari aorta (pembuluh nadi besar) melewati pembuluh darah koroner yang menyempit sehingga otot-otot jantung mendapat pasokan darah yang cukup untuk kebutuhan kerja jantung,” jelas dr. Maizul Anwar, SpBTKV.

Proses endapan atheroma (lemak) tersebut semakin tebal dan menonjol ke dinding bagian dalam. Ada kalanya lapisan sel yang melapisi dinding bagian dalam pembuluh darah koroner tersebut di atasnya pecah dan diendapi trombosit (keping sel pembekuan darah) yang membentuk bekuan darah yang makin lama makin banyak sehingga akan tertutup total dan terjadilah apa yang disebut serangan jantung akut.

Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan. Terutama mereka yang memiliki pola makan yang tidak teratur, kadang kurang asupan makanan, kadang juga berlebihan. 

Bahkan, disatu waktu terkadang lebih banyak menyantap tak terkendali untuk menyantap berbagai makanan. Jika sebelumnya sudah ada keluhan, jangan tunda lagi untuk segera menghubungi dokter. Karena tubuh yang sehat sangat menunjang aktivitas lebih aman. *** (SS)

SHARE