Hubungan yang Keliru Antara Depresi dan Bunuh Diri - Male Indonesia
Hubungan yang Keliru Antara Depresi dan Bunuh Diri
MALE ID | Sex & Health

Sepanjang bulan Juni 2018, publik dikejutkan dengan beberapa kematian tokoh dunia yang bunuh diri akibat penyakit depresi. Desainer ternama Kate Spade meninggal pada 5 Juni 2018 lalu, sedangkan pakar kuliner Anthony Bourdain menyusul tiga hari kemudian.

penyakit depresi - Male Indonesiapexels.com

Namun sayangnya, banyak orang belum sadar betapa pentingnya masalah penyakit depresi termasuk bagaimana cara mengatasinya.

Ditambah kurangnya dukungan bagi penderita depresi atau gangguan mental, serta stigma negatif yang melekat acapkali membuat mereka enggan mencari solusi dan memilih jalan pintas.

Sebenarnya, banyak fakta keliru terkait penyakit depresi yang senantiasa beredar, seperti diuraikan laman Standard.

Depresi Merupakan Penyakit Turunan
Bila ada riwayat depresi dalam keluarga, besar kemungkinan kita akan mengalaminya sendiri. Namun para ahli kurang yakin, apakah genetika sungguh memengaruhi risiko depresi secara signifikan.

Gangguan mental bisa terjadi tanpa alasan atau sebab yang pasti. Hanya lantaran keluarga menderita depresi, bukan serta merta kita mengalaminya juga.

Orang Depresi Cenderung Lemah
Sebagian penderita depresi takut membicarakan masalahnya karena stigma yang melekat di masyarakat.

Orang-orang berpikir bahwa orang depresi cenderung lemah atau kurang waras. Padahal, penderita depresi yang berusaha mengatasi masalah menunjukkan kekuatan dan ketangguhan luar biasa.

Depresi Bukan Penyakit Nyata
Kendati telah tersedia beragam variasi pengobatan depresi, hal tersebut masih belum tergolong sebagai kondisi medis yang serius.

Pasalnya, berdasarkan laporan NHS, Badan Layanan Kesehatan Inggris, depresi kerap disepelekan dan bukan kondisi kesehatan sebenarnya.

Tentu saja itu adalah pemikiran keliru. Penyakit depresi tergolong nyata, dengan gejala yang benar-benar ada.

Mayo Clinic menyatakan, orang depresi sebenarnya memiliki neurotransmitter dan hormon tak seimbang di otak mereka. Alhasil, suasana hati mereka bertambah buruk.

Melabeli mereka yang menderita gangguan depresi sama saja meremehkan kondisi mereka dan menghalanginya untuk mencari pertolongan.

Anti Depresan Selalu dapat Mengatasi Depresi
Biasanya, dokter memberi resep anti depresan demi menuntaskan gangguan mental yang disebabkan kelainan biologis. Sayangnya, hal ini tidak selalu berhasil.

Beberapa penderita mengaku psikoterapi sebagai cara efektif menurunkan gejala depresi. Kadangkala kita harus mencoba metode berbeda, sebelum menemukan yang paling sesuai.

Penderita Depresi perlu Mengonsumsi Anti Depresan Seumur Hidup
Pengobatan depresi bagi tiap orang berbeda. Ada yang mengonsumsinya dalam jangka waktu pendek, satu tahun, hingga bertahun-tahun. Bahkan sebagian memilih tidak mengonsumsi anti depresan sama sekali.

Durasi pengobatan sangat bervariasi, bergantung pada seberapa parah gangguan tersebut. Tetapi, orang tidak harus mengonsumsinya selama sisa hidup mereka.

Riset menunjukkan, penderita depresi cuma butuh berobat selama 24 minggu dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan. [GP]

SHARE