Kisah di Balik Perbedaan Rasa Teh di Jogja & Jabar | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kisah di Balik Perbedaan Rasa Teh di Jogja & Jabar
Sopan Sopian | Story

Rasa teh yang disajikan oleh penjaja makanan di Jogjakarta dan Jawa Barat akan menyajikan hal berbeda jika Anda tidak meminta minuman teh dengang lengkap. Bisa jadi maksud Anda meminta teh tawar, Anda akan mendapatkan teh manis. Begitu juga sebaliknya.

FOTO: imtheface/flickr

Maka daripada salah pengertian, saat Anda meminta minuman teh saat makan, mintalah secara lengkap, "Saya minta teh manis hangat," atau "Saya minta teh tawar,". Selain itu, khususnya untuk Jogjakarta dan Jawa Tengah, tentunya sudah menjadi rahasia umum, bahwa semua makanan pun terasa manis. Sebut saja, gudeg, tempe bacem, sampai sambal yang tidak terlalu pedas.

Nah, dibalik rasa manis ini salah satu alasannya adalah jenis tanah yang memberikan citarasa atau rasa teh berbeda dari Jogjakarta dan Jawa Barat ini. Hal ini, bermula sejak era tanam paksa yang digagas pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahun 1830 ketika Jawa memasuki era tanam paksa. Gubernur Jenderal Van der Bosch memberlakukan tanam paksa karena Belanda menghadapi masalah keuangan akibat Perang Diponegoro. Berdasarkan kualitas tanah, tanah di Jawa Barat ditanami teh dan kopi sementara di Jawa Tengah hingga Jawa Timur digunakan sebagai lahan penghasil gula alias ditanami tebu.

Teh yang berkualitas baik pun diekspor ke luar negeri sementara gagangnya disisakan untuk pribumi. Gagang teh dan air panas sudah jadi minuman teh. Makanya teh di Jawa Barat terasa begitu tawar. Sementara di Jawa Tengah dan Jawa Timur terjadi bencana kelaparan karena lahan pertanian padinya berubah jadi ladang tebu.

Dulunya, hampir di setiap kabupaten di Jawa Tengah dan Timur dibangun pabrik gula. Makanya tak heran bila makanan di daerah-daerah itu (terutama Jogja) sangat menjunjung cita rasa manis. Sayuran, lauk pauk, minuman, bahkan sambal juga manis. 

Kopi yang dikenal sebagai minuman pahit, pun Gudeg yang sangat manis jadi ikon Kota Jogja. Kalau di Jawa Timur sendiri lebih dominan rasa gurih dan asin karena banyaknya nelayan dan luasnya pesisir, manisnya biasa aja. Sementara di Jawa Barat tidak menyukai makanan manis. Di sana lebih menyukai lalapan dan makanan dengan rasa-rasa yang lebih netral. *** (SS)

SHARE